Minggu, 7 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Fakta Unik Sejarah India Dari Film Padmavati

Liaa - Thursday, 04 June 2026 | 03:45 PM

Background
Fakta Unik Sejarah India Dari Film Padmavati

Membaca Sejarah India di Balik Kemegahan Film Padmaavat: Antara Mitos, Puisi, dan Ambisi

Siapa sih yang nggak terpana pas pertama kali lihat trailer film Padmaavat garapan Sanjay Leela Bhansali? Visualnya itu, lho, bener-bener definisi "eye candy" yang maksimal. Dari kostum yang beratnya mungkin sama kayak beban hidup kita, sampai set istana yang megahnya nggak masuk akal. Tapi, di balik estetika yang bikin kita melongo itu, film ini sempat bikin India "kebakaran" gara-gara gelombang protes yang masif sebelum rilis tahun 2018 lalu.

Buat kita yang cuma penonton layar kaca di Indonesia, mungkin ngerasa aneh, "Cuma film doang kok sampai segitunya?" Nah, di situlah letak uniknya. Padmaavat bukan sekadar drama cinta segitiga yang tragis, tapi sebuah persimpangan rumit antara sejarah, legenda, dan harga diri sebuah klan. Yuk, kita bedah beberapa fakta unik sejarah India yang terselip di balik riuhnya film ini dengan gaya santai.

1. Sosok Rani Padmini: Nyata atau Sekadar Imajinasi Penyair?

Ini adalah perdebatan paling fundamental. Di film, kita melihat Rani Padmini (diperankan Deepika Padukone) sebagai ratu yang kecantikannya bikin dunia berhenti berputar. Tapi tahu nggak, sih? Banyak sejarawan yang meragukan kalau Padmini itu beneran ada secara historis. Nama "Padmavati" atau "Padmini" justru pertama kali muncul dalam sebuah puisi epik berjudul Padmavat yang ditulis oleh Malik Muhammad Jayasi pada tahun 1540.

Masalahnya, puisi itu ditulis sekitar 200 tahun SETELAH Alauddin Khilji (sang antagonis) meninggal dunia. Jadi, bayangin aja kayak seseorang di zaman sekarang nulis cerita cinta dramatis tentang pahlawan di zaman kolonial Belanda tanpa ada catatan sejarah yang pasti. Bagi masyarakat Rajput, Padmini adalah simbol kehormatan yang nyata, tapi bagi sejarawan, dia lebih condong ke arah tokoh fiksi sejarah yang lahir dari romantisasi sastra Sufi. Plot twist banget, kan?

2. Alauddin Khilji: Villain Barbar atau Politisi Jenius?

Ranveer Singh sukses banget ngebawain karakter Alauddin Khilji yang kelihatan kayak predator lapar, makan daging mentah, dan nggak punya tata krama. Tapi kalau kita buka buku sejarah, sosok Khilji ini sebenarnya jauh lebih kompleks. Dia bukan cuma sultan yang "haus darah" demi cinta, tapi dia adalah administrator yang sangat tangguh.



Faktanya, Alauddin Khilji adalah orang yang berhasil menahan invasi besar-besaran bangsa Mongol ke India. Kalau bukan karena pertahanan militer Khilji yang brutal dan taktis, peta sejarah India mungkin bakal berubah total gara-gara serbuan tentara dari utara itu. Di film, dia digambarkan hampir seperti monster tanpa moral, padahal di dunia nyata, dia punya sistem kontrol harga pasar yang sangat maju di masanya. Ya, namanya juga film, butuh bumbu biar penonton makin geregetan sama si jahat.

3. Tragedi Jauhar yang Bikin Merinding

Bagian akhir film ini menunjukkan adegan Jauhar, yaitu aksi bakar diri massal yang dilakukan kaum perempuan Rajput untuk menghindari penangkapan oleh musuh. Bagi kita yang hidup di zaman modern, adegan ini mungkin terasa sangat gelap dan tragis. Namun, dalam sejarah India kuno, khususnya di kalangan klan Rajput, Jauhar dianggap sebagai puncak dari harga diri.

Mereka lebih memilih menjadi abu daripada jatuh ke tangan penjajah yang dianggap bakal menodai kehormatan mereka. Ini bukan cuma soal takut mati, tapi soal ideologi. Di balik layar, adegan ini pula yang memicu kontroversi panjang di India karena dianggap mengagungkan praktik kuno yang mengerikan. Tapi kalau kita bicara konteks sejarah abad ke-14, itulah realitas pahit dari perang yang terjadi saat itu.

4. Mitos Cermin dan Pertemuan yang (Mungkin) Nggak Pernah Ada

Ada satu adegan ikonik di mana Khilji melihat wajah Rani Padmini lewat pantulan cermin. Menurut cerita rakyat, inilah momen yang bikin Khilji terobsesi setengah mati. Tapi secara historis, adegan ini banyak didebat habis-habisan. Para tetua Rajput dan sejarawan lokal berargumen kalau konsep cermin itu mustahil terjadi. Kenapa? Karena pada zaman itu, aturan purdah (pemisahan perempuan dari publik) sangat ketat. Seorang ratu nggak mungkin membiarkan orang luar apalagi musuh melihat wajahnya, bahkan lewat pantulan air atau cermin sekalipun. Inilah alasan kenapa set syuting film ini sempat dirusak oleh massa; mereka merasa adegan cermin itu adalah penghinaan terhadap protokol kerajaan Rajput yang asli.

5. Detail Kostum yang Bukan Main-main

Kalau kamu ngerasa Deepika Padukone kelihatan "berat" pas jalan, itu bukan perasaanmu doang. Kostum yang dipakai di film ini emang gila-gilaan detailnya. Perhiasannya dibuat dari emas asli dengan teknik Kundan yang otentik. Bahkan ada laporan yang bilang kalau total berat kostum dan perhiasan yang dipakai Deepika mencapai 30 kilogram lebih di beberapa adegan! Ini adalah upaya sutradara buat menghidupkan kembali kemegahan era Kesultanan Delhi dan Kerajaan Mewar. Meskipun filmnya penuh drama, urusan estetika sejarahnya—mulai dari arsitektur sampai tekstil—emang layak dapet jempol dua.



Pada akhirnya, Padmaavat adalah pengingat bahwa sejarah itu seringkali bersifat cair. Ada fakta yang tertulis di prasasti, ada juga "kebenaran" yang hidup di hati masyarakat melalui legenda dan puisi. Menonton film ini harusnya bikin kita sadar kalau India itu punya lapisan sejarah yang sangat tebal, penuh darah, tapi juga penuh dengan keindahan seni yang nggak ada habisnya. Jadi, habis nonton filmnya, jangan lupa baca-baca buku sejarahnya juga ya, biar nggak cuma dapet baper-nya doang!