Rabu, 24 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dulu Banyak Sekarang Langka, Apa Kabar Capung di Sekitarmu?

Liaa - Friday, 15 May 2026 | 09:25 AM

Background
Dulu Banyak Sekarang Langka, Apa Kabar Capung di Sekitarmu?

Mana Sih Perginya Para Pilot Helikopter Mini? Menebak Misteri Hilangnya Capung dari Radar Kita

Coba deh tarik napas sebentar, terus inget-inget lagi kapan terakhir kali kamu ngelihat capung beneran? Bukan capung dalam bentuk stiker di WhatsApp atau karakter di film animasi, tapi capung yang bener-bener terbang sliweran di depan mata. Kalau kamu butuh waktu lebih dari sepuluh detik buat mikir, selamat, kamu nggak sendirian. Sadar nggak sih kalau sekarang kehadiran serangga yang mirip helikopter mini ini makin langka, terutama buat kita yang tinggal di wilayah perkotaan atau suburban yang sudah mulai penuh sesak dengan ruko?

Dulu, pas kita masih bocah terutama generasi yang sempat ngerasain main di tanah lapang tanpa beban cicilan capung itu kayak teman setia. Cara nangkepnya juga ikonik banget, pakai sapu lidi yang ujungnya dikasih getah nangka, atau kalau lagi nekat ya pakai tangan kosong. Ada mitos lucu juga yang bilang kalau pusar digigit capung, nanti nggak bakal ngompol lagi. Entah siapa yang pertama kali nyebar hoaks itu, tapi yang jelas, capung adalah bagian dari estetika masa kecil yang menyenangkan. Sekarang, jangankan buat gigit pusar, nyari sosoknya di balik rimbunnya pohon aja susahnya minta ampun.

Capung Bukan Sekadar Hiasan Udara

Masalah hilangnya capung ini sebenarnya bukan cuma soal kehilangan objek nostalgia semata. Ada alasan yang jauh lebih "serius" di balik absennya mereka. Capung, atau yang secara ilmiah masuk dalam ordo Odonata, itu bukan sekadar serangga biasa yang hobi pamer sayap transparan. Mereka itu adalah bioindikator alami yang paling jujur. Ibaratnya, mereka ini adalah "satpam kualitas lingkungan" yang nggak bisa disogok. Kalau di suatu daerah masih banyak capung, berarti air dan udara di situ masih relatif bersih.

Kenapa air? Nah, ini yang jarang diketahui orang kota. Capung itu menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam air sebagai nimfa. Mereka nggak langsung punya sayap cantik dan terbang ke sana kemari. Sebelum jadi "pilot" di udara, mereka adalah predator air yang tangguh. Kalau air di sungai, selokan, atau kolam di sekitar kita sudah tercemar limbah deterjen, plastik, atau zat kimia dari pabrik, ya jangan harap bayi-bayi capung ini bisa bertahan hidup. Begitu habitat airnya rusak, siklus hidup mereka terputus. Jadi, kalau capung mulai jarang kelihatan, itu adalah "kode keras" dari alam bahwa lingkungan kita lagi nggak baik-baik saja.

Betonisasi dan Hilangnya Ruang Hijau

Penyebab lainnya yang bikin kita makin jarang ketemu capung adalah tren "betonisasi". Sekarang, lahan kosong atau sawah yang dulu jadi tempat favorit capung buat nongkrong sudah berubah fungsi jadi perumahan minimalis atau mal yang estetik tapi gersang. Capung itu butuh ruang terbuka dan vegetasi yang pas buat berburu mangsa. Mereka itu predator lho, bukan herbivora. Makanan mereka adalah serangga kecil kayak nyamuk atau lalat.



Bayangin kalau semua semak belukar diganti jadi tembok beton atau aspal panas. Capung mau hinggap di mana? Di kabel listrik? Nggak asyik banget kan. Belum lagi masalah polusi udara. Sayap capung itu sangat sensitif. Udara yang penuh asap kendaraan bermotor dan polusi industri bikin mereka kesulitan bernapas dan navigasi. Jadi, wajar aja kalau mereka milih "pindah domisili" ke daerah yang lebih pelosok yang udaranya masih sejuk dan airnya masih jernih.

Efek Domino: Nyamuk Jadi Makin Berkuasa

Mungkin ada yang mikir, "Ya elah, cuma capung doang yang ilang, nggak masalah kali." Eits, tunggu dulu. Alam itu punya rantai makanan yang sangat rapi. Satu elemen ilang, yang lain bakal kena imbasnya. Kamu tahu nggak kalau capung itu disebut-sebut sebagai salah satu predator paling efisien di dunia? Tingkat keberhasilan mereka dalam menangkap mangsa itu mencapai 95 persen. Jauh lebih hebat daripada singa atau hiu.

Salah satu menu favorit capung adalah nyamuk. Jadi, kalau populasi capung di sekitar rumahmu merosot tajam, jangan heran kalau jumlah nyamuk makin membeludak. Kita jadi harus beli lebih banyak obat nyamuk semprot atau elektrik, yang ujung-ujungnya malah nambah polusi kimia lagi di dalam rumah. Ini kayak lingkaran setan yang nggak ada habisnya. Kita ngerusak habitat predator alami, terus kita pusing sendiri sama ledakan populasi mangsanya.

Masih Ada Harapan?

Lalu, apa kita cuma bisa pasrah sambil liatin foto capung di Google? Ya nggak juga. Meskipun kita nggak bisa langsung ngubah kota jadi hutan lagi dalam semalam, setidaknya kita bisa mulai dari hal kecil. Misalnya, kalau punya sisa lahan di rumah, jangan semua dipelur pakai semen. Kasih sedikit ruang buat tanaman hijau atau bikin kolam ikan kecil yang ekosistemnya terjaga. Syukur-syukur kalau nggak pakai pestisida berlebihan di taman rumah, karena itu racun mematikan buat capung.

Menyadari hilangnya capung adalah langkah awal buat kita lebih peduli sama isu lingkungan yang lebih luas. Ini bukan cuma soal serangga yang hilang, tapi soal kualitas hidup manusia juga. Kalau capung aja udah nggak betah hidup bareng kita, berarti ada yang salah sama cara kita memperlakukan bumi. Yuk, sesekali main ke pinggiran kota atau daerah yang masih banyak sawahnya, cuma buat nyapa "pilot mini" ini. Siapa tahu, dengan melihat mereka terbang bebas, kita jadi sadar kalau kemewahan yang sebenarnya bukan cuma soal gadget terbaru, tapi soal udara segar dan alam yang masih mau berbagi ruang dengan makhluk kecil seperti capung.



Singkat cerita, capung adalah alarm alami kita. Kalau alarmnya makin pelan bunyinya, atau malah mati total, mungkin sudah saatnya kita bangun dari kenyamanan semu dan mulai bebenah lingkungan. Jangan sampai anak cucu kita nanti cuma bisa ngelihat capung di buku sejarah atau museum, sambil nanya, "Dulu beneran ada hewan yang sayapnya kayak kaca gini ya, Kek?" Duh, nyesek banget kan kalau sampai kejadian.

Tags

capung