Kenapa Berat Badan Bisa Naik Meski Makan Terasa Sedikit? Ini yang Sering Tidak Disadari
RAU - Tuesday, 28 April 2026 | 04:19 AM


Keluhan seperti "padahal saya makannya sedikit, kok berat badan tetap naik?" merupakan hal yang sangat sering terjadi.
Banyak orang langsung merasa bingung dan frustrasi karena merasa sudah membatasi porsi makan, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.
Faktanya, *berat badan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita makan, tetapi juga oleh metabolisme tubuh, kualitas tidur, tingkat stres, komposisi tubuh, serta kondisi hormonal.*
Salah satu penyebab paling umum adalah *metabolisme yang melambat.*
Saat seseorang terlalu sering mengurangi makan secara ekstrem, sering melewatkan waktu makan, atau menjalani diet ketat dalam waktu lama, tubuh bisa masuk ke mode "hemat energi".
Dalam kondisi ini, tubuh membakar kalori lebih sedikit untuk mempertahankan fungsi dasarnya.
Akibatnya, meski makan terasa sedikit, kalori yang masuk tetap lebih mudah disimpan sebagai cadangan lemak.
Selain itu, *massa otot yang rendah juga memengaruhi berat badan.*
Otot membakar lebih banyak kalori dibanding lemak, bahkan saat tubuh sedang beristirahat. Jika aktivitas fisik minim atau jarang melakukan latihan kekuatan, massa otot bisa berkurang dan laju metabolisme ikut menurun.
Faktor lain yang sering tidak disadari adalah *kalori tersembunyi.*
Banyak orang merasa sudah makan sedikit, tetapi tanpa sadar mengonsumsi minuman manis, kopi susu, camilan kecil, saus, atau makanan ringan yang kalorinya cukup tinggi.
Kadang jumlah makanan utama memang sedikit, tetapi tambahan-tambahan kecil inilah yang membuat total kalori harian meningkat.
*Kualitas tidur juga memegang peran besar.*
Kurang tidur dapat mengganggu hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, seperti ghrelin dan leptin. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lapar, lebih sering ngemil, dan tubuh cenderung menyimpan lemak lebih banyak.
*Stres kronis juga sering menjadi penyebab yang diam-diam berpengaruh.*
Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol lebih tinggi. Hormon ini dapat meningkatkan nafsu makan dan mendorong penumpukan lemak, terutama di area perut.
Pada sebagian orang, *kondisi medis tertentu seperti hipotiroid, PCOS, resistensi insulin, atau efek samping obat tertentu juga dapat menyebabkan berat badan naik* meski pola makan tidak berubah banyak.
Karena itu, fokus tidak seharusnya hanya pada "makan sedikit", tetapi juga pada kualitas tidur, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan pola makan yang seimbang.
Next News

Mitos atau Fakta: Kenapa Orang Dewasa Masih Bisa Cacingan?
in 7 hours

Mengenal Sinusitis: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Membedakan Akut vs Kronis
in 6 hours

Sejarah Jam Gadang Bukittinggi: Ikon Legendaris Sumatera Barat, Hadiah Ratu Belanda & Mesin Kembar Big Ben
in 6 hours

16 Destinasi Wisata Sumatera Barat Paling Ikonik: Dari Jam Gadang hingga Mentawai yang Mendunia
in 6 hours

Sejarah Penemuan Bahan Bakar dan Perkembangan Energi di Dunia
in 6 hours

Makna Lagu "Menari-nari" Raim Laode: Kisah Kenangan, Rasa Rindu, dan Proses Ikhlas
in 6 hours

Asal Usul Pekanbaru, Kota Bertuah yang Menjadi Kebanggaan Masyarakat Melayu Riau
in 6 hours

Kenapa Warna Kulit Manusia Berbeda-Beda? Ini Penjelasan Ilmiah yang Perlu Kamu Tahu
in 6 hours

Tahuri, Terompet Kerang Khas Maluku yang Menjadi Simbol Tradisi dan Komunikasi Leluhur
in 5 hours

Merokok untuk Redakan Stres: Mitos atau Fakta yang Perlu Kamu Tahu?
in 5 hours





