Kemarau 2026 dan Krisis Air di Sejumlah Wilayah Indonesia
RAU - Saturday, 07 March 2026 | 07:57 AM


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 di Indonesia berpotensi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Prediksi ini menjadi perhatian karena kemarau yang lebih ekstrem dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air bersih hingga produksi pangan.
Berdasarkan analisis iklim terbaru, sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026. Sekitar 46,5 persen zona musim di Indonesia diprediksi mengalami kemarau lebih awal dari biasanya.
Wilayah yang diperkirakan lebih cepat memasuki kemarau antara lain:
•sebagian besar Sumatra
•Jawa
•Bali
•Nusa Tenggara
•sebagian Kalimantan dan Sulawesi
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.
Selain datang lebih awal, BMKG juga memperkirakan kondisi kemarau tahun ini cenderung lebih kering dari rata-rata tahunan.
Hal ini disebabkan oleh dinamika suhu permukaan laut dan perubahan pola angin muson yang membawa udara lebih kering ke wilayah Indonesia.
Akibatnya, curah hujan di beberapa daerah diprediksi berada di bawah normal selama musim kemarau berlangsung.
Kemarau panjang dapat berdampak langsung pada ketersediaan air.
Jika curah hujan menurun dalam waktu lama, beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain:
•sumur warga mengering lebih cepat
•debit sungai dan waduk menurun
•berkurangnya pasokan air bersih
Wilayah yang bergantung pada sumber air tadah hujan menjadi yang paling rentan mengalami kekeringan.
Dalam kondisi tertentu, kekeringan juga dapat memicu krisis air bersih di daerah pedesaan maupun perkotaan.
Selain krisis air, kemarau panjang juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian.
Tanaman pangan seperti padi sangat bergantung pada ketersediaan air. Jika musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya, hasil panen bisa menurun.
Di sisi lain, kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki banyak lahan gambut.
Karena itu, pemerintah dan masyarakat diimbau mulai melakukan langkah antisipasi seperti pengelolaan air yang lebih efisien dan penyesuaian jadwal tanam.
Next News

Dilema di Depan Rak Telur: Pilih Si Kampung yang Klasik atau Omega yang Mewah?
6 hours ago

Siang Bolong, Es Cincau, dan Dilema Klasik: Apa Sih Bedanya Cincau Hijau dan Hitam?
6 hours ago

Bedanya Arabika dan Robusta: Pilih Mana yang Pas Buat Teman Ngopi Kamu?
6 hours ago

Kudapan Sejuta Umat: 7 Resep Kue Bawang Renyah yang Bikin Mulut Nggak Bisa Berhenti Ngunyah
6 hours ago

Salad Terong Panggang: Ketika Si "Warga Kelas Dua" Naik Kelas Jadi Bintang Meja Makan
6 hours ago

Kopi Rempah: Balada Kafein dan Kearifan Lokal yang Bikin Imun Gak Kaleng-Kaleng
6 hours ago

Kota Tertua yang Masih Dihuni di Dunia
18 hours ago

Kenapa Sering Terjadi Gempa di Jepang?
18 hours ago

Tips Menjaga Rumah Tetap Sejuk Saat Cuaca Panas
18 hours ago

Negara dengan Hari Terpanjang dan Terpendek di Dunia
19 hours ago





