Dingin China menggigit, Kakek-Nenek Indonesia asal Aceh terus melaju menuju Zhangye
Laila - Wednesday, 23 September 2026 | 01:35 PM


Padangsidimpuan – Suhu udara sekitar 4 derajat Celsius menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan asal Indonesia, T. Faisal Laksamana (65) dan dr. Indriati (61), saat menjalani hari ke-13 perjalanan The Great Overland Journey 2026–2027 di daratan China.
Pasangan yang terbiasa dengan udara tropis Indonesia tersebut harus beradaptasi dengan kondisi dingin selama perjalanan. Pakaian hangat dan berbagai perlengkapan disiapkan untuk menghadapi suhu rendah, terutama ketika mereka harus beristirahat dan melakukan camping di tengah perjalanan.
Perjalanan kali ini membawa Faisal dan Indriati dari Xining menuju Zhangye. Dengan menggunakan mobil pribadi yang telah dimodifikasi sebagai kendaraan perjalanan lintas negara, keduanya tetap melanjutkan perjalanan melewati kawasan pegunungan China meski harus menghadapi suhu yang cukup rendah.
Di tengah udara dingin, keduanya justru disuguhi pemandangan alam yang menarik. Pegunungan terbentang luas di sepanjang perjalanan, sementara hamparan alam terbuka dan kawanan domba yang digembalakan masyarakat lokal turut menjadi pemandangan yang mereka temui.
Menggunakan kendaraan sendiri membuat Faisal dan Indriati dapat merasakan secara langsung perubahan cuaca, bentang alam, serta kehidupan masyarakat di wilayah yang mereka lewati. Setiap perjalanan menjadi pengalaman baru yang tidak mereka dapatkan jika hanya bepergian menggunakan transportasi umum.
Kondisi kendaraan juga menjadi perhatian selama perjalanan. Oli mesin, air radiator, baterai, dan sejumlah bagian penting lainnya diperiksa secara rutin untuk memastikan kendaraan tetap dalam kondisi baik dan mampu melanjutkan perjalanan panjang.
Ekspedisi tersebut merupakan bagian dari The Great Overland Journey 2026–2027, sebuah perjalanan lintas negara yang direncanakan melewati Indonesia, Asia Tenggara, China, Asia Tengah, Mekkah hingga Eropa.
Di usia 60-an, Faisal dan Indriati yang kini berdomisili di Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, menjadikan perjalanan tersebut sebagai kesempatan untuk melihat berbagai tempat sekaligus mengumpulkan pengalaman baru.
Suhu dingin yang mereka rasakan di China menjadi salah satu cerita dalam perjalanan panjang tersebut. Meski menghadapi kondisi yang berbeda jauh dari iklim tropis Indonesia, keduanya tetap melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya.
"Dingin boleh menggigit, tetapi perjalanan tetap berlanjut. Pasalnya, setiap kilometer meninggalkan cerita baru dalam perjalanan kita berkeliling dunia ini," ujar Faisal kepada Antara.
Next News

Kabut Asap Selimuti Sumut, 7 Penerbangan di Bandara Kualanamu Delay
13 hours ago

BMKG: Asap Terdeteksi di Seluruh Sumatera Utara, Jarak Pandang Menurun
9 hours ago

Tapanuli Utara Berpotensi Kabut/Asap, Cek Cuaca Sumatera Utara Besok (14/10)
13 hours ago

Medan Fashion Culture Festival 2026 Angkat Inovasi Ulos dan Promosikan Desainer Lokal
a day ago

Pengguna Vape Narkotika di Sumut Didominasi Remaja Usia 15–20 Tahun
2 days ago

Impor Bahan Bakar Mineral dan Plastik ke Sumut Turun pada Juli 2026
2 days ago

Sumut Dapat 15.011 Kuota Bedah Rumah pada 2026, Daerah Diminta Percepat Realisasi
a day ago

BMKG: Kualitas Udara Sumut Sedang hingga Tidak Sehat akibat Sebaran Asap
a day ago

BNNP Sumut Soroti Pengguna Vape Narkotika dari Kalangan Remaja, Prevalensi Narkoba Jadi Perhatian
a day ago

Impor Bahan Bakar Mineral ke Sumut Turun 28 Persen pada Juli 2026
a day ago





