Minggu, 24 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Duduk Nyaman di Warteg Tapi Dianggap Nggak Sopan, Kok Bisa?

Laila - Sunday, 24 May 2026 | 07:30 PM

Background
Duduk Nyaman di Warteg Tapi Dianggap Nggak Sopan, Kok Bisa?

Seni Makan di Warteg dan Misteri Larangan Duduk Ngangkang bagi Perempuan

Pernah nggak sih kamu lagi laper-lapernya, terus melipir ke warteg terdekat buat nyari nasi rames pake telur dadar dan sambal ijo yang berminyak itu? Pas lagi enak-enaknya nunggu pesanan datang, tiba-tiba kamu duduk dengan posisi yang menurutmu paling nyaman mungkin satu kaki diangkat ke kursi atau duduk agak lebar karena gerah eh, tiba-tiba ada ibu-ibu di sebelah atau malah si mbak wartegnya ngelihatin dengan tatapan "hmmm, nggak sopan ya".

Fenomena larangan duduk "tidak bagus" buat perempuan ini emang jadi perdebatan abadi di Indonesia. Di satu sisi, ada norma kesopanan yang dijunjung tinggi, tapi di sisi lain, ada rasa pegal dan keinginan untuk sekadar rileks yang seringkali dikesampingkan. Kenapa sih kalau perempuan duduknya agak sembarangan dikit, dunia serasa mau kiamat, padahal kalau cowok yang duduk begitu di warteg, orang-orang bakal bilang itu "vibes tongkrongan banget"? Mari kita bedah pelan-pelan sambil nunggu es teh manis kita datang.

Konstruksi "Anggun" yang Menjerat

Sejak kecil, banyak dari kita khususnya perempuan dicekoki dengan doktrin bahwa perempuan itu harus "lembah manah", anggun, dan kalem. Salah satu manifestasi paling nyata dari doktrin ini adalah cara duduk. Duduk harus rapat, kaki miring sedikit kalau bisa, atau kalau di kursi ya jangan sampai ada celah. Istilah Jawanya, ora elok kalau perempuan duduknya seronok atau ngangkang.

Masalahnya, standar anggun ini seringkali nggak sinkron dengan realitas di lapangan. Bayangin kamu lagi makan di warteg yang kursinya kayu panjang, sempit, dan udaranya panas minta ampun. Kadang-kadang, duduk dengan posisi formal itu malah bikin pinggang encok. Tapi ya itu tadi, masyarakat kita punya "polisi moral" tak kasat mata yang siap memberikan denda berupa tatapan sinis kalau ada perempuan yang berani menantang gravitasi dengan mengangkat kakinya ke atas kursi kayu warteg.

Double Standard: Masalah Siapa yang Punya Ruang?

Kalau kita perhatiin di warteg, pemandangan bapak-bapak atau mas-mas duduk dengan satu kaki diangkat, kaos disangkutin ke leher karena gerah, itu udah jadi pemandangan biasa. Nggak ada yang protes. Bahkan kesannya mereka sangat menikmati hidup. Tapi coba kalau perempuan melakukan hal yang sama. Wah, omongan "nggak punya tata krama" atau "perempuan kok nggak ada manis-manisnya" pasti langsung keluar.



Ini sebenarnya soal kepemilikan ruang atau spatial privilege. Secara tidak sadar, konstruksi sosial kita memberikan izin bagi laki-laki untuk menguasai ruang sebanyak mungkin—termasuk cara duduk yang lebar (manspreading). Sementara itu, perempuan diminta untuk "mengecilkan diri". Jangan terlalu lebar, jangan terlalu berisik, dan jangan terlalu mencolok. Duduk rapat bukan cuma soal sopan santun, tapi juga soal simbol bahwa perempuan harus tetap terkendali dan rapi dalam kondisi apapun, bahkan saat lagi keringetan makan sayur nangka.

Mitos dan "Pamali" yang Jadi Senjata

Jangan lupakan juga senjata pamungkas orang tua zaman dulu: Mitos. Kalau kamu duduk ngangkang atau duduk di depan pintu, sering dibilang "nanti susah dapat jodoh" atau "nanti rezekinya dipatok ayam". Logikanya nggak nyambung, sih, tapi buat banyak orang, ini adalah cara paling efektif buat nakut-nakutin anak muda biar nurut sama norma yang ada.

Padahal kalau dipikir-pikir pakai logika sekarang, apa hubungannya cara duduk di warteg sama jodoh? Jodoh kan di tangan Tuhan, bukan di tangan mbak-mbak yang lagi makan tempe orek. Tapi ya namanya budaya, kadang hal-hal irasional begini tetap langgeng karena terus diulang-ulang sampai dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Kenyamanan vs. Penilaian Orang Lain

Lalu, kenapa sih perempuan kalau duduk "sembarangan" itu dianggap tidak bagus? Sebenarnya ada faktor keamanan juga yang melatarbelakangi. Di ruang publik yang belum sepenuhnya aman bagi perempuan, duduk rapat sering dianggap sebagai bentuk perlindungan diri agar tidak memancing mata-mata jahil atau tindakan pelecehan. Sedih sih, tapi ini kenyataan pahit yang harus dihadapi.

Namun, di era sekarang, banyak perempuan yang mulai merasa "capek" sama semua aturan itu. Mereka merasa bahwa selama mereka membayar makanan mereka sendiri, tidak mengganggu orang lain, dan tetap menjaga kebersihan, cara duduk seharusnya jadi urusan pribadi. Kalau pakai celana panjang yang longgar, duduk dengan satu kaki diangkat pun sebenarnya nggak mengekspos apa-apa, kan? Cuma ya itu tadi, urusan "pantes" nggak "pantes" itu sangat subjektif.



Mencari Jalan Tengah di Meja Warteg

Jadi, apakah kita harus tetap duduk kaku seperti di acara dinner kenegaraan saat makan di warteg? Ya nggak juga. Kuncinya sebenarnya ada pada konteks dan situasi. Kalau wartegnya lagi penuh sesak, duduk ngangkang emang nyebelin karena bakal makan tempat orang lain dan ini berlaku buat siapa pun, mau laki-laki atau perempuan.

Tapi kalau alasannya cuma karena "kamu perempuan, jadi nggak boleh duduk begitu", kayaknya kita perlu mulai lebih santai dikit deh. Menghargai norma kesopanan itu penting, tapi memanusiakan orang lain untuk bisa merasa nyaman di ruang publik juga nggak kalah penting. Toh, tujuan utama kita ke warteg itu buat kenyang, bukan buat ikut kontes kepribadian.

Pada akhirnya, cara duduk seseorang nggak selalu mencerminkan moralitasnya. Ada orang yang duduknya sangat rapi tapi pas bayar ternyata malah ngutang. Ada juga yang duduknya "nangkring" sambil makan kerupuk, tapi ternyata dialah orang yang paling rajin bantu ibunya di rumah. Jadi, daripada sibuk ngurusin paha orang lain yang terbuka lebar atau kaki yang diangkat, mending kita fokus habisin nasi di piring kita sendiri sebelum keburu dingin. Setuju?

Mari kita rayakan kebebasan kecil di warteg. Karena terkadang, kebahagiaan itu sesederhana makan enak dengan posisi duduk yang nggak bikin pinggang berasa mau copot. Urusan pandangan orang? Biarin aja, anggap aja itu backsound dari riuhnya suasana jalanan.