Selasa, 29 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Hormon Kortisol Sering Disebut Hormon Stres, Apa Sebenarnya Fungsinya?

Tata - Tuesday, 29 September 2026 | 10:41 AM

Background
Hormon Kortisol Sering Disebut Hormon Stres, Apa Sebenarnya Fungsinya?

Kortisol merupakan salah satu hormon penting yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Hormon ini sering mendapatkan sebutan sebagai "hormon stres" karena kadar kortisol dapat meningkat ketika tubuh menghadapi tekanan fisik maupun psikologis.

Namun, menganggap kortisol hanya sebagai hormon yang muncul ketika seseorang sedang stres kurang tepat. Tubuh sebenarnya membutuhkan kortisol untuk menjalankan berbagai fungsi normal setiap hari.

Kortisol termasuk kelompok hormon glukokortikoid dan produksinya dikendalikan melalui hubungan antara hipotalamus, kelenjar pituitari, dan kelenjar adrenal. Sistem pengaturan ini dikenal sebagai hypothalamic-pituitary-adrenal atau HPA axis.

Dalam kondisi normal, kadar kortisol mengikuti pola tertentu sepanjang hari. Pada umumnya, kadar hormon ini lebih tinggi pada pagi hari setelah seseorang bangun dan kemudian menurun secara bertahap sepanjang hari.

Pola tersebut membantu tubuh menyesuaikan diri dengan aktivitas harian. Ketika seseorang membutuhkan energi untuk memulai aktivitas, kortisol ikut berperan dalam menyediakan dan mengatur penggunaan sumber energi tubuh.



Salah satu fungsi penting kortisol adalah membantu mengatur metabolisme. Hormon ini berperan dalam bagaimana tubuh menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein untuk memenuhi kebutuhan energi.

Ketika tubuh berada dalam kondisi yang membutuhkan respons cepat, kortisol membantu meningkatkan ketersediaan glukosa dalam darah. Glukosa tersebut dapat digunakan sebagai sumber energi oleh berbagai jaringan tubuh, terutama ketika tubuh menghadapi tekanan atau kebutuhan energi yang meningkat.

Kortisol juga memiliki peran dalam mengatur respons sistem kekebalan tubuh dan peradangan. Dalam jumlah serta kondisi tertentu, hormon ini membantu mengendalikan aktivitas sistem imun sehingga respons peradangan tidak berlangsung secara berlebihan.

Karena kemampuannya memengaruhi peradangan dan sistem imun, obat golongan kortikosteroid yang memiliki efek menyerupai hormon kortisol juga digunakan dalam berbagai kondisi medis. Namun, obat tersebut memiliki aturan penggunaan dan efek samping yang perlu diperhatikan sehingga tidak sebaiknya digunakan sembarangan.

Kortisol juga berhubungan dengan pengaturan tekanan darah dan fungsi sistem kardiovaskular. Hormon ini membantu mempertahankan respons pembuluh darah terhadap hormon tertentu yang berperan dalam menjaga tekanan darah.



Ketika seseorang mengalami stres, tubuh dapat mengaktifkan sistem respons stres. Kelenjar adrenal kemudian meningkatkan pelepasan kortisol bersama hormon dan zat kimia lain yang membantu tubuh menghadapi situasi tersebut.

Respons ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan yang normal. Misalnya, ketika menghadapi kondisi yang menegangkan, tubuh membutuhkan kewaspadaan dan energi tambahan. Kortisol membantu mengatur sejumlah perubahan yang mendukung respons tersebut.

Masalah dapat muncul apabila stres berlangsung terus-menerus atau terdapat gangguan pada sistem pengaturan hormon. Kondisi stres berkepanjangan dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan, meskipun tidak tepat menganggap semua keluhan sebagai akibat langsung dari kadar kortisol yang tinggi.

Kadar kortisol juga tidak selalu tinggi ketika seseorang merasa stres. Produksi hormon dipengaruhi oleh waktu dalam sehari, kondisi kesehatan, obat-obatan, pola tidur, serta berbagai faktor lainnya.

Sebaliknya, kadar kortisol yang terlalu rendah juga dapat menjadi masalah apabila disebabkan oleh gangguan tertentu pada kelenjar adrenal atau sistem pengatur hormon. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala seperti kelelahan, kelemahan, penurunan berat badan, tekanan darah rendah, atau keluhan lainnya.



Sementara itu, kadar kortisol yang terlalu tinggi dalam jangka panjang dapat terjadi pada kondisi medis tertentu, termasuk sindrom Cushing. Gejalanya dapat berupa peningkatan berat badan terutama di bagian tubuh tertentu, kelemahan otot, kulit yang mudah memar, perubahan pada kulit, serta berbagai gangguan metabolisme.

Karena gejalanya dapat menyerupai banyak kondisi lain, seseorang tidak dapat mengetahui kadar kortisol hanya berdasarkan perasaan stres, sulit tidur, atau perubahan berat badan. Pemeriksaan medis diperlukan apabila terdapat dugaan gangguan hormon.

Pola tidur juga berkaitan erat dengan ritme kortisol. Gangguan tidur dapat memengaruhi pola hormonal tubuh, sementara perubahan kadar kortisol juga dapat berhubungan dengan siklus tidur-bangun. Karena itu, menjaga jadwal tidur yang cukup dan teratur merupakan bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Aktivitas fisik juga dapat memengaruhi kortisol. Olahraga tertentu dapat menyebabkan peningkatan kortisol untuk sementara sebagai bagian dari respons tubuh terhadap aktivitas fisik. Peningkatan sementara tersebut tidak sama dengan kondisi kortisol tinggi yang disebabkan oleh penyakit.

Begitu pula dengan makanan dan kebiasaan sehari-hari. Tidak ada satu jenis makanan yang secara sederhana dapat "menghilangkan" kortisol dari tubuh. Menjaga pola makan seimbang, cukup tidur, melakukan aktivitas fisik, dan mengelola stres merupakan pendekatan yang lebih masuk akal untuk mendukung kesehatan hormonal.



Kortisol juga tidak dapat dianggap sebagai hormon yang selalu buruk. Tanpa hormon ini, tubuh akan kesulitan menjalankan sejumlah fungsi penting, termasuk mempertahankan metabolisme dan merespons tekanan fisik.

Jadi, istilah "hormon stres" sebenarnya hanya menggambarkan salah satu konteks ketika kortisol berperan. Kortisol merupakan hormon penting yang bekerja sepanjang waktu dan memiliki fungsi luas dalam menjaga keseimbangan tubuh.

Jika seseorang mengalami keluhan yang menetap seperti perubahan berat badan yang tidak jelas, kelemahan berat, tekanan darah yang tidak normal, perubahan kulit, gangguan tidur yang berkepanjangan, atau gejala lain yang mengarah pada gangguan hormonal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan yang tepat dapat membantu menentukan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan kortisol atau memiliki penyebab lain.