Sabtu, 22 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Anggur Shine Muscat Ramai Dibahas, Benarkah Ada Risiko Residu Pestisida? Ini yang Perlu Diketahui

Tata - Saturday, 22 August 2026 | 09:00 AM

Background
Anggur Shine Muscat Ramai Dibahas, Benarkah Ada Risiko Residu Pestisida? Ini yang Perlu Diketahui

Drama Anggur Shine Muscat: Antara Gengsi, Rasa Manis, dan Ketakutan Residu Pestisida

Siapa sih yang nggak kenal sama anggur Shine Muscat? Buah yang satu ini sempat jadi primadona di media sosial, mulai dari TikTok sampai Instagram. Warnanya yang hijau glowing, ukurannya yang montok, tekstur renyah alias krenyes saat digigit, plus bonus nggak ada bijinya, bikin anggur ini jadi camilan idaman. Dulu, anggur ini dianggap sebagai buah kasta sultan karena harganya yang bisa bikin dompet nangis. Tapi belakangan, harganya makin merakyat dan bisa ditemukan di lapak pinggir jalan sekalipun.

Namun, di tengah euforia warga yang lagi asyik menikmati manisnya buah ini, mendadak muncul kabar yang bikin seleran makan langsung drop. Kabar burung—yang ternyata bukan sekadar hoaks—datang dari negeri tetangga, Thailand. Kabarnya, ditemukan residu pestisida berbahaya pada sampel anggur Shine Muscat yang beredar di sana. Sontak saja, netizen Indonesia yang terkenal paling gercep soal isu kesehatan (dan paling gampang panik) langsung heboh. Grup WhatsApp keluarga pun penuh dengan pesan berantai bermuara pada satu kesimpulan: anggur cantik ini ternyata beracun.

Awal Mula Prahara dari Thailand

Keriuhan ini bermula ketika Thai Pesticide Alert Network (Thai-PAN) merilis hasil uji laboratorium terhadap 24 sampel anggur Shine Muscat yang diambil dari berbagai tempat, mulai dari ritel modern sampai pasar tradisional. Hasilnya mengejutkan banget: 23 dari 24 sampel itu terdeteksi mengandung residu kimia yang melampaui batas aman. Bahkan, ada zat bernama Chlorpyrifos yang dilarang di beberapa negara karena sifatnya yang berisiko bagi saraf.

Logikanya gini, kalau di Thailand saja begitu, gimana dengan yang masuk ke Indonesia? Apalagi kita tahu sebagian besar anggur Shine Muscat yang harganya murah meriah belakangan ini diimpor dari China. Ketakutan kolektif ini wajar banget, sih. Bayangkan, kita niatnya mau hidup sehat dengan makan buah, eh malah setor zat kimia ke dalam tubuh. Istilahnya, niat hati mau glowing lewat asupan vitamin, malah jadi 'glo-wing' alias melayang karena keracunan residu pestisida.

Kenapa Sih Harus Pakai Pestisida Berlebihan?

Mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya, "Kenapa sih petani nggak pakai cara alami aja?" Jawabannya klasik: urusan perut dan bisnis. Menanam anggur itu nggak gampang. Hama dan jamur selalu mengintai. Supaya hasilnya mulus, cantik, dan bisa dikirim jauh ke luar negeri tanpa busuk, pestisida sering kali jadi jalan pintas. Masalahnya, terkadang penggunaannya kebablasan demi mengejar target pasar global yang menuntut buah dengan penampilan sempurna tanpa cela.



Kita sebagai konsumen sering kali terjebak pada penampilan fisik. Kita mau buah yang besar, warna cerah, dan tanpa cacat sedikit pun. Padahal, di balik kemulusan itu, bisa jadi ada lapisan "skincare kimia" yang dosisnya nggak main-main. Fenomena anggur Shine Muscat ini jadi tamparan buat kita semua bahwa yang cantik di luar belum tentu aman di dalam.

Respons di Tanah Air: Antara Parno dan Tetap Santai

Di Indonesia, isu ini langsung ditanggapi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Badan Pangan Nasional (Bapanas). Mereka bergerak melakukan investigasi dan uji sampling. Menariknya, respons netizen terbelah jadi dua kubu. Kubu pertama adalah kaum "auto-buang". Mereka yang baru saja beli anggur ini langsung merasa parno dan membuang buahnya ke tong sampah tanpa babibu. "Nyawa lebih berharga daripada anggur harga promo," begitu pikir mereka.

Kubu kedua adalah kaum "sayang dibuang". Mereka tetap tenang sambil mencari cara gimana cara mencuci buah yang benar. Ada yang merendam pakai garam, cuka apel, sampai baking soda. Prinsipnya simpel: kalau sudah terlanjur beli, ya dimasak—eh, dibersihkan sebersih mungkin. Toh, selama ini kita juga mungkin sudah sering makan sayuran yang residu pestisidanya nggak kalah ngeri tapi nggak viral aja.

Gimana Cara Kita Menghadapinya?

Sebenarnya, kita nggak perlu langsung anti-buah impor atau jadi paranoid berlebihan. Yang paling penting adalah jadi konsumen yang cerdas dan nggak malas. Ada beberapa langkah yang bisa kita ambil supaya tetap bisa makan buah dengan rasa aman:

  • Cuci dengan Benar: Jangan cuma dibilas air keran sebentar. Rendam buah dalam larutan air yang dicampur baking soda atau garam selama 10-15 menit. Zat basa dari baking soda diklaim cukup efektif meluruhkan sisa pestisida di kulit buah.
  • Kupas Kulitnya: Meskipun sensasi makan Shine Muscat itu ada pada kulitnya yang renyah, kalau memang merasa ragu, nggak ada salahnya dikupas. Memang jadi kurang estetik, tapi jauh lebih aman.
  • Pilih Produk Lokal: Ini momen yang pas buat melirik buah lokal. Kita punya banyak varietas anggur atau buah lain yang nggak kalah enak. Setidaknya, rantai distribusinya lebih pendek, jadi penggunaan pengawet atau pestisida berlebih untuk perjalanan jauh bisa diminimalisir.
  • Pantau Informasi Resmi: Jangan langsung telan mentah-mentah kabar dari grup WhatsApp yang sumbernya nggak jelas. Tunggu rilis resmi dari instansi terkait seperti BPOM atau Kemenkes.

Pelajaran di Balik Fenomena Anggur Viral

Kasus anggur Shine Muscat ini sebenarnya adalah alarm buat kita semua tentang pentingnya keamanan pangan. Kita sering kali terlalu fokus pada tren makanan atau buah-buahan yang lagi "hype" tanpa benar-benar tahu dari mana asal-usulnya dan bagaimana proses produksinya. Gengsi makan buah mahal atau buah impor itu sah-sah saja, tapi kesehatan tetap jadi prioritas utama.



Dunia pangan global memang kompleks. Di satu sisi kita ingin ketersediaan pangan yang melimpah dan murah, di sisi lain ada risiko dari penggunaan bahan kimia demi mengejar kuantitas tersebut. Sebagai konsumen, senjata terkuat kita adalah informasi dan kehati-hatian. Jangan sampai kita jadi korban dari tren yang sebenarnya membahayakan diri sendiri.

Akhir kata, buat kamu yang masih punya stok anggur Shine Muscat di kulkas, jangan langsung panik luar biasa. Cuci bersih-bersih, atau kalau memang ragu banget, mending diberikan ke tanaman sebagai pupuk organik (eh, tapi pestisidanya gimana ya?). Intinya, makanlah dengan bijak. Hidup sudah penuh tekanan, jangan ditambah lagi dengan tekanan batin gara-gara anggur yang katanya beracun tapi godaan manisnya selangit. Tetap sehat dan tetap kritis, ya!