Sabtu, 8 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bukan Anak Malas, Mungkin Cara Belajarnya yang Selama Ini Salah

Laila - Saturday, 08 August 2026 | 12:00 PM

Background
Bukan Anak Malas, Mungkin Cara Belajarnya yang Selama Ini Salah

Bukan Anak Malas, Mungkin Cara Belajarnya yang Selama Ini Salah

Pernah nggak sih kamu melihat seorang anak—atau mungkin kamu sendiri di masa lalu—duduk di depan meja belajar selama berjam-jam, tapi bukunya cuma dipandangi doang? Ujung-ujungnya, bukannya materi masuk ke otak, malah berakhir dengan rebahan sambil main HP. Orang tua yang lewat biasanya langsung melabeli dengan satu kata sakti yang cukup menyakitkan: Malas.

Padahal, kalau kita mau jujur dan sedikit lebih peka, label "malas" itu sering kali cuma jadi tameng buat kita yang nggak tahu apa masalah sebenarnya. Ibarat hp yang lemot, bukan berarti baterainya habis, bisa jadi karena RAM-nya kepenuhan atau memang OS-nya nggak cocok sama aplikasinya. Begitu juga dengan cara belajar. Bisa jadi, si anak bukan nggak mau belajar, tapi dia nggak tahu cara "menyalakan" mesin belajarnya dengan benar.

Stigma Malas yang Jadi Beban Mental

Di lingkungan kita, anak yang nggak berprestasi secara akademis sering banget langsung divonis kurang usaha. Kita seolah-olah dipaksa percaya kalau semua orang itu punya kapasitas otak yang sama untuk menyerap informasi dengan metode yang seragam. Padahal, dunia nggak sesederhana itu. Memberi label malas pada anak itu efeknya panjang, lho. Mereka bisa jadi kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya beneran jadi malas karena merasa "Ya sudah, emang gue begini, mau diapain lagi?"

Masalahnya, sistem pendidikan kita terkadang masih menganut gaya one size fits all. Semua anak disuruh duduk rapi, dengerin guru ngomong di depan kelas selama berjam-jam, lalu disuruh hafal rumus yang kelihatannya kayak sandi rumput. Buat anak yang punya gaya belajar visual atau auditori mungkin masih bisa bertahan. Tapi buat anak kinestetik yang dunianya adalah gerak? Duduk diam selama dua jam itu rasanya kayak dikurung di penjara bawah tanah.

Mengenal Gaya Belajar: Kamu Tipe yang Mana?

Coba deh cek, jangan-jangan selama ini kita memaksa diri belajar dengan cara yang bertolak belakang dengan karakter asli kita. Secara umum, ada tiga tipe gaya belajar yang populer, dan masing-masing butuh treatment yang beda banget:



  • Tipe Visual: Mereka ini butuh melihat sesuatu biar paham. Kalau cuma dengerin penjelasan lewat suara, informasinya bakal lewat gitu aja kayak angin lalu. Mereka butuh warna-warni, mind mapping, atau video animasi biar otaknya konek.
  • Tipe Auditori: Anak tipe ini paling jago kalau dengerin penjelasan. Mereka mungkin kelihatan nggak nyatet, tapi kupingnya bekerja keras. Kadang, mereka butuh membaca buku dengan suara keras biar informasinya "terdengar" oleh otak mereka sendiri.
  • Tipe Kinestetik: Nah, ini dia yang sering banget dibilang malas atau nakal karena nggak bisa diam. Anak kinestetik belajar lewat praktik dan gerakan. Belajar sejarah sambil jalan-jalan di museum atau belajar fisika lewat eksperimen langsung itu jauh lebih efektif buat mereka daripada baca buku teks setebal bantal.

Bayangkan anak kinestetik dipaksa belajar dengan cara duduk diam membaca buku selama tiga jam. Ya jelas nggak bakal masuk! Akhirnya mereka bosan, cari distraksi, dan berakhir dicap malas. Padahal, cara belajarnya aja yang nggak sinkron sama kebutuhan biologis mereka.

Penyebab Lain: Burnout dan Kurangnya Relevansi

Selain soal gaya belajar, ada juga faktor yang namanya burnout. Jangan salah, anak sekolah juga bisa kena kesehatan mental yang satu ini. Tugas yang numpuk, ekspektasi orang tua yang setinggi langit, ditambah jadwal les yang padat bisa bikin otak "mogok". Saat otak sudah mencapai titik jenuh, jangankan belajar, melihat sampul bukunya aja sudah bikin mual.

Selain itu, sering kali anak merasa malas karena mereka nggak tahu apa gunanya mereka mempelajari itu semua. "Kenapa gue harus menghitung kecepatan kereta api dari stasiun A ke B kalau gue bisa cek di aplikasi?" Pertanyaan-pertanyaan skeptis kayak gini wajar muncul di kepala anak zaman sekarang yang kritis. Tanpa relevansi atau alasan yang kuat kenapa sebuah materi harus dipelajari, motivasi belajar bakal merosot tajam. Mereka bukan malas, mereka cuma butuh alasan kenapa hal itu penting buat hidup mereka.

Mengubah Strategi: Dari "Belajar Keras" ke "Belajar Cerdas"

Terus, solusinya gimana? Langkah pertama adalah berhenti memberikan label negatif. Mulailah bereksperimen dengan berbagai teknik belajar. Pernah dengar Teknik Pomodoro? Belajar 25 menit, lalu istirahat 5 menit. Ini efektif banget buat menjaga fokus biar nggak cepat capek. Atau teknik Feynman, di mana kita mencoba menjelaskan sebuah materi yang sulit kepada orang lain (atau seolah-olah kepada anak kecil) dengan bahasa yang paling sederhana. Kalau kita belum bisa jelasin dengan simpel, berarti kita belum benar-benar paham.

Lingkungan juga berpengaruh besar. Ada orang yang bisa belajar di tengah keramaian kafe dengan suara mesin kopi sebagai background, tapi ada juga yang butuh keheningan total sampai suara jarum jatuh pun terdengar. Kita harus tahu apa yang bikin kita nyaman. Belajar itu bukan soal durasi, tapi soal kualitas. Belajar 30 menit dalam kondisi fokus total jauh lebih berfaedah daripada 5 jam di depan buku tapi pikiran melayang ke mana-mana.



Kesimpulan: Berdamai dengan Proses

Jadi, buat kalian yang sering merasa "bodoh" atau "malas", atau buat para orang tua yang mulai gemas melihat anaknya nggak kunjung buka buku: cobalah untuk sedikit lebih rileks. Belajar itu sebuah perjalanan, bukan perlombaan lari cepat. Bisa jadi yang dibutuhkan bukan tambahan jam les, melainkan perubahan metode atau sekadar waktu untuk bernapas sejenak.

Dunia ini luas, dan cara menyerap ilmunya pun beragam. Jangan sampai label "malas" membunuh potensi besar yang sebenarnya ada di sana, hanya karena kita terlalu kaku dengan cara-cara lama yang sudah tidak relevan lagi. Kenali dirimu, temukan ritmemu, dan ingat: setiap orang punya cara unik untuk bersinar.

Tags