Kamis, 21 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Ikan Sapu-Sapu: Kisah Si Pekerja Keras yang Pelan-Pelan Menjadi Public Enemy Number One

RAU - Thursday, 23 April 2026 | 09:30 AM

Background
Ikan Sapu-Sapu: Kisah Si Pekerja Keras yang Pelan-Pelan Menjadi Public Enemy Number One


Kalau kita bicara soal ikan paling tangguh di muka bumi, jangan dulu sebut hiu putih atau ikan piranha yang seram itu. Mari kita bicara soal sosok yang jauh lebih dekat dengan keseharian kita, si penghuni dasar sungai yang warnanya kusam, kulitnya keras kayak batu bata, dan mukanya... ya, jujur aja, agak kurang estetik. Mari kita bahas ikan sapu-sapu.

Buat anak-anak yang tumbuh besar di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, pemandangan ikan sapu-sapu yang nempel di dinding beton sungai yang hitam pekat adalah hal yang sangat lumrah. Mereka kayak nggak punya beban hidup. Di saat ikan lain mungkin sudah pingsan kena limbah pabrik atau deterjen cucian warga, ikan sapu-sapu tetap santai, nempel, dan seolah-olah lagi menikmati "buffet" gratis berupa lumut dan kotoran. Tapi, tahukah kalian kalau di balik diamnya si ikan ini, tersimpan sebuah ironi besar yang bikin para aktivis lingkungan sampai pusing tujuh keliling?

Dulu Pahlawan Akuarium, Sekarang Jadi Penjajah

Dulu, ikan sapu-sapu—atau yang di luar negeri dikenal dengan nama Plecostomus—adalah primadona di toko ikan hias. Kenapa? Karena mereka punya reputasi sebagai "petugas kebersihan" yang rajin. Masukin satu ekor ke dalam akuarium, dan dalam semalam kaca yang tadinya buram gara-gara lumut bakal kinclong lagi. Praktis, murah, dan nggak rewel. Itu nilai jual utamanya.

Masalahnya muncul ketika ikan ini mulai tumbuh besar. Bayangin, ikan yang tadinya cuma seukuran jempol tiba-tiba berubah jadi sepanjang lengan orang dewasa. Karena merasa kasihan atau sekadar nggak mau repot, banyak hobiis yang akhirnya "membebaskan" ikan ini ke sungai terdekat. Niatnya sih baik, memberi kebebasan. Tapi realitanya? Ini adalah awal dari bencana ekosistem.

Ikan sapu-sapu itu asalnya dari Amerika Selatan, bukan ikan asli Indonesia. Begitu masuk ke perairan kita, mereka nggak punya predator alami. Nggak ada ikan lokal yang sanggup memangsa mereka karena kulit mereka dilapisi semacam tulang keras yang mirip perisai tank. Ikan gabus atau lele yang galak sekalipun bakal mikir dua kali kalau mau nyaplok ikan sapu-sapu. Alhasil, populasi mereka meledak dan mulailah mereka mendominasi sungai-sungai kita, mengusir ikan-ikan lokal asli Indonesia.



Si Paling Tahan Banting (dan Tahan Malu)

Ada satu hal yang bikin saya pribadi takjub sekaligus ngeri sama ikan ini: kemampuan adaptasinya yang di luar nalar. Ikan sapu-sapu punya organ pernapasan tambahan yang memungkinkan mereka mengambil oksigen langsung dari udara. Jadi, kalau air sungai lagi surut atau kadar oksigennya nol gara-gara polusi, mereka nggak bakal mati. Mereka cuma perlu naik sebentar ke permukaan buat ambil napas, lalu balik lagi "kerja" di dasar sungai.

Bahkan, saking kerasnya kulit mereka, ikan ini bisa bertahan hidup di luar air selama berjam-jam. Pernah nggak kalian lihat ikan sapu-sapu yang tergeletak di pinggir jalan karena dibuang pemancing, badannya kering kena matahari, tapi pas kena air lagi eh malah berenang lagi? Itu bukan sulap, itu memang daya tahan mereka yang sudah level dewa. Kalau ada kiamat nuklir, saya curiga cuma kecoa dan ikan sapu-sapu yang bakal tersisa di planet ini.

Mitos Siomay dan Horor Logam Berat

Nah, ini bagian yang paling sering jadi bahan obrolan di warung kopi atau grup WhatsApp keluarga: isu ikan sapu-sapu yang dijadikan bahan baku siomay atau pempek. Jujur saja, ini adalah urban legend yang punya dasar kuat untuk dikhawatirkan. Secara tekstur, daging ikan sapu-sapu memang cukup padat, mirip-mirip ikan tenggiri kalau sudah diolah. Harganya? Gratis, tinggal serok di got.

Tapi, ini pesan serius dari saya: jangan pernah berani-berani mengonsumsi ikan sapu-sapu yang diambil dari perairan tercemar seperti di kota-kota besar. Kenapa? Karena mereka adalah filter alami. Mereka makan apa saja yang ada di dasar sungai, termasuk sedimen yang mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Logam-logam ini nggak bakal hilang meski ikannya digoreng sampai kering atau direbus sampai empuk. Begitu masuk ke tubuh manusia, logam ini bakal numpuk dan bisa memicu berbagai penyakit mengerikan, termasuk kanker.

Jadi, kalau kalian jajan siomay dan harganya nggak masuk akal murahnya, atau rasanya agak "aneh" dan amisnya beda, mendingan lebih waspada deh. Nggak semua yang gratis atau murah itu baik buat kesehatan, apalagi kalau sumbernya dari sungai yang warnanya kayak kopi hitam tanpa gula.



Kita Harus Gimana?

Sekarang, ikan sapu-sapu sudah jadi masalah nasional. Di beberapa waduk dan sungai, populasi mereka sudah sangat mengkhawatirkan sampai-sampai merusak konstruksi bendungan karena hobi mereka yang suka melubangi tebing sungai untuk bertelur. Para nelayan juga sering mengeluh karena jaring mereka rusak terkena sirip tajam ikan ini, sementara ikan target yang mereka cari malah nggak ada.

Lalu, apa solusinya? Apakah kita harus membasmi mereka semua? Rasanya hampir mustahil mengingat betapa cepatnya mereka berkembang biak. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah berhenti menjadi bagian dari masalah. Kalau kalian punya ikan sapu-sapu di akuarium dan sudah merasa keberatan memeliharanya, jangan pernah buang ke sungai atau danau. Lebih baik berikan ke orang lain atau, kalau terpaksa, lakukan cara yang lebih manusiawi tapi tetap menjaga keamanan lingkungan.

Ikan sapu-sapu sebenarnya nggak salah. Mereka cuma makhluk hidup yang berusaha bertahan di tempat yang bukan rumah aslinya. Yang salah adalah kita, manusia, yang seenaknya memindahkan spesies dari satu belahan dunia ke belahan dunia lain tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya. Pada akhirnya, ikan sapu-sapu adalah pengingat visual buat kita semua: bahwa air sungai kita sudah sangat kotor, dan bahwa ketidaktahuan kita dalam mengelola hobi bisa berujung pada kerusakan alam yang sulit diperbaiki.

Jadi, lain kali kalau kalian melihat ikan sapu-sapu lagi nempel di dinding got depan rumah, jangan cuma diketawain atau dilempar batu. Jadikan itu pengingat kalau sungai kita butuh perhatian lebih, bukan cuma sekadar dijadikan tempat pembuangan sampah—maupun pembuangan ikan yang sudah nggak diinginkan lagi.