Jumat, 14 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Islam Mengajarkan Moderasi, Bukan Berlebihan dalam Menjalani Hidup

Liaa - Friday, 14 August 2026 | 11:10 AM

Background
Islam Mengajarkan Moderasi, Bukan Berlebihan dalam Menjalani Hidup

Islam Itu Bukan Soal Ngegas, Tapi Soal Pas: Belajar Moderasi Biar Nggak Gampang Burnout

Pernah nggak sih kamu lihat teman atau kenalan yang tiba-tiba "hijrah" tapi langsung jadi sosok yang super kaku? Hari ini ketemu, besoknya dia sudah mulai hobi menghakimi hobi orang lain, menganggap semua hal yang berbau duniawi itu haram, sampai-sampai lupa kalau dia masih tinggal di bumi, bukan di khayangan. Fenomena ini sering banget kita temui di media sosial. Di satu sisi ada yang cuek banget sama agama, di sisi lain ada yang "ngegas" pol-polan sampai bikin orang di sekitarnya merasa gerah. Padahal, kalau kita mau ulik lagi, Islam itu sebenarnya nggak pernah minta kita jadi orang yang ekstrem kanan atau ekstrem kiri.

Dalam istilah kerennya, Islam itu mengajarkan "Wasathiyah" atau moderasi. Tapi jangan salah kaprah, moderasi di sini bukan berarti kita jadi penganut agama yang setengah-setengah atau plin-plan. Bukan juga berarti kita boleh "diskon" ibadah seenaknya. Moderasi itu tentang keseimbangan. Ibarat masak nasi goreng, kalau kebanyakan garam jadi asin banget, kalau nggak ada garam ya hambar. Nah, Islam itu bumbunya yang pas. Nggak berlebihan, tapi tetep berasa nikmatnya.

Cerita Tiga Sahabat yang Ditegur Nabi

Ada satu cerita menarik dari zaman Nabi Muhammad SAW yang relevan banget buat kita bahas sekarang. Jadi, dulu ada tiga orang sahabat yang semangatnya lagi berapi-api buat ibadah. Yang satu bilang, "Aku mau salat malam terus dan nggak mau tidur." Yang kedua bilang, "Aku mau puasa setiap hari tanpa bolong." Terus yang ketiga nggak mau kalah, "Aku nggak mau nikah supaya fokus ibadah." Wah, kalau dilihat sekilas, mereka ini terlihat religius banget, kan? Tipe-tipe orang yang kalau di zaman sekarang mungkin bio Instagram-nya penuh dengan jargon-jargon akhirat.

Tapi apa respons Nabi? Beliau justru nggak senang. Nabi bilang kalau beliau sendiri salat malam tapi juga tidur, beliau puasa tapi juga berbuka, dan beliau juga menikah. Kalimat pamungkas Nabi waktu itu simpel tapi nampol: "Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan bagian dariku." Pesannya jelas, lho. Berlebihan dalam beragama sampai mengabaikan hak tubuh dan hak sosial itu justru bukan jalannya Nabi. Jadi, kalau ada orang yang ibadahnya kencang tapi cuek sama anak istri, atau saking asyiknya zikir sampai lupa kerja cari nafkah, itu namanya "over-acting" yang nggak pada tempatnya.

Kenapa Sih Kita Suka Berlebihan?

Kalau kita perhatikan, kecenderungan buat jadi ekstrem itu biasanya muncul karena rasa semangat yang meledak-ledak tapi nggak dibarengi sama ilmu yang luas. Istilahnya, semangatnya 100 persen, pemahamannya baru 5 persen. Akhirnya apa? Kita jadi gampang "cherry-picking" alias cuma ambil ayat atau hadis yang mendukung ego kita buat kelihatan paling suci. Kita lupa kalau Islam itu sistem yang lengkap. Ada urusan sama Tuhan (Hablum Minallah), tapi ada juga urusan sama sesama manusia (Hablum Minannas).



Dunia modern sekarang juga bikin kita sering merasa "insecure". Karena hidup makin kacau, banyak orang lari ke agama tapi dengan cara yang salah; menjadikannya tameng buat membenci hal-hal yang berbeda atau pelarian dari tanggung jawab hidup. Padahal, beragama itu seharusnya bikin kita makin tenang, makin bijak, dan makin merangkul. Kalau beragama justru bikin kita makin pemarah dan gampang merasa superior, mungkin ada yang salah dengan cara kita memahami moderasi tersebut.

Menikmati Dunia Tanpa Lupa Akhirat (dan Sebaliknya)

Islam itu asyik karena kita nggak dilarang buat menikmati dunia. Mau ngopi di cafe estetik? Boleh. Mau hobi main game atau koleksi sepatu? Silakan, asal nggak berlebihan sampai lupa waktu salat atau mengabaikan sedekah. Dalam Al-Qur'an pun disebutkan, "Carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." Tuh, eksplisit banget kan? Kita disuruh seimbang.

Bayangkan kalau semua orang di dunia ini cuma mau di masjid terus. Siapa yang jadi dokter? Siapa yang jadi insinyur yang bikin jembatan? Siapa yang jadi barista yang bikin kopi enak buat kita? Semua profesi itu, kalau diniatkan buat manfaat orang banyak, ya jadi ibadah juga. Inilah esensi moderasi. Kita menjadi "hamba Tuhan" sekaligus "penduduk bumi" yang fungsional. Nggak perlu merasa berdosa kalau sesekali pengen healing atau liburan, asalkan tetap ingat garis-garis besar yang sudah ditentukan agama.

Moderasi Itu Tantangan, Bukan Jalan Pintas

Jujur saja, jadi orang yang moderat itu jauh lebih sulit daripada jadi orang ekstrem. Kenapa? Karena moderat butuh kontrol diri. Menjadi ekstrem itu gampang; tinggal gas pol satu arah saja. Tapi menjadi moderat itu ibarat nyetir mobil di jalan raya yang padat; kita harus tahu kapan harus injak gas, kapan harus ngerem, dan kapan harus lihat spion. Kita harus terus-menerus menimbang-nimbang mana yang lebih prioritas.

Di era sekarang, menjadi moderat artinya kita harus siap disebut "kurang religius" oleh mereka yang ekstrem kanan, dan disebut "terlalu kaku" oleh mereka yang terlalu bebas. Tapi ya sudahlah, biarin aja. Yang penting kita tahu kalau prinsip hidup kita itu berlandaskan pada kasih sayang dan keseimbangan. Islam adalah agama yang memudahkan, bukan menyulitkan. Kalau kita merasa beragama itu jadi beban yang berat banget sampai bikin depresi, mungkin kita lagi nggak menjalani Islam yang diajarkan Nabi, tapi lagi menjalani ego kita sendiri yang dibungkus label agama.



Jadi, yuk mulai sekarang kita belajar buat lebih santuy tapi tetap pada koridor. Nggak usah muluk-muluk pengen jadi suci dalam semalam terus besoknya malah burnout dan balik lagi ke maksiat. Mending dikit-dikit, konsisten, dan tetap jadi manusia yang menyenangkan buat lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat buat orang lain, bukan yang paling jago menghakimi orang lain.

Tags