Senin, 31 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Apakah Semua Burung Camar Hidup di Dekat Laut? Ternyata Bisa Ditemukan Jauh dari Pantai

Tata - Monday, 31 August 2026 | 01:55 PM

Background
Apakah Semua Burung Camar Hidup di Dekat Laut? Ternyata Bisa Ditemukan Jauh dari Pantai

Apakah Semua Burung Camar Hidup di Dekat Laut? Ternyata Nggak Melulu Soal Pantai, Sob!

Bayangkan skenario ini: Kamu lagi liburan di Bali, duduk santai di pinggir pantai sambil pegang es kelapa, terus tiba-tiba ada suara melengking dari langit. Kamu dongak, dan di sana ada burung putih abu-abu yang lagi muter-muter cantik. "Wah, burung camar," batinmu. Secara otomatis, otak kita sudah mensinkronkan burung camar dengan aroma air garam, deburan ombak, dan pasir putih. Pokoknya, camar itu ya laut. Titik.

Tapi, pernah nggak sih kamu lagi jalan-jalan di tengah kota yang jauh banget dari pantai—katakanlah lagi di parkiran mal atau area pembuangan sampah—terus tiba-tiba melihat burung yang wujudnya mirip banget sama yang di pantai tadi? Mungkin kamu bakal mikir, "Ini burung lagi nyasar atau gimana? Kasihan amat jauh dari rumah." Nah, di sinilah letak kesalahpahaman kolektif kita selama ini. Ternyata, nggak semua burung camar itu 'anak pantai' sejati, lho.

Label "Seagull" yang Agak Salah Kaprah

Dalam bahasa Inggris, kita sering menyebut mereka seagull. Kata "sea" di depannya secara nggak langsung mengunci identitas mereka sebagai penghuni laut. Padahal, para ahli biologi atau orang-orang yang hobi mengamati burung (birdwatchers) sebenarnya jarang banget pakai istilah seagull. Mereka lebih suka memanggilnya "gulls" saja. Kenapa? Karena marga burung ini, yang masuk dalam famili Laridae, punya spektrum habitat yang luas banget.

Jadi begini, kawan-kawan. Anggaplah burung camar itu seperti anak muda yang fleksibel. Ada yang memang tipenya surfer banget yang betah di pinggir laut, tapi banyak juga yang tipenya "anak kota" yang lebih suka nongkrong di dekat danau, sungai, atau bahkan di pusat keramaian manusia. Mereka ini oportunis sejati. Selama ada makanan dan tempat yang aman buat bertengger, mereka bakal sikat, mau itu di tengah samudera atau di atas gedung parkiran gedung perkantoran.

Kenapa Mereka Bisa Hidup Jauh dari Laut?

Salah satu alasan teknis kenapa camar bisa hidup di mana saja adalah kemampuan biologis mereka yang luar biasa. Burung ini punya kelenjar khusus di atas mata yang fungsinya untuk menyaring garam dari aliran darah mereka. Jadi, kalau mereka minum air laut yang asin itu, mereka nggak bakal dehidrasi. Garamnya bakal dibuang lewat lubang hidung. Canggih, kan? Kayak punya alat desalinasi internal.



Nah, karena punya alat canggih ini, mereka jadi punya pilihan hidup yang luas. Mereka bisa hidup di lingkungan air asin, tapi mereka juga sangat oke hidup di lingkungan air tawar. Nggak kayak ikan laut yang mungkin bakal stres kalau dipindah ke kolam air tawar, burung camar mah santai aja. Ibaratnya, mereka bisa makan di restoran bintang lima, tapi juga doyan banget diajak makan di warteg pinggir jalan.

Menu Makanan: Dari Ikan Sampai Sisa Pizza

Kalau kita bicara soal diet, burung camar ini sebenarnya "tong sampah udara". Di habitat aslinya, mereka memang makan ikan, udang, atau telur burung lain. Tapi begitu mereka mencicipi peradaban manusia, selera mereka jadi makin liar. Pernah lihat video viral burung camar nyolong keripik kentang dari tangan turis? Itu bukan kebetulan.

Di kota-kota besar di Eropa atau Amerika Utara, camar sering banget ditemukan di tempat pembuangan akhir (TPA). Bagi mereka, gunung sampah adalah prasmanan yang nggak ada habisnya. Mereka juga sering nongkrong di ladang pertanian buat makan serangga atau cacing yang muncul saat tanah dibajak. Jadi, motivasi utama mereka pindah ke daratan atau area urban itu sederhana banget: perut kenyang tanpa perlu capek-capek berburu di tengah badai laut.

Spesies yang Berbeda-beda Karakter

Perlu kita tahu juga kalau jenis camar itu banyak banget, ada puluhan spesies. Dan masing-masing punya "vibe" tempat tinggal yang beda. Contohnya:

  • Camar Herring (Larus argentatus): Ini jenis yang paling sering kita lihat di film-film. Mereka memang suka di pantai, tapi sekarang sudah banyak yang jadi penduduk tetap di kota-kota pelabuhan dan bersarang di atap rumah warga.
  • Camar Ring-billed: Nah, yang satu ini sering banget ditemukan di pedalaman. Mereka betah di padang rumput, tempat parkir mall, dan danau-danau air tawar yang jaraknya ribuan kilometer dari laut.
  • Camar Franklin: Spesies ini malah lebih suka bersarang di rawa-rawa pedalaman selama musim kawin.

Jadi, kalau kamu lagi di tengah benua yang nggak ada lautnya sama sekali dan melihat burung camar, jangan panik. Mereka nggak lagi tersesat. Mereka mungkin cuma lagi merasa kalau hidup di dekat manusia itu lebih praktis daripada harus berantem sama ombak setiap hari.



Adaptasi yang Luar Biasa (Atau Malah Mengganggu?)

Jujur aja, di beberapa negara, keberadaan camar di area perkotaan ini sering dianggap gangguan. Mereka berisik, suka buang kotoran sembarangan (yang sifatnya korosif dan bisa ngerusak cat mobil, lho!), dan yang paling parah, mereka bisa jadi agresif kalau lihat orang bawa makanan. Mereka itu preman udara yang nggak punya rasa takut.

Tapi kalau dilihat dari sudut pandang evolusi, ini tuh keren banget. Di saat banyak hewan lain punah karena habitat aslinya hilang, burung camar justru bilang, "Oke, kalian bangun gedung di sini? Ya udah, gue tinggal di atapnya aja." Mereka sukses beradaptasi dengan perubahan zaman. Mereka mengubah krisis lahan menjadi peluang bisnis makanan sisa.

Kesimpulan: Jangan Terjebak Nama

Akhir kata, jawaban dari pertanyaan "Apakah semua burung camar hidup di dekat laut?" adalah TIDAK. Sebutan "burung laut" atau "seagull" itu cuma generalisasi yang kita buat supaya gampang diingat saja. Kenyataannya, camar adalah salah satu makhluk paling adaptif di planet ini.

Lain kali kalau kamu melihat mereka, anggaplah mereka sebagai pengingat bahwa alam itu fleksibel. Nggak semua yang punya label "laut" harus selamanya basah-basahan di pantai. Kadang-kadang, hidup di dekat tukang gorengan atau di atas atap gudang jauh lebih menjanjikan daripada berburu ikan di tengah samudra yang luas. Jadi, jangan heran ya kalau ketemu mereka lagi "nongkrong" di tempat yang menurutmu nggak nyambung sama sekali!