Jumat, 14 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Ketika Anak Lebih Dekat dengan Gadget daripada Orang Tua

Laila - Friday, 14 August 2026 | 12:00 PM

Background
Ketika Anak Lebih Dekat dengan Gadget daripada Orang Tua

Hape Terus, Orang Tua Kapan? Dilema Anak Zaman Now yang Lebih Akrab Sama Layar

Bayangin situasi ini: Sebuah meja makan di akhir pekan. Ada ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki usia sekolah dasar. Di atas meja ada ayam goreng krispi, sambal bawang yang aromanya menggoda, dan es teh manis yang embunnya menetes segar. Harusnya ini jadi momen hangat buat ngobrolin gimana sekolah tadi siang atau rencana liburan minggu depan. Tapi nyatanya? Hening. Si ayah sibuk scrolling berita politik, si ibu asyik mantau grup WhatsApp arisan, dan si anak? Matanya nggak lepas dari layar hape, jempolnya lincah banget main game online sambil sesekali ketawa sendiri dengerin ocehan YouTuber gaming di headphone-nya.

Ironis memang. Secara fisik mereka duduk berdekatan, bahkan lengan mereka bisa bersentuhan. Tapi secara emosional? Jarak mereka mungkin sejauh Jakarta ke London. Fenomena anak yang lebih "akrab" sama gadget daripada orang tuanya sendiri bukan lagi sekadar tren, tapi sudah jadi realitas sosial yang bikin kita mengelus dada. Kita hidup di era di mana "Cocomelon" atau "Skibidi Toilet" lebih jago nenangin anak nangis dibanding pelukan ibunya sendiri.

Kenapa sih ini bisa terjadi? Jujurly, kalau mau nyalahin anak doang rasanya nggak adil. Gadget itu ibarat "babysitter" paling murah dan paling nurut sejagat raya. Orang tua yang pulang kerja dalam keadaan capek tingkat dewa sering kali mengambil jalan pintas. Biar anak nggak rewel, biar rumah nggak berantakan kayak kapal pecah, ya sudah, kasih hape aja. Selesai urusan. Orang tua bisa selonjoran, anak diam mematung menatap layar. Win-win solution? Kelihatannya sih gitu, tapi efek jangka panjangnya ngeri-ngeri sedap.

Masalahnya, algoritma media sosial dan game itu didesain buat bikin ketagihan. Mereka menawarkan dopamin instan yang nggak bisa dikasih oleh obrolan receh soal "tadi belajar apa di sekolah?". Di dunia digital, si anak bisa jadi pahlawan, bisa bangun istana di Minecraft, atau nonton video-video lucu yang silih berganti tiap sepuluh detik. Sementara kalau ngobrol sama orang tua? Isinya paling kalau nggak nasihat, ya pertanyaan interogasi yang bikin males jawab. Ya jelas kalah saing lah orang tua kalau parameternya cuma soal hiburan.

Efeknya pun mulai kerasa. Pernah nggak lo ngerasa kalau anak sekarang lebih susah diajak kontak mata? Atau kalau dipanggil namanya, responsnya baru muncul setelah panggilan kelima, itu pun sambil pasang muka bete karena merasa diganggu keseruannya. Ada semacam dinding kaca yang tebal antara dunia nyata dan dunia digital mereka. Kedekatan yang seharusnya dibangun lewat interaksi fisik, main bareng di taman, atau sekadar bercanda sebelum tidur, perlahan terkikis oleh pancaran blue light dari layar lima inci.



Gue sering ngelihat di kafe-kafe, ada anak yang bahkan nggak tahu cara pesen makanan sendiri karena matanya "nempel" di gadget, sementara orang tuanya yang sibuk ngurusin semuanya. Anak jadi kehilangan kemampuan observasi lingkungan. Mereka nggak belajar gimana caranya baca ekspresi muka orang atau gimana caranya memulai percakapan yang asyik. Karena di gadget, semuanya serba instan. Nggak suka? Tinggal swipe. Beda sama kehidupan nyata yang penuh dengan proses dan kompromi.

Lha terus, apa kita harus benci sama teknologi? Ya nggak juga. Kita bukan kaum Luddite yang mau balik ke zaman batu. Teknologi itu alat, tapi kalau kita yang disetir sama alat, itu baru masalah. Banyak orang tua yang merasa sudah memberikan "fasilitas terbaik" buat anaknya dengan membelikan tablet terbaru, padahal yang anak butuhkan sebenarnya adalah "presensi," bukan sekadar "present" atau hadiah.

Membangun kembali kedekatan itu berat, lho. Nggak bisa cuma sekali ajak jalan-jalan terus langsung akrab lagi. Butuh konsistensi. Mulai dari hal kecil, kayak bikin aturan "meja makan tanpa gadget." Walaupun awalnya bakal penuh drama, tangisan, atau muka cemberut sejuta watt, itu worth it. Orang tua juga harus introspeksi. Gimana anak mau lepas dari hape kalau orang tuanya sendiri setiap lima menit ngecek notifikasi Instagram? Anak itu peniru nomor satu di dunia. Mereka nggak dengerin apa yang kita omongin, tapi mereka ngelihat apa yang kita lakuin.

Kita perlu menciptakan momen di mana dunia nyata terasa lebih menarik dibanding dunia digital. Main board game, masak bareng yang hasilnya berantakan, atau sekadar jalan kaki sore keliling komplek sambil tebak-tebakan warna mobil yang lewat. Hal-hal "analog" kayak gini yang justru bakal diingat anak sampai mereka dewasa nanti, bukan level berapa mereka di Mobile Legends.

Pada akhirnya, gadget bakal terus berkembang, bakal ada VR, AI, dan entah apa lagi nanti. Tapi perasaan disayang, didengar, dan diperhatikan oleh orang tua itu nggak akan pernah ada aplikasinya di Play Store atau App Store. Jangan sampai nanti ketika anak sudah besar dan pergi dari rumah, kita baru sadar kalau kita nggak benar-benar mengenal mereka, dan mereka pun merasa asing dengan kita. Karena pada saat itu, mungkin satu-satunya cara kita bisa "dekat" sama mereka hanyalah lewat layar hape yang selama ini kita biarkan jadi sekat. Sedih banget, kan?



Yuk, mulai pelan-pelan. Taruh hapenya, tatap matanya, dan tanya, "Hari ini apa yang bikin kamu paling bahagia?". Siapa tahu, jawaban mereka jauh lebih keren daripada konten viral mana pun yang ada di FYP kita hari ini.

Tags