Rabu, 6 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Musik

Membedah Makna Mendalam di Balik Lagu Monokrom Milik Tulus

Liaa - Wednesday, 06 May 2026 | 12:35 PM

Background
Membedah Makna Mendalam di Balik Lagu Monokrom Milik Tulus

Menemukan Warna di Balik Hitam Putih: Membedah Makna Mendalam di Balik Lagu Monokrom Milik Tulus

Pernah nggak sih, kamu lagi iseng bongkar-bongkar galeri HP atau mungkin kotak kardus berisi album foto fisik yang sudah agak berdebu, terus tiba-tiba nemu foto masa kecil? Foto yang warnanya mungkin sudah agak pudar, atau malah foto hitam putih zaman dulu yang estetiknya nggak karuan. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar, sebuah rasa rindu yang nggak bisa dijelaskan pakai kata-kata, tapi bikin bibir senyum-senyum sendiri. Nah, vibes itulah yang coba ditangkap oleh Tulus lewat mahakaryanya yang berjudul Monokrom.

Kalau kita bicara soal Tulus, kita nggak cuma bicara soal penyanyi dengan suara bariton yang empuk. Kita bicara soal seorang pendongeng. Tulus punya kemampuan ajaib buat mengubah hal-hal sederhana di sekitar kita menjadi sesuatu yang puitis tapi tetep relate sama kehidupan sehari-hari. Monokrom, yang juga jadi judul album ketiganya, bukan cuma sekadar lagu tentang nostalgia tipis-tipis. Di balik aransemen musiknya yang megah dengan sentuhan string section yang bikin merinding, ada pesan terima kasih yang sangat besar.

Bukan Sekadar Nostalgia, Ini Adalah Surat Cinta Terbuka

Seringkali kita terjebak dalam pikiran kalau lagu romantis itu harus tentang pacar atau gebetan yang baru saja menolak cinta kita. Tapi lewat Monokrom, Tulus mendobrak tembok itu. Lagu ini adalah sebuah surat cinta terbuka untuk siapa saja yang pernah hadir dalam hidup kita dan membantu kita jadi versi diri kita yang sekarang. Coba deh dengerin liriknya baik-baik: "Di mana pun kalian berada, ku kirimkan terima kasih."

Kata "kalian" di sini maknanya luas banget. Bisa jadi itu orang tua yang dulunya sabar banget ngadepin kenakalan kita, guru sekolah yang pernah marahin kita demi kebaikan, sahabat yang tetap ada pas kita lagi bokek-bokeknya, atau bahkan mantan yang meski sudah berlalu, tetap meninggalkan pelajaran hidup yang berharga. Tulus seolah-olah pengen bilang kalau kita itu nggak tumbuh sendirian. Kita adalah kumpulan dari doa, dukungan, dan kasih sayang orang-orang di sekitar kita.

Kenapa Harus Monokrom?

Mungkin banyak yang nanya, kenapa sih judulnya harus Monokrom? Kenapa nggak "Warna-warni" atau "Pelangi"? Secara visual, monokrom atau hitam putih seringkali diasosiasikan dengan masa lalu. Namun, kalau kita bedah lebih dalam, foto hitam putih itu punya kekuatan untuk menonjolkan emosi tanpa terdistraksi oleh warna-warni yang mencolok. Fokusnya ada pada ekspresi, tatapan mata, dan momennya itu sendiri.



Dalam lagu ini, Tulus menggunakan metafora "lembar-lembar foto hitam putih" sebagai pengingat akan memori yang abadi. Meski waktu terus berjalan dan dunia makin canggih dengan segala filter estetiknya, kenangan murni bareng orang-orang tersayang itu nggak akan pernah luntur. Monokrom di sini adalah simbol ketulusan yang nggak butuh banyak hiasan. Kadang, hal yang paling sederhana justru yang paling berkesan, kan?

Aransemen yang Bikin "Deep" Banget

Jujur aja, siapa sih yang nggak baper pas denger intro biola di awal lagu ini? Aransemen musik di lagu Monokrom ini bener-bener jenius. Musiknya kerasa megah tapi tetep intim. Ada kesan grande seolah-olah kita lagi berdiri di tengah panggung besar, tapi di saat yang sama, liriknya berbisik langsung ke telinga kita seperti percakapan di kedai kopi sore hari.

Penggunaan alat musik tiup dan gesek memberikan nuansa klasik yang membuat lagu ini terasa timeless. Nggak heran kalau lagu ini sering banget diputar di acara-acara kelulusan sekolah atau pernikahan. Kenapa? Karena lagu ini punya magis yang bisa bikin orang tiba-tiba reflektif. Kita jadi mikir, "Eh, iya ya, gue bisa sampai di titik ini gara-gara siapa ya?"

Pelajaran tentang Rasa Syukur

Di zaman sekarang yang serba cepat, di mana orang lebih sering pamer pencapaian diri sendiri di media sosial (istilah kerennya self-made), lagu Monokrom ini kayak pengingat buat kita untuk tetap rendah hati. Tulus ngajarin kita kalau nggak ada manusia yang benar-benar self-made. Pasti ada campur tangan orang lain dalam kesuksesan kita.

Lagu ini adalah bentuk syukur yang paling tulus. Lewat baris lirik "Lembar monokrom hitam putih, aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu," kita diajak untuk menghargai detail-detail kecil dalam hidup. Mungkin kita lupa apa yang mereka katakan, tapi kita nggak akan pernah lupa gimana mereka bikin kita merasa dihargai dan dicintai.



Kesimpulan yang Hangat

Pada akhirnya, Monokrom bukan cuma lagu yang enak didengar pas lagi hujan atau pas lagi nyetir sendirian di malam hari. Lagu ini adalah sebuah pelukan hangat bagi memori-memori kita. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap langkah kaki kita hari ini, ada jejak-jejak tangan orang lain yang membantu kita tetap berdiri tegak.

Jadi, mumpung hari ini belum berakhir, mungkin ada baiknya setelah dengerin lagu ini kamu coba kirim chat singkat atau telepon orang-orang yang berjasa dalam hidupmu. Nggak perlu puitis banget kayak Tulus, cukup bilang "Makasih ya udah ada buat gue." Karena seperti yang dibilang dalam lagunya, ucapan terima kasih itu adalah cara terbaik untuk mewarnai lembaran monokrom dalam hidup kita.

Buat Tulus, terima kasih ya sudah bikin lagu yang seindah ini. Sebuah pengingat bahwa untuk menjadi manusia yang utuh, kita butuh mengingat kembali siapa-siapa saja yang sudah melukiskan warna di kanvas kehidupan kita, meski lewat foto-foto hitam putih yang sudah lama tersimpan di laci meja.