Kenapa Jengkol Bisa Menimbulkan Aroma Khas? Ini Penjelasannya
Liaa - Monday, 31 August 2026 | 09:50 AM


Jengkol merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki karakter unik. Bagi sebagian orang, aromanya yang kuat bisa terasa menyengat, sementara bagi penggemarnya, aroma tersebut justru menjadi bagian dari kenikmatan menyantap jengkol.
Aroma khas jengkol sebenarnya berkaitan dengan senyawa kimia alami yang terdapat di dalam bijinya. Salah satu kelompok senyawa yang berperan adalah senyawa yang mengandung sulfur.
Senyawa Sulfur Menjadi Salah Satu Penyebabnya
Jengkol mengandung berbagai senyawa sulfur. Ketika jengkol diolah dan terutama setelah dikonsumsi, senyawa-senyawa tersebut dapat mengalami perubahan dan menghasilkan senyawa beraroma kuat.
Senyawa yang mudah menguap kemudian dapat terdeteksi oleh indera penciuman. Inilah salah satu alasan mengapa aroma jengkol dapat begitu mudah dikenali.
Aroma tersebut juga dapat terasa pada napas dan urine setelah seseorang mengonsumsi jengkol. Intensitasnya dapat berbeda-beda, tergantung jumlah jengkol yang dikonsumsi dan kondisi masing-masing orang.
Mengapa Aromanya Bisa Bertahan?
Senyawa penyebab aroma tidak hanya berada di dalam mulut. Setelah dicerna, sebagian hasil metabolisme senyawa tertentu dapat dikeluarkan melalui tubuh, termasuk melalui urine.
Itulah sebabnya aroma jengkol terkadang masih dapat tercium beberapa waktu setelah seseorang selesai makan.
Cara Memasak Dapat Memengaruhi Aroma
Pengolahan juga dapat memengaruhi karakter aroma jengkol. Jengkol yang dimasak dengan berbagai bumbu seperti rempah, cabai, bawang, dan santan akan memiliki aroma yang berbeda dibandingkan jengkol yang hanya direbus atau digoreng.
Meski begitu, karakter khas jengkol biasanya tetap dapat dikenali karena berasal dari senyawa alami yang terdapat di dalam bahan tersebut.
Bukan Berarti Jengkol Tidak Boleh Dikonsumsi
Aroma yang kuat bukan berarti jengkol otomatis berbahaya untuk dikonsumsi. Jengkol dapat menjadi bagian dari makanan, tetapi jumlah konsumsi tetap perlu diperhatikan.
Jengkol juga mengandung asam jengkolat. Pada orang tertentu, konsumsi dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan risiko terbentuknya kristal atau gangguan pada saluran kemih yang berkaitan dengan asam jengkolat.
Karena itu, jengkol sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan baik.
Pada akhirnya, aroma khas jengkol merupakan hasil dari senyawa alami, terutama senyawa yang mengandung sulfur, serta proses metabolisme setelah jengkol dikonsumsi. Keunikan aroma inilah yang membuat jengkol menjadi salah satu bahan pangan yang mudah dikenali dalam kuliner Indonesia.
Next News

Fenomena Risol Mayo, dari Jajanan Rumahan hingga Jadi Kuliner Favorit di Media Sosial
in 7 hours

Mengapa Domba Memiliki Bulu Tebal? Ternyata Bukan Sekadar untuk Menghangatkan Tubuh
in 7 hours

Kenapa Kucing Tiba-Tiba Datang ke Rumah? Bisa Jadi Karena Merasa Aman dan Menemukan Makanan
in 7 hours

Apakah Semua Burung Camar Hidup di Dekat Laut? Ternyata Bisa Ditemukan Jauh dari Pantai
in 7 hours

Bukan Cuma Tempat Menanam Padi, Ini Beragam Hewan yang Hidup di Ekosistem Sawah
in 7 hours

Bendungan Bukan Sekadar Tempat Wisata, Ini Beragam Perannya bagi Kehidupan Masyarakat
in 6 hours

Mengapa Mata dan Hidung Aligator Berada di Atas Kepala? Ini Fungsi Pentingnya
in 6 hours

Mengapa Ular Laut Tidak Mudah Tenggelam? Ini Rahasia Adaptasinya di Dalam Air
in 6 hours

Oyster Hidup di Mana? Mengenal Habitat dan Kehidupan Tiram di Alam
in 6 hours

Mengapa Udang Bisa Hidup di Air Laut hingga Air Tawar? Ini Rahasia Kemampuan Adaptasinya
in 6 hours





