Fakta Unik Gordang Sambilan, Warisan Budaya Mandailing
Liaa - Saturday, 28 March 2026 | 05:35 PM


Gordang Sambilan: Lebih dari Sekadar Gendang Gede, Ada Jiwa dan Cerita di Baliknya
Pernah nggak sih kalian lagi asyik jalan-jalan atau kondangan, terus tiba-tiba dengar suara dentuman gendang yang kencang banget sampai dada rasanya ikut bergetar? Kalau kalian mainnya ke daerah Sumatera Utara, khususnya di wilayah Mandailing, kemungkinan besar suara itu berasal dari Gordang Sambilan. Alat musik ini bukan cuma sekadar properti buat bikin rame acara, tapi ada sejarah, filosofi, dan "vibe" magis yang nggak bisa kalian temukan di alat musik modern mana pun.
Banyak orang luar sering salah kaprah dan menganggap semua musik dari Sumatera Utara itu sama. Padahal, Gordang Sambilan ini punya identitas yang sangat kuat bagi masyarakat Mandailing. Biar nggak dibilang kurang update sama kekayaan budaya sendiri, yuk kita bedah fakta-fakta menarik dari si "sembilan gendang" ini dengan gaya yang lebih santai.
Bukan Cuma Nama, Angka Sembilan Itu Harga Mati
Sesuai namanya, "Gordang" berarti gendang besar dan "Sambilan" berarti sembilan. Simpel, ya? Tapi jangan salah, jumlah sembilan ini bukan hasil random atau biar kelihatan banyak aja. Dalam struktur masyarakat Mandailing, angka sembilan punya makna yang dalam banget. Sembilan gendang ini mencerminkan struktur kepemimpinan tradisional atau yang biasa disebut dengan Namora Natoras dan Raja Panusunan.
Gendang-gendang ini punya ukuran yang beda-beda, mulai dari yang paling gede (yang suaranya paling nge-bass dan bikin jantung mau copot) sampai yang paling kecil. Nama-namanya pun unik, ada Jangat, Udong-udong, Ente-ente, dan lain-lain. Ibarat sebuah band, mereka punya pembagian tugas yang jelas. Ada yang jadi penjaga ritme, ada yang jadi melodi, dan ada yang tugasnya cuma ngasih aksen biar makin enak didengar. Kompak banget, kan?
Dulu Sakral Banget, Sekarang Bisa Buat Seru-seruan
Kalau kita tarik mundur ke masa lalu, mainin Gordang Sambilan itu nggak boleh sembarangan. Dulu, alat musik ini dianggap sakral dan cuma boleh dimainkan dalam upacara besar seperti Horja Godang (pesta adat besar) atau upacara meminta hujan saat kemarau panjang. Bahkan, konon katanya, saking magisnya suara Gordang Sambilan, para pemainnya bisa sampai masuk ke kondisi trans atau nggak sadarkan diri.
Tapi tenang, seiring berjalannya waktu, penggunaannya makin fleksibel. Sekarang, Gordang Sambilan sering muncul di acara penyambutan tamu kehormatan, pembukaan festival budaya, bahkan acara pernikahan rakyat biasa pun sering mengundang grup Gordang Sambilan biar suasananya makin pecah. Meski sudah lebih "populer", rasa hormat terhadap alat musik ini tetap dijaga. Nggak ada tuh ceritanya mainin Gordang Sambilan sambil bercanda yang nggak sopan.
Bahan Bakunya Nggak Kaleng-kaleng
Jangan bayangkan Gordang Sambilan itu dibuat dari kayu sisa bangunan. Oh, jelas nggak! Untuk menghasilkan suara yang deep dan tahan lama, kayu yang digunakan biasanya adalah kayu ingul atau kayu nangka yang sudah tua banget. Kayunya harus utuh, tengahnya dibolongin secara manual, bukan ditempel-tempel pakai lem. Kebayang kan gimana beratnya proses produksinya?
Nah, kulitnya juga spesial. Biasanya pakai kulit kerbau atau sapi jantan yang sudah dikeringkan dengan teknik tertentu. Tali pengikatnya pun masih banyak yang pakai rotan biar kesan tradisionalnya tetap dapet. Jadi, kalau kalian lihat satu set Gordang Sambilan, itu adalah karya seni kerajinan tangan yang butuh ketelitian tingkat dewa.
Bukan Hanya Gendang, Ada "Soulmate" yang Menemani
Gordang Sambilan itu sebenarnya nggak sendirian. Dia punya tim hore yang bikin musiknya jadi lengkap. Biasanya ada instrumen pendamping seperti dua buah gong besar (ogung), satu atau dua buah simbal kecil (tali sasayat), dan yang paling penting adalah sarune. Sarune ini sejenis alat musik tiup yang fungsinya sebagai pembawa melodi. Kalau Gordang Sambilan itu ibarat drum dan bass-nya, sarune ini adalah vokalisnya. Perpaduan suara sarune yang melengking dengan dentuman Gordang yang berat menciptakan harmoni yang bisa bikin merinding, serius deh!
Simbol Identitas dan Kebanggaan Mandailing
Di era sekarang, di mana musik K-Pop dan EDM merajalela, Gordang Sambilan tetap punya tempat di hati anak muda Mandailing. Ini bukan cuma soal tradisi, tapi soal identitas. Menariknya, Gordang Sambilan ini sudah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Bahkan, grup-grup Gordang Sambilan sudah sering melalang buana ke luar negeri, mulai dari Eropa sampai Amerika, buat pamer kalau Indonesia punya musik yang energinya nggak kalah sama konser rock.
Buat kalian yang belum pernah dengar secara langsung, coba deh sesekali cari videonya di YouTube atau kalau ada event kebudayaan, sempatkan datang. Ada sensasi berbeda saat kalian mendengar suara "dung-dung-tak" yang ritmis dan penuh tenaga itu. Rasanya kayak diingatkan kalau kita punya akar budaya yang kuat banget.
Kesimpulannya, Gordang Sambilan itu bukti kalau musik tradisional kita nggak ngebosenin. Dia punya karakter, punya cerita, dan punya power. Jadi, kalau nanti kalian lihat ada yang main Gordang Sambilan, jangan cuma numpang lewat. Berhenti sebentar, nikmati dentumannya, dan rasakan gimana budaya kita sebenarnya sekeren itu. Siapa tahu, setelah dengar ini, kalian jadi pengen belajar main gendang juga, kan?
Budaya itu bakal tetap hidup selama kita masih mau mengapresiasinya. Jadi, mari kita kasih jempol dan apresiasi setinggi-tingginya buat para seniman Gordang Sambilan yang terus menjaga degup jantung budaya Mandailing tetap berdetak kencang hingga hari ini.
Next News

Manusia Hanya Menggunakan 10% Otaknya? Mitos atau Fakta?
13 hours ago

Nakizumo: Festival Bayi Menangis di Jepang
13 hours ago

Kacang Bisa Menyebabkan Jerawat. Mitos atau Fakta?
13 hours ago

Benarkah Vitamin C Bisa Mencegah Flu? Ini Faktanya.
13 hours ago

Benarkah Susu Pasti Membuat Tulang Lebih Kuat?
13 hours ago

Trojena: Resort Ski Futuristik di Gurun Arab Saudi
13 hours ago

J.K. Rowling,Bangkit Penulis yang Mendunia dari Kemiskinan lewat Pena
13 hours ago

Anse Source d'Argent: Pantai Terindah di Dunia
15 hours ago

Antena: Pahlawan Tak Kasat Mata yang Sering Kena Omel di Atas Genting
4 hours ago

Sering Dianggap Hama, Ternyata Bekicot Punya Peran Penting di Alam
4 hours ago





