Kenapa Autisme Lebih Sering Terdiagnosis pada Anak Laki-Laki? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Tata - Saturday, 22 August 2026 | 08:55 AM


Kenapa Autisme Lebih Sering Nyasar ke Anak Laki-laki? Bukan Mitos, Ini Penjelasannya
Pernah nggak sih kalian lagi asyik nongkrong di kafe atau lagi scroll media sosial, terus nggak sengaja denger obrolan soal dunia parenting yang makin ke sini makin kompleks? Salah satu topik yang sering banget seliweran adalah soal Autism Spectrum Disorder atau ASD. Ada sebuah anggapan yang sudah lama beredar kalau anak laki-laki itu jauh lebih berisiko kena autisme dibanding anak perempuan. Pertanyaannya, ini cuma mitos atau emang beneran fakta medis?
Jujurly, kalau kita lihat data di lapangan, jawabannya adalah fakta. Secara statistik, anak laki-laki memang punya kemungkinan lebih besar terdiagnosis autisme. Rasio yang sering disebut para ahli itu sekitar 4 banding 1. Artinya, setiap empat anak laki-laki yang didiagnosis autis, cuma ada satu anak perempuan yang dapet diagnosis serupa. Tapi, kenapa bisa gitu? Apakah ini gara-gara anak laki-laki emang lebih "ringkih" secara genetik, atau ada faktor lain yang tersembunyi?
Bukan Sekadar Nasib, Ada Urusan Genetik di Baliknya
Kalau kita mau bedah secara ilmiah tapi nggak bikin pusing, alasannya salah satunya ada di kromosom. Kita semua tahu kalau laki-laki punya kromosom XY dan perempuan punya XX. Nah, beberapa peneliti berpendapat kalau perempuan punya semacam "pelindung" alami karena mereka punya dua kromosom X. Kalau ada mutasi genetik di salah satu kromosom X yang berisiko memicu autisme, kromosom X satunya lagi bisa jadi cadangan atau penyeimbang.
Sementara itu, anak laki-laki cuma punya satu kromosom X. Begitu ada "glitch" atau masalah di sana, mereka nggak punya cadangan untuk nutupin itu. Kasarnya, laki-laki nggak punya ban serep genetik. Teori ini sering disebut sebagai Female Protective Model. Jadi, secara biologis memang ada kerentanan yang lebih tinggi pada kaum adam sejak mereka masih dalam bentuk janin sekalipun.
Selain itu, ada juga teori soal hormon testosteron. Beberapa studi menyebutkan kalau paparan hormon testosteron yang tinggi saat di dalam kandungan bisa memengaruhi perkembangan otak dengan cara tertentu yang berkaitan dengan ciri-ciri autisme. Tapi ya itu tadi, sains itu dinamis, penelitian soal ini masih terus berkembang biar kita nggak asal telan informasi mentah-mentah.
Fenomena "Masking": Kenapa Anak Perempuan Sering Lolos dari Radar?
Nah, ini bagian yang paling menarik dan sedikit menyedihkan. Banyak ahli mulai curiga kalau sebenarnya jarak risiko antara laki-laki dan perempuan itu nggak sejauh yang kita kira. Bisa jadi, anak perempuan yang autis itu jumlahnya banyak, tapi mereka pinter banget "akting". Fenomena ini namanya masking atau kamuflase sosial.
Sejak kecil, anak perempuan biasanya dididik untuk lebih peka secara sosial, harus murah senyum, dan harus bisa nyambung kalau diajak ngobrol. Akhirnya, anak perempuan dengan autisme belajar buat meniru perilaku teman-temannya yang "normal". Mereka maksa diri buat kontak mata, ngikutin tren obrolan, padahal di dalem hati mereka capek banget karena itu bukan sifat alami mereka.
Beda cerita sama anak laki-laki. Kalau anak laki-laki lagi pengen menyendiri atau cuma mau ngomongin soal lokomotif kereta api selama berjam-jam tanpa peduli lawan bicaranya bosen, orang tua biasanya langsung sadar ada yang "beda". Gejala autisme pada laki-laki cenderung lebih terlihat jelas atau textbook, makanya mereka lebih cepat didiagnosis.
Standar Diagnosis yang Mungkin "Laki Banget"
Ada lagi satu opini yang cukup kuat di kalangan komunitas autisme: alat tes dan kriteria diagnosisnya mungkin terlalu condong ke karakteristik laki-laki. Karena sejarahnya penelitian autisme lebih banyak melibatkan subjek laki-laki, kriteria yang muncul jadi sangat maskulin. Misalnya, obsesi pada benda mati atau angka.
Padahal, anak perempuan autis mungkin nggak obsesi sama jadwal kereta, tapi mereka bisa jadi obsesi banget sama hewan peliharaan, selebriti, atau fiksi dengan cara yang nggak lazim. Karena minatnya terlihat "biasa" bagi anak perempuan, orang tua dan dokter seringkali nggak curiga kalau itu adalah salah satu tanda spektrum autisme. Alhasil, banyak perempuan yang baru sadar kalau mereka autis saat sudah dewasa, setelah bertahun-tahun merasa "salah kostum" di dunia ini.
Jangan Panik, Tapi Tetap Waspada
Buat para orang tua yang punya bayi laki-laki, membaca fakta kalau anak laki-laki lebih berisiko autisme mungkin bikin parno. Tapi tenang dulu, poin utamanya bukan buat nakut-nakutin. Mengetahui fakta ini justru jadi modal buat kita lebih aware sama tumbuh kembang anak sejak dini.
Autisme itu bukan akhir dari segalanya. Sekarang sudah banyak banget terapi dan sistem pendukung yang bisa bikin anak-anak dengan spektrum ini tetap bersinar dengan cara mereka sendiri. Yang penting adalah deteksi dini. Kalau anak laki-laki kalian belum bisa nunjuk benda di usia 12 bulan, nggak ada kontak mata, atau punya gerakan yang diulang-ulang secara nggak wajar, nggak ada salahnya buat konsul ke dokter anak.
Jadi, apakah bayi laki-laki lebih berisiko? Faktanya iya, secara statistik dan biologis. Tapi, kita juga harus mulai membuka mata kalau anak perempuan juga punya risiko yang sama, cuma seringkali mereka tersembunyi di balik ekspektasi sosial yang menuntut mereka tampil sempurna. Intinya, mau laki-laki atau perempuan, setiap anak itu unik. Tugas kita sebagai orang dewasa cuma satu: memahami bahasa mereka, meskipun bahasa itu nggak selalu lewat kata-kata.
Dunia ini luas, dan spektrum autisme cuma salah satu warna di dalamnya. Nggak perlu dilabeli sebagai "kutukan" atau "beban". Dengan edukasi yang bener, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih ramah buat siapa pun, tanpa peduli berapa jumlah kromosom X yang mereka punya atau seberapa jago mereka melakukan masking di sekolah.
Next News

6 Kebiasaan yang Sering Dianggap Aneh, Ternyata Bisa Berkaitan dengan Cara Berpikir Kreatif
in 7 hours

Jangan Tunggu Bulu Sikat Mekar! Ini Waktu yang Tepat untuk Ganti Sikat Gigi
in 7 hours

Nasi Putih Bukan Musuh! 4 Trik Sederhana Bikin Dampaknya ke Gula Darah Lebih Terkendali
in 6 hours

Kuliah Capek-Capek, Jangan Sampai Lulus Malah Bingung Cari Kerja! Ini 10 Jurusan dengan Prospek Karier Menjanjikan
in 5 hours

Jangan Anggap Sepele, Ini 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai sebagai Gejala Kanker Paru-Paru
in 5 hours

Anggur Shine Muscat Ramai Dibahas, Benarkah Ada Risiko Residu Pestisida? Ini yang Perlu Diketahui
in 5 hours

Jangan Cuma Pikirkan Rasanya, 6 Jenis Makanan Ini Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Jika Dikonsumsi Berlebihan
in 4 hours

Mitos atau Fakta? 3 Makanan yang Sebaiknya Tak Berlebihan Dicampur dengan Mie Instan
8 hours ago

Sering Menguap Bukan Selalu Karena Ngantuk, Kenali Penyebab dan Kapan Harus Waspada
9 hours ago

Makan Tahu Setiap Hari, Apa Manfaatnya? Ini Dampaknya bagi Tubuh dan Hal yang Perlu Diperhatikan
9 hours ago





