Jumat, 28 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Gochujang: Bukan Sekadar Sambal, Tapi Nyawa di Balik Merahnya Masakan Korea

Tata - Friday, 28 August 2026 | 08:15 PM

Background
Gochujang: Bukan Sekadar Sambal, Tapi Nyawa di Balik Merahnya Masakan Korea

Gochujang: Bukan Sekadar Sambal, Tapi Nyawa di Balik Merahnya Masakan Korea

Kalau kita bicara soal Korea Selatan, bayangan kita pasti nggak jauh-jauh dari visual idol yang glowing, drama yang bikin nangis bombay, atau minimal tumpukan skincare yang harganya kadang nggak masuk akal. Tapi, ada satu hal lagi yang diam-diam menjajah lidah orang Indonesia tanpa kita sadari: Gochujang. Pasta merah kental ini sekarang sudah kayak penghuni tetap di rak supermarket kita, bersanding manis dengan botol saus sambal lokal dan kecap manis.

Jujurly, siapa sih yang nggak tergoda pas liat adegan di drakor di mana pemeran utamanya lagi ngaduk-ngaduk nasi dalam wadah besar, terus dikasih satu sendok besar pasta merah, telur mata sapi, dan sayuran? Namanya Bibimbap, tapi bintang utamanya jelas si Gochujang ini. Warnanya yang merah membara itu seringkali menipu. Bagi kita orang Indonesia yang lidahnya sudah "terlatih" dengan cabai rawit setan, Gochujang itu sebenarnya nggak pedas-pedas amat. Rasanya itu kompleks; ada manisnya, ada gurih umami yang dalem banget, dan ada sedikit sensasi fermentasi yang unik.

Apa Sih Sebenernya "Ramuan" di Dalamnya?

Mungkin banyak dari kita yang mikir Gochujang itu cuma cabai dihaluskan terus dikasih bumbu. Padahal, proses bikinnya itu lebih mirip ritual seni daripada sekadar masak. Gochujang adalah hasil fermentasi dari bubuk cabai (gochugaru), beras ketan yang dihaluskan, kacang kedelai yang sudah difermentasi (meju), dan garam. Nah, rahasia rasa manis alaminya itu berasal dari proses penguraian pati dalam beras ketan selama masa fermentasi. Itulah kenapa rasanya nggak cuma pedas "numpang lewat" kayak saus sambal botolan biasa.

Zaman dulu di Korea, Gochujang ini disimpan di dalam tempayan tanah liat besar yang disebut jangdokdae dan diletakkan di halaman rumah biar kena sinar matahari. Prosesnya nggak sebentar, bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Semakin lama disimpan, rasanya makin "nendang" dan warnanya makin gelap pekat. Kalau di Indonesia kita punya sambal yang harus diulek setiap mau makan biar fresh, Gochujang ini justru makin tua makin jadi. Vibes-nya kayak menyimpan harta karun di dapur sendiri.

Gochujang vs Sambal Nusantara: Sebuah Perbandingan Rasa

Sebagai warga negara yang tumbuh besar dengan doktrin "nggak ada sambal nggak makan," kehadiran Gochujang ini membawa perspektif baru. Kalau sambal kita biasanya mengandalkan kesegaran cabai, bawang, dan terasi, Gochujang lebih ke arah bold and thick. Teksturnya yang seperti pasta membuatnya sangat versatile alias serba guna. Dia nggak cuma buat cocolan, tapi bisa jadi dasar sup, bumbu marinasi daging, sampai saus tumisan.



Menurut observasi sotoy saya, alasan kenapa Gochujang gampang banget diterima lidah kita adalah karena ada kemiripan "jiwa" antara Gochujang dengan beberapa bumbu tradisional kita. Ada rasa fermentasi yang mirip-mirip sedikit dengan tauco atau terasi, tapi versi yang lebih manis dan nggak terlalu tajam aromanya. Makanya, jangan heran kalau sekarang banyak ibu-ibu di komplek yang mulai bereksperimen masukin Gochujang ke masakan tumis kangkung atau ayam goreng mentega. Rasanya jadi ada sentuhan "fusion" yang asik.

Kenapa Kita Begitu Terobsesi?

Nggak bisa dipungkiri, fenomena Mukbang punya peran besar. Melihat orang Korea makan Tteokbokki dengan kuah merah kental yang berkilau (glistering) itu kayak ada kepuasan tersendiri. Gochujang memberikan visual yang sangat estetik di kamera. Warnanya yang vibrant bikin makanan kelihatan sangat menggugah selera. Di dunia media sosial, warna adalah segalanya, dan Gochujang adalah juara dalam hal itu.

Selain itu, Gochujang itu semacam "comfort food" dalam bentuk saus. Ada rasa hangat yang dihasilkan dari fermentasinya. Buat anak muda sekarang yang hidupnya penuh tekanan (halah), makan makanan yang pedas-manis-hangat itu kayak dapet pelukan virtual. Makanya, kalau lagi stres, pelariannya sering ke seblak atau makanan Korea yang berbumbu Gochujang. Efek endorfin dari pedasnya dapet, kenyangnya dapet, dan rasa gurihnya bikin nagih alias nagging terus di lidah.

Lebih Dari Sekadar Masakan Korea

Sekarang, Gochujang sudah melampaui batas-batas negara. Di Amerika, Gochujang disebut-sebut sebagai "The New Sriracha." Banyak chef internasional yang mulai memadukan Gochujang ke dalam masakan Barat. Bayangin burger dengan saus mayo-gochujang, atau chicken wings yang dibalut bumbu ini. Di Indonesia pun, kreativitas ini nggak kalah gila. Kita bisa nemuin ramen pakai gochujang, pasta pakai gochujang, bahkan ada yang iseng bikin sambal goreng kentang pakai campuran pasta ini.

Tapi, ada satu tips kalau kalian mau beli Gochujang di supermarket. Pastikan cek labelnya, karena setiap brand punya tingkat kepedasan dan kemanisan yang beda-beda. Ada yang teksturnya lebih cair, ada yang padat banget sampai susah disendok. Dan yang paling penting buat teman-teman muslim, pastikan ada logo halal atau cek kandungannya, karena beberapa produk tradisional menggunakan proses fermentasi yang menghasilkan alkohol alami dalam kadar tertentu atau menggunakan pemanis tambahan yang harus dicek titik kritisnya.



Singkatnya, Gochujang adalah jembatan budaya yang paling enak. Dia mengajarkan kita kalau rasa pedas itu punya banyak dimensi. Nggak cuma bikin telinga panas, tapi juga bisa bikin hati senang lewat rasa gurih dan manisnya. Jadi, besok-besok kalau kalian lagi bingung mau masak apa, coba deh tambahin satu sendok Gochujang ke masakan kalian. Siapa tahu, tumisan biasa kalian tiba-tiba berubah jadi masakan kelas drakor yang bikin keluarga di rumah nambah nasi berkali-kali.

Pada akhirnya, mau itu sambal terasi atau Gochujang, kunci dari makanan enak adalah keberanian buat nyoba hal baru. Gochujang bukan datang untuk menggantikan sambal ulek kita, tapi justru memperkaya koleksi rasa di dapur kita. Karena di dunia kuliner, nggak ada yang namanya batasan, yang ada cuma lidah yang bahagia.