Kamis, 21 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Fakta Mengejutkan: Cara Monyet Berduka Ternyata Mirip Manusia

Liaa - Thursday, 21 May 2026 | 10:00 AM

Background
Fakta Mengejutkan: Cara Monyet Berduka Ternyata Mirip Manusia

Bukan Cuma Manusia yang Bisa Galau: Mengintip Cara Unik Monyet Saat Berduka

Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong di kafe, tiba-tiba ngelihat postingan sedih soal kehilangan, terus kepikiran: "Apa cuma kita ya, manusia, yang bisa ngerasain sesak di dada pas ditinggal pergi?" Jawabannya ternyata nggak. Di kedalaman hutan sana, sepupu jauh kita para monyet dan primata lainnya punya cara yang luar biasa emosional, unik, dan kadang bikin merinding saat menghadapi kematian anggota kelompoknya.

Selama ini kita mungkin cuma tahu monyet itu hewan yang pecicilan, suka nyolong pisang turis, atau hobi grooming satu sama lain. Tapi kalau kita bicara soal grief atau rasa duka, mereka punya sisi melankolis yang sangat dalam. Ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai komparatif tanatologi, sebuah studi tentang bagaimana makhluk hidup merespons kematian. Dan jujur saja, beberapa perilaku mereka beneran bikin kita sadar kalau batasan antara "hewan" dan "manusia" itu sebenarnya tipis banget.

Ritual "Membawa Jenazah" yang Menyayat Hati

Salah satu perilaku yang paling sering tertangkap kamera peneliti adalah fenomena induk monyet yang membawa jasad anaknya yang sudah mati. Bayangin, seekor induk kera jenis Macaque atau simpanse bisa menggendong bangkai bayinya selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sampai jasad itu mengering atau jadi mumi.

Bagi kita, mungkin ini kelihatan menyeramkan atau aneh. Tapi bagi mereka, ini adalah bentuk ikatan yang gagal putus. Induk ini bakal tetap memperlakukan jasad itu seolah masih hidup; dijagain dari predator, dibersihin bulunya, bahkan dibawa lari saat ada bahaya. Ada semacam masa "penyangkalan" atau denial yang sangat kuat. Mereka nggak mau ninggalin bayinya sendirian di tanah hutan yang dingin. Lewat kacamata kita, ini adalah bentuk cinta paling murni sekaligus paling menyedihkan di alam liar.

Hening yang Mencekam di Tengah Hutan

Kalau biasanya hutan tropis itu berisik sama suara teriakan, sahut-sahutan, dan dahan yang patah, suasana bakal berubah total saat ada salah satu anggota kawanan yang mati. Beberapa spesies primata menunjukkan perilaku diam seribu bahasa. Mereka bakal duduk melingkar di sekitar jasad temannya, cuma ngelihatin dengan tatapan kosong. Nggak ada rebutan makanan, nggak ada kejar-kejaran.



Suasana duka ini mirip banget sama prosesi pemakaman manusia di mana semua orang diminta untuk hening cipta. Peneliti di Zambia pernah mencatat momen ketika sekelompok simpanse mendekati jasad temannya dengan gerakan yang sangat pelan. Mereka menyentuh wajah si mati, menciumnya, bahkan mencoba membersihkan sisa makanan di mulutnya. Ini bukan sekadar rasa penasaran, tapi ada semacam pengakuan bahwa "sosok ini sudah tidak lagi sama."

Investigasi dan "Layanan" Terakhir

Monyet itu makhluk yang sangat sosial. Circle pertemanan mereka itu penting banget buat kelangsungan hidup. Jadi, pas ada yang mati, mereka nggak langsung pergi gitu aja. Uniknya, mereka sering melakukan investigasi. Mereka bakal narik tangan jasad itu, ngecek detak jantung (dengan cara mereka sendiri), atau sekadar menatap matanya dalam-dalam.

Di beberapa kasus, anggota kelompok yang paling dekat sama si mati bakal menunjukkan tanda-tanda stres berat. Mereka jadi jarang makan, menarik diri dari pergaulan, bahkan suara teriakannya berubah jadi lebih lirih dan pilu. Kalau bahasa anak zaman sekarang, mereka lagi "mental breakdown." Ternyata, punya perasaan itu bukan monopoli manusia yang sering galau gara-gara dighosting gebetan aja.

Kenapa Mereka Melakukan Itu?

Mungkin banyak yang bertanya, "Emang monyet ngerti konsep kematian?" Nah, di sini para ahli masih berdebat. Ada yang bilang itu cuma insting biologis karena hormon oksitosin yang masih tinggi, terutama pada induk. Tapi, banyak juga yang berpendapat kalau primata tingkat tinggi punya kesadaran emosional yang kompleks. Mereka ngerasa kehilangan figur yang biasanya ada buat berbagi tempat tidur atau sekadar cari kutu bareng.

Selain itu, perilaku berduka ini punya fungsi sosial. Dengan berkumpul di sekitar jasad, kelompok tersebut sedang mengonfirmasi ulang struktur hierarki mereka. Kehilangan satu anggota berarti ada posisi yang kosong, dan mereka butuh waktu buat memproses perubahan itu. Jadi, selain urusan perasaan, ada urusan stabilitas kelompok juga yang lagi dipertaruhkan.



Pelajaran dari Sepupu Berbulu Kita

Melihat cara monyet berduka bikin kita sadar kalau empati itu sifatnya universal. Kita sering menganggap diri kita paling mulia karena punya ritual pemakaman yang mewah atau gedung kremasi yang canggih. Padahal, inti dari duka itu sama: rasa kehilangan dan keinginan untuk tetap dekat dengan yang sudah tiada.

Monyet mengajarkan kita bahwa bersedih itu valid. Nggak perlu buru-buru "move on" kalau memang hati belum siap. Mereka nggak malu buat kelihatan lesu di depan kawanannya. Mereka mengambil waktu sebanyak yang mereka butuhkan untuk melepas pergi. Mungkin, kita bisa belajar sedikit dari mereka soal bagaimana cara menghargai sebuah perpisahan.

Jadi, lain kali kalau kamu melihat monyet di kebun binatang atau di hutan, ingatlah kalau di balik tingkah konyol mereka, ada kapasitas emosi yang sangat dalam. Mereka bukan sekadar hewan, mereka adalah makhluk yang juga bisa patah hati, yang tahu rasanya kehilangan, dan punya cara-cara puitis tersendiri untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dunia.