Rabu, 9 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bahaya Terlalu Banyak Mengonsumsi Minuman Manis

Liaa - Wednesday, 09 September 2026 | 07:05 PM

Background
Bahaya Terlalu Banyak Mengonsumsi Minuman Manis

Manis di Lidah, Pahit di Ginjal: Kenapa Kita Perlu Segera Pelan-pelan Putus Sama Minuman Manis

Coba deh ingat-ingat, dalam sehari ini saja, sudah berapa gelas minuman manis yang masuk ke tenggorokanmu? Tadi pagi mungkin awali hari dengan kopi susu gula aren biar semangat kerja. Siang dikit, pas matahari lagi lucu-lucunya di atas kepala, kamu pesan es teh manis jumbo lewat ojek online. Sorenya, pas lagi suntuk-suntuknya dikejar tenggat waktu, kamu butuh asupan boba atau thai tea buat self-reward. Belum lagi kalau malamnya nongkrong di kafe, pesannya pasti yang manis-manis lagi. Tanpa sadar, cairan berwarna-warni itu sudah jadi bagian dari gaya hidup yang sulit dipisahkan.

Masalahnya, tren minuman kekinian ini memang punya daya pikat yang luar biasa. Ibarat mantan yang toksik, dia tahu betul cara bikin kita merasa senang sesaat, tapi sebenarnya pelan-pelan merusak dari dalam. Rasa manis itu bukan sekadar soal rasa di lidah, tapi soal bagaimana otak kita meresponsnya. Begitu gula masuk, otak bakal melepaskan dopamin—hormon yang bikin kita merasa bahagia dan nagih. Itulah kenapa kalau lagi stres, pelariannya pasti ke yang manis-manis. Padahal, di balik kenikmatan itu, ada bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Jebakan Batman Bernama Self-Reward

Kita sering banget berlindung di balik kata "self-reward" untuk membenarkan kebiasaan buruk ini. "Ah, mumpung lagi capek, minum yang manis nggak apa-apa kali ya." Masalahnya, kalau setiap hari merasa capek, berarti setiap hari juga kita menimbun gula berlebih. Tubuh manusia itu punya batas toleransi, kawan. Menurut aturan kesehatan, asupan gula tambahan itu maksimal cuma empat sendok makan per hari. Bayangkan, satu gelas minuman boba atau kopi susu kekinian saja bisa mengandung gula dua sampai tiga kali lipat dari batas harian itu. Artinya, baru minum satu gelas saja, jatah gula kamu buat dua hari ke depan sudah habis terpakai.

Lalu, apa yang terjadi kalau kita terus-terusan "overdosis" gula? Yang paling pertama kelihatan biasanya adalah lebar pinggang yang makin bertambah alias obesitas. Gula cair itu jahatnya minta ampun karena dia nggak bikin kenyang. Kamu bisa minum 500 kalori dari segelas minuman manis tanpa merasa kenyang sama sekali, beda kalau kamu makan nasi padang dengan kalori yang sama. Akibatnya, kalori berlebih itu bakal diubah sama tubuh jadi lemak jahat yang betah banget nemplok di perut bawah.

Diabetes Bukan Lagi Penyakit Orang Tua

Dulu, kita sering menganggap diabetes itu penyakitnya kakek atau nenek kita. Tapi sekarang? Coba main-main ke rumah sakit, makin banyak anak muda usia 20-an atau 30-an yang sudah harus akrab sama jarum insulin. Ini bukan nakut-nakutin, tapi realita. Minuman manis itu memicu lonjakan insulin yang gila-gilaan. Kalau dilakukan terus-menerus, sel tubuh kita bakal capek dan nggak sensitif lagi sama insulin, alias resistensi insulin. Dari sinilah gerbang diabetes tipe 2 terbuka lebar.



Belum lagi urusan ginjal. Ginjal kita itu fungsinya menyaring racun dan sisa metabolisme. Kalau setiap hari dipaksa menyaring cairan yang kadar gulanya setinggi harapan orang tua, ya lama-lama mesinnya jebol juga. Banyak kasus anak muda yang harus cuci darah seumur hidup cuma gara-gara hobi minum minuman kemasan atau es teh manis setiap kali makan. Serem, kan? Padahal masa muda harusnya dipakai buat jalan-jalan atau mengejar mimpi, bukan malah duduk manis di kursi rumah sakit sambil menunggu giliran cuci darah.

Mood Swing dan Kulit yang Gampang Ngambek

Pernah ngerasa habis minum yang manis-manis terus tiba-tiba merasa lemas atau mengantuk luar biasa sekitar satu jam kemudian? Itu namanya sugar crash. Setelah gula darah melonjak tinggi (sugar rush), tubuh bakal nurunin kadarnya secara drastis. Efeknya? Kamu jadi gampang marah, susah fokus, dan malah pengen makan manis lagi buat balikin mood. Siklus ini bakal terus berputar sampai kamu sadar kalau kamu sebenarnya terjebak dalam kecanduan gula.

Buat kalian yang peduli banget sama penampilan, gula juga musuh besar buat kulit. Konsumsi gula berlebih bisa memicu proses yang namanya glikasi. Gampangnya, gula bakal merusak kolagen dan elastin di kulit kita. Hasilnya? Jerawat jadi sering muncul tanpa diundang, kulit kelihatan kusam, dan kerutan halus muncul lebih cepat dari seharusnya. Jadi, percuma pakai skincare mahal berjuta-juta kalau setiap hari masih hobi nenggak minuman manis literan.

Gimana Caranya Biar Bisa Lepas?

Jujur saja, berhenti total dari minuman manis itu susah banget, apalagi kalau lingkungannya mendukung buat "jajan terus". Tapi, kita bisa mulai dari langkah kecil. Misalnya, kalau pesan minuman, minta level gulanya dikurangin (less sugar atau bahkan no sugar). Awalnya mungkin rasanya hambar dan nggak enak, tapi lama-lama lidah kita bakal terbiasa lagi mengecap rasa asli dari kopi atau teh tanpa ketutup rasa manis yang lebay.

Jangan lupa untuk selalu sedia air putih di tas. Kadang otak kita itu bingung membedakan antara rasa haus dan keinginan buat ngemil. Begitu haus, langsung minum air putih, biasanya keinginan buat beli minuman manis bakal berkurang. Kita nggak perlu jadi orang suci yang anti gula sama sekali, tapi setidaknya kita harus punya kontrol atas apa yang masuk ke tubuh kita sendiri.



Ingat, kesehatan itu investasi paling mahal. Jangan sampai tabungan yang kamu kumpulkan susah payah dengan kerja lembur sampai tipes, malah habis cuma buat bayar biaya rumah sakit gara-gara komplikasi gula. Yuk, mulai sekarang cintai diri sendiri dengan cara yang lebih sehat. Self-reward nggak harus selalu yang manis di lidah tapi pahit di ginjal, kan?

Tags