Kamis, 23 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Cyber Warfare Saat Serangan Digital Bisa Mengganggu Sistem Pembayaran

Nanda - Friday, 17 April 2026 | 04:00 PM

Background
Cyber Warfare Saat Serangan Digital Bisa Mengganggu Sistem Pembayaran

Ketika mendengar kata warfare atau perang, banyak orang langsung membayangkan tank, pesawat tempur, atau rudal.

Padahal saat ini ada bentuk konflik lain yang sama seriusnya, yaitu cyber warfare.


Apa itu Cyber Warfare?

Cyber warfare adalah penggunaan teknologi digital untuk menyerang, mengganggu, melumpuhkan, atau mencuri informasi dari sistem lawan.




Targetnya bisa sangat luas, seperti:

•sistem pemerintahan

•jaringan militer

•pembangkit listrik



•rumah sakit

•bandara

•sistem pembayaran •digital

•bank dan ATM

Dalam banyak kasus, serangan ini dilakukan oleh negara, kelompok yang didukung negara, atau kelompok peretas yang punya motif politik dan ekonomi.




Apakah Bisa Menyerang Sistem Pembayaran?

Bisa, dan ini justru salah satu target yang sangat sensitif.

Sistem pembayaran digital adalah bagian penting dari infrastruktur modern.

Contohnya:



•mobile banking

•QRIS

•ATM

•kartu debit dan kredit

•transfer antarbank



•gateway pembayaran e-commerce


Kalau sistem ini terganggu, dampaknya langsung terasa ke masyarakat.

Misalnya:

•transaksi gagal



•saldo tidak ter-update

•ATM offline

•pembayaran toko lumpuh

•transfer tertunda




Dalam skenario yang lebih serius, serangan bisa diarahkan untuk mengalihkan dana.


Contoh nyata yang baru terjadi tahun ini adalah kasus perusahaan energi yang kehilangan sekitar £700.000 setelah pembayaran kontraktor dialihkan ke rekening milik pelaku melalui serangan siber.


Ini menunjukkan bahwa perang siber tidak selalu berupa "mematikan sistem", tetapi juga bisa menyerang alur transaksi keuangan.




Bagaimana Cara Serangannya?

Ada beberapa bentuk yang paling umum.


1. DDoS (Distributed Denial of Service)



Ini adalah serangan yang membanjiri server dengan trafik sangat besar sampai sistem tidak mampu melayani pengguna.

Akibatnya aplikasi bank atau payment gateway bisa down.

Ini sering dipakai untuk mengganggu layanan publik dan kepercayaan masyarakat.


2. Pencurian Kredensial



Pelaku mencoba mendapatkan username, password, OTP, atau token sesi.

Saat ini banyak serangan justru tidak "membobol", tetapi masuk menggunakan identitas yang dicuri.

PwC bahkan menyebut serangan modern lebih sering "log in rather than break in" ( masuk, tapi

tidak membobol)




3. Malware dan Ransomware

Sistem bank atau perusahaan bisa dikunci oleh malware.

Pelaku lalu meminta tebusan.

Kalau targetnya sistem pembayaran, aktivitas ekonomi bisa langsung terganggu.




Kenapa Ini Berbahaya?

Karena dampaknya bisa terasa luas.

Bayangkan jika sistem pembayaran nasional terganggu beberapa jam saja.

Efeknya bisa ke:

pasar, transportasi,



belanja online, rumah sakit, gaji karyawan, dan

transaksi bisnis.


Bahkan World Economic Forum menempatkan cyber-enabled fraud dan gangguan sistem digital sebagai salah satu risiko utama global saat ini.




Apakah Ini Sama dengan Hacker Biasa?


Tidak selalu.

Cyber warfare biasanya punya skala lebih besar dan target strategis.

Jika hacker biasa mungkin mengejar uang atau data pribadi, cyber warfare sering berkaitan dengan:



•tekanan geopolitik

•sabotase

•spionase

•balasan antarnegara




Karena itu sering disebut sebagai bentuk perang modern.


Indonesia Perlu Waspada?


Tentu.



Karena semakin digital sistem pembayaran, semakin penting keamanan sibernya.

Dengan penggunaan:

•mobile banking

•QRIS

•E-wallet



•transaksi online

perlindungan terhadap sistem menjadi sangat vital.

Gangguan kecil saja bisa memengaruhi kepercayaan publik.


Di era serba digital, keamanan siber bukan lagi isu teknis, tetapi bagian dari keamanan nasional.