Jumat, 14 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Makanan Pedas Selalu Punya Banyak Penggemar?

Laila - Friday, 14 August 2026 | 12:00 PM

Background
Mengapa Makanan Pedas Selalu Punya Banyak Penggemar?

Kenapa Sih Kita Hobi Banget Menyiksa Diri dengan Makanan Pedas?

Pernah nggak sih kamu lagi makan seblak level mematikan atau ayam geprek dengan cabai yang jumlahnya lebih banyak daripada nasinya, terus tiba-tiba merasa menyesal? Keringat sudah segede biji jagung, bibir dower kayak habis filler gagal, hidung meler, dan perut mulai terasa melilit. Tapi anehnya, meskipun mulut sudah megap-megap bilang "pedas banget, gila!", tangan kamu tetap saja menyendok suapan berikutnya. Seolah-olah ada magnet yang narik sendok itu kembali ke piring.

Fenomena ini bukan cuma terjadi sama kamu doang. Di Indonesia, kalau makanan nggak pedas, rasanya kayak ada yang kurang. "Nggak pedas nggak nendang," begitu katanya. Padahal secara logika, rasa pedas itu bukan "rasa" seperti manis, asin, atau asam. Pedas adalah rasa sakit. Ya, kamu nggak salah baca. Lidah kita sebenarnya sedang mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. Terus, kenapa ya jutaan orang di dunia, terutama kaum milenial dan Gen Z yang hobi banget nongkrong di warung mi pedas berlevel, justru ketagihan sama rasa sakit ini? Mari kita bedah alasannya pelan-pelan sambil ngelap keringat.

1. Jebakan Batman Bernama Endorfin

Secara sains, biang kerok dari segala sensasi terbakar ini adalah senyawa bernama kapsaisin. Senyawa ini biasanya nongkrong dengan santai di dalam biji dan urat putih cabai. Pas kapsaisin kena lidah, saraf reseptor panas kita langsung bereaksi. Otak kita tertipu, dia mikir kalau mulut kita beneran lagi kebakaran. Nah, di sinilah keajaibannya terjadi.

Karena otak mengira tubuh lagi dalam bahaya atau kesakitan, dia langsung memproduksi hormon endorfin dan dopamin. Dua hormon ini adalah "obat penenang" alami yang bikin kita merasa bahagia, rileks, dan bahkan sedikit euforia. Jadi, sensasi "nagih" itu muncul karena setelah rasa sakitnya lewat, kamu bakal ngerasa high alias merasa nyaman banget. Istilah kerennya, makan pedas itu cara paling murah buat dapet asupan kebahagiaan instan tanpa harus pergi ke gym atau jatuh cinta.

2. Masokisme yang Aman (Benign Masochism)

Seorang psikolog bernama Paul Rozin punya teori menarik soal ini. Dia menyebut hobi makan pedas sebagai Benign Masochism. Intinya, manusia itu suka menikmati aktivitas yang sebenarnya bikin tubuh merasa terancam, padahal kita tahu kalau kita aman-aman saja. Ini mirip banget sama kenapa orang suka naik roller coaster yang bikin jantung mau copot, atau kenapa orang betah nonton film horor yang bikin nggak berani ke kamar mandi sendirian.



Makan pedas itu cara kita "bermain" dengan bahaya tanpa benar-benar terluka (ya, kecuali kalau besok paginya kamu harus berurusan dengan 'panggilan alam' di toilet). Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil menaklukkan satu porsi makanan pedas tanpa menyerah di tengah jalan. Rasanya kayak menang perang!

3. Faktor Lingkungan dan Budaya "Sambalism"

Di Indonesia, kita sudah diperkenalkan sama sambal bahkan mungkin sebelum kita bisa mengeja kata "kapsaisin". Budaya makan pedas di negara kita itu sudah mendarah daging. Lihat saja, di mana-mana ada sambal. Dari sambal terasi, sambal matah, sampai sambal bawang yang minyaknya melimpah ruah.

Kebiasaan ini bikin ambang batas rasa pedas kita jadi lebih tinggi dibanding orang-orang dari negara Barat. Buat kita, sambal itu pelengkap. Kalau makan nasi padang tapi nggak pakai sambal ijo, rasanya kayak nonton konser tapi nggak ada musiknya—hambar dan bikin emosi. Faktor sosial juga berpengaruh. Sering banget kan kita lagi nongkrong terus ada teman yang nantang, "Ah, cupu lo, masa makan level satu doang?". Akhirnya, demi gengsi dan biar dianggap keren di tongkrongan, kita nekat pesen level sepuluh. Efeknya? Ya, urusan belakang.

4. Tren Mukbang dan Tantangan Media Sosial

Jangan lupakan kekuatan media sosial. Beberapa tahun terakhir, kita dibombardir sama konten mukbang makanan pedas di YouTube atau TikTok. Mulai dari tantangan mi instan asal Korea yang merah membara itu, sampai tren bakso lava yang ukurannya segede kepala bayi. Melihat orang lain makan sambil kepedasan tapi tetap lahap itu entah kenapa bikin kita ikut ngiler.

Konten-konten kayak gini bikin makan pedas jadi semacam aktivitas sosial dan hiburan. Kita merasa divalidasi kalau bisa mencoba makanan yang lagi viral, meskipun setelah itu kita harus minum susu satu liter buat meredam apinya. Ini bukan lagi soal rasa, tapi soal pengalaman dan konten.



5. Meningkatkan Selera Makan dan Metabolisme

Secara teknis, rasa pedas itu memang pembuka selera (appetizer) yang paling ampuh. Pedas bikin kelenjar ludah bekerja ekstra keras, yang akhirnya bikin makanan terasa lebih gurih dan enak. Makanya, masakan yang mungkin rasanya biasa-biasa saja kalau dikasih bumbu pedas yang pas, mendadak jadi juara dunia di lidah.

Selain itu, ada mitos (yang sebenarnya ada benarnya juga) kalau makan pedas bisa membantu membakar kalori karena suhu tubuh naik dan metabolisme jadi lebih cepat. Tapi ya jangan berharap berat badan turun drastis kalau makan pedasnya dibarengi dengan nasi tiga piring dan es teh manis dua gelas ya, itu namanya tetap saja surplus kalori, Bestie.

Kesimpulan: Sebuah Hubungan Love-Hate

Pada akhirnya, alasan kenapa makanan pedas selalu punya penggemar militan adalah karena ia memberikan kombinasi antara tantangan, rasa sakit yang nikmat, dan kebahagiaan kimiawi di otak. Kita tahu itu menyiksa, kita tahu itu bikin perut mulas, tapi kita tetap melakukannya lagi dan lagi.

Makan pedas itu kayak menjalin hubungan sama mantan yang toxic; kamu tahu dia bakal bikin kamu nangis, tapi kamu tetap saja balik lagi karena sensasinya nggak ada yang ngalahin. Jadi, sudah siap buat makan siang pakai geprek cabai berapa hari ini? Jangan lupa siapin tisu dan air minum yang banyak, ya!

Tags