Manfaat dan Risiko Tidur di Ubin Saat Siang Hari Bolong
Nanda - Tuesday, 07 April 2026 | 01:35 PM


Antara Sejuknya Surga dan Ancaman Masuk Angin
Pernahkah kamu merasa dunia begitu kejam saat cuaca siang hari sedang terik-teriknya? Kipas angin cuma muter-muter nggak jelas, AC di kamar kosan cuma keluar angin sepoi-sepoi yang kalah sama hawa panas dari atap seng. Di saat-saat kritis seperti itu, ubin atau lantai keramik seringkali terlihat seperti oase di tengah padang pasir. Dingin, keras, dan sangat menggoda untuk dijadikan tempat rebahan tanpa alas sama sekali. Rasanya kayak nemu surga dunia yang harganya gratis.
Tapi, kebahagiaan itu biasanya cuma bertahan lima belas menit. Setelah itu, suara legendaris dari ibu atau nenek bakal terdengar melengking: "Heh, jangan tidur di ubin! Nanti masuk angin, atau parahnya bisa kena paru-paru basah!" Seketika, kenyamanan itu buyar. Kita pun terpaksa bangun dengan perasaan dongkol, sambil bertanya-tanya dalam hati: emangnya beneran ya angin bisa 'masuk' lewat pori-pori lantai terus bersarang di badan kita?
Masuk Angin
Mari kita jujur, "masuk angin" itu sebenarnya adalah istilah medis paling ajaib yang cuma dipahami oleh orang Indonesia. Kalau kamu pergi ke dokter di Amerika Serikat terus bilang kamu kena "entry of wind," dokternya mungkin bakal bingung dan nyuruh kamu cek kejiwaan. Di dunia kedokteran internasional, masuk angin itu nggak ada. Yang ada adalah sekumpulan gejala mulai dari mual, perut kembung, pegal-pegal, sampai pusing yang biasanya merujuk pada dispepsia atau gejala awal flu.
Namun, di Indonesia, masuk angin adalah diagnosis mandiri yang sangat sakti. Obatnya? Apalagi kalau bukan kerokan sampai punggung merah mirip rute MRT, atau minum cairan herbal sasetan yang iklannya ada di mana-mana. Masalahnya, ubin seringkali dituding sebagai tersangka utama dibalik fenomena ini. Kenapa? Karena ubin itu dingin, dan dingin selalu identik dengan ketidaknyamanan fisik bagi banyak orang kita.
Fisika Sederhana di Balik Dinginnya Ubin
Secara sains, ubin atau keramik memang punya sifat konduktor panas yang baik. Artinya, dia pinter banget menyerap panas dari benda yang menyentuhnya. Pas kamu nempel di lantai, ubin bakal menyerap panas tubuhmu secara besar-besaran. Proses ini namanya konduksi. Badanmu yang hangat bakal kehilangan suhunya karena "disedot" oleh lantai yang lebih dingin. Inilah alasan kenapa rebahan di ubin kerasa adem banget di awal, tapi lama-kelamaan badan kerasa kaku.
Nah, suhu dingin yang ekstrem atau terpapar dalam waktu lama inilah yang memicu reaksi tubuh. Saat suhu kulit turun secara mendadak, pembuluh darah bakal menyempit (vasokonstriksi). Sirkulasi darah jadi nggak selancar biasanya. Kalau darah nggak lancar, otot-otot jadi tegang dan kaku. Itulah sebabnya kalau kamu kelamaan tidur di lantai, pas bangun badan bukannya seger malah berasa habis digebukin orang sekampung. Pegal semua, Bos!
Perut Kembung dan Mitos Paru-Paru Basah
Bukan cuma otot, perut juga kena imbasnya. Suhu dingin di permukaan perut bisa bikin pergerakan usus jadi melambat atau malah terlalu aktif memproduksi gas. Akhirnya, perut jadi kembung, begah, dan pengennya kentut terus. Inilah yang kita sebut dengan "masuk angin". Jadi, secara teknis, bukan angin dari ubin yang masuk ke badan, tapi suhu dingin dari ubin yang bikin sistem internal tubuh kita protes.
Lalu, gimana soal ancaman "paru-paru basah" alias pneumonia? Banyak ahli medis bilang kalau tidur di ubin secara langsung nggak akan tiba-tiba bikin paru-paru kamu berisi air atau penuh lendir dalam semalam. Pneumonia itu disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur. Tapi dan ini tapi yang penting paparan suhu dingin yang terus-menerus bisa menurunkan sistem imun kita. Kalau imun lagi drop gara-gara kedinginan di lantai, kuman dan virus jadi lebih gampang menyerang. Jadi, ubin bukan penyebab langsung, tapi dia bisa jadi "asisten" yang memperlancar jalan penyakit buat masuk.
Tips Rebahan Tetap Estetik tapi Aman
Kalau kamu tim yang tetap nggak bisa lepas dari dinginnya lantai pas cuaca lagi panas gila, ada beberapa cara biar nggak langsung ditegur orang rumah atau berakhir dengan kerokan semalaman:
- Gunakan Alas Tipis: Cobalah pakai kain jarik, karpet tipis, atau yoga mat. Kamu tetap bakal ngerasain sensasi dingin ubin tapi ada penghalang (barrier) yang mencegah perpindahan suhu secara drastis dari badan ke lantai.
- Jangan Terlalu Lama: Batasi waktu "ngadem" di lantai. Kalau sudah merasa sejuk, pindahlah ke kasur atau sofa. Jangan sampai kebablasan tidur sampai pagi, apalagi kalau cuaca di luar lagi hujan.
- Pakai Baju yang Pas: Kalau emang niatnya mau tiduran di ubin, minimal pakai baju yang menutup area perut dan punggung. Jangan telanjang dada ala bapak-bapak lagi ngeronda, karena itu undangan terbuka buat kembung datang berkunjung.
- Perhatikan Kondisi Badan: Kalau kamu lagi merasa nggak enak badan atau kurang tidur, hindari dulu tidur di lantai. Di saat kondisi drop, ubin yang dingin bisa jadi musuh dalam selimut.
Mitos atau Fakta?
Jadi, apakah benar duduk atau tidur di ubin bisa masuk angin? Jawabannya adalah: Fakta, tapi dengan penjelasan yang berbeda dari mitosnya. Angin nggak "terbang" masuk ke pori-pori kulitmu lewat keramik, tapi suhu dingin dari keramik itulah yang mengganggu metabolisme dan sirkulasi darahmu. Efeknya ya itu tadi: pegal, kembung, dan pusing yang kita labeli sebagai masuk angin.
Memang sih, sensasi dingin ubin itu menggoda banget, apalagi buat kita yang tinggal di negara tropis dengan kelembapan tinggi. Tapi ya jangan abai juga sama kesehatan. Jangan sampai niat hati pengen healing dari hawa panas, eh malah berakhir dengan punggung merah-merah penuh bekas koin karena harus kerokan. Intinya, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, termasuk urusan rebahan di lantai yang dingin itu. Tetap sejuk, tetap sehat, dan jangan lupa dengerin omongan orang tua sesekali, karena biasanya mereka bicara berdasarkan pengalaman panjang soal "per-angin-an" duniawi ini.
Next News

Jantung Aman Kan?' Lagu Baru Fanirahmansyah yang Bikin Hati Tenang
in 5 hours

Baju Putih Lebih Adem, Baju Hitam Lebih Panas, Padahal Bahannya Sama! Kenapa Bisa Begitu?
in 5 hours

Antara Gaya dan Encok: Suka Duka Anak Tropis Nyobain Ski di Pegunungan
in 5 hours

Busa Peredam Suara: Kenapa Bisa Redam Suara Keras Padahal Cuma Busa?
in 5 hours

Jangan Sampai Kena Tipu! 5 Cara Nyentrik Bedain Batu Permata Asli vs Kaleng-Kaleng
in 5 hours

Pahami Arti Vegetarian: Lebih dari Sekadar Tidak Makan Daging
in 5 hours

Rahasia Dibalik Perbedaan Tinggi Badan Saat Beranjak Dewasa
in 5 hours

Cumi vs Gurita: Jangan Sampai Tertukar Pas Makan Seafood!
in 5 hours

Kulkas Bersih Tapi Malah Rusak? Hindari 8 Kesalahan Ini
in 2 hours

Memasak Nasi dengan Ukuran Satu Ruas Jari: Fakta atau Sekadar Mitos?
in an hour





