Bahaya Duduk Lesehan Terlalu Lama, Bisa Bikin Perut Kembung
Liaa - Wednesday, 22 April 2026 | 09:10 AM


Mitos atau Fakta: Benarkah Duduk Terlalu Lama di Lantai Bikin Masuk Angin? Mari Kita Bedah Sambil Lesehan
Bayangkan skenario ini: Kamu lagi asyik nongkrong di kosan teman, mabar Mobile Legends atau sekadar gibah intens soal kebijakan kantor yang makin nggak masuk akal. Karena kursinya terbatas, kamu dengan sukarela memilih duduk lesehan di lantai ubin yang adem. Sejam, dua jam, sampai tiga jam berlalu. Begitu pulang, tiba-tiba perut terasa kembung, sendawa nggak berhenti, dan leher rasanya kaku. Diagnosis mandiri pun keluar: Fix, ini masuk angin gara-gara kelamaan duduk di lantai.
Peringatan jangan kelamaan duduk di lantai ini sebenarnya sudah jadi "warisan budaya tak benda" yang diturunkan orang tua kita. Dari kecil kita sering diingatkan, "Jangan duduk di ubin, nanti perutnya kembung!" atau "Pakai alas kalau duduk, nanti masuk angin!". Tapi, apakah secara medis hal ini memang masuk akal, atau cuma sekadar sugesti kolektif bangsa kita saja? Mari kita ulas pelan-pelan supaya nggak gagal paham.
Masuk Angin: Penyakit Gaib yang Cuma Ada di Indonesia
Sebelum menyalahkan lantai, kita harus sepakat dulu soal satu hal: secara medis, istilah "masuk angin" itu sebenarnya nggak ada di buku teks kedokteran mana pun di dunia. Coba kamu pergi ke dokter di Amerika Serikat terus bilang, "I'm enter wind," pasti dokternya bingung setengah mati. Di mata medis internasional, gejala yang kita sebut masuk angin itu biasanya kumpulan dari gejala dispepsia (masalah pencernaan) atau gejala awal flu (common cold).
Namun, di Indonesia, masuk angin adalah diagnosis paling sakti yang bisa menjelaskan segala hal, mulai dari pusing, pegal-pegal, mual, sampai keringat dingin. Dan entah kenapa, lantai ubin yang dingin selalu jadi tersangka utama dalam kasus ini. Logikanya begini: ubin itu dingin, suhu dingin meresap ke pantat, lalu entah bagaimana caranya, angin "masuk" ke dalam tubuh. Begitu, kan?
Konduksi: Ketika Lantai "Mencuri" Kehangatan Tubuhmu
Mari kita bicara sains yang sedikit lebih masuk akal. Secara fisika, ada proses yang namanya konduksi. Ketika kulitmu bersentuhan langsung dengan permukaan yang suhunya lebih rendah (seperti lantai marmer atau keramik), panas dari tubuhmu akan berpindah ke permukaan tersebut. Tubuh manusia itu mesin yang selalu berusaha menjaga suhu internal di angka 36-37 derajat Celsius.
Kalau kamu duduk terlalu lama di lantai yang dingin tanpa alas, tubuhmu harus bekerja ekstra keras untuk memproduksi panas tambahan demi menyeimbangkan suhu yang "dicuri" oleh ubin tadi. Nah, reaksi tubuh terhadap paparan dingin yang lama inilah yang bikin otot-otot menegang dan pembuluh darah menyempit. Efeknya? Kamu merasa kaku, pegal, dan kadang memicu rasa tidak nyaman di perut. Jadi, bukan anginnya yang masuk lewat pori-pori pantat, tapi suhu dingin yang membuat metabolisme tubuhmu sedikit "kaget".
Perut Kembung dan Urusan Gas
Kenapa sih duduk di lantai sering bikin kembung? Ada teori menarik soal ini. Saat tubuh merasa kedinginan, sistem pencernaan kita cenderung melambat. Selain itu, ada fenomena yang disebut aerofagia—kondisi di mana kita secara tidak sadar menelan lebih banyak udara saat merasa tidak nyaman atau kedinginan. Udara yang terperangkap ini kemudian berakumulasi di lambung dan bikin kita merasa sebah atau kembung.
Belum lagi kalau posisi duduk lesehannya sambil membungkuk. Posisi ini menekan area perut, yang bisa menghambat pergerakan gas di dalam usus. Jadi, kombinasi antara suhu dingin ubin dan posisi duduk yang nggak ergonomis adalah resep sempurna untuk menciptakan "drama" perut di malam hari. Jadi, jangan langsung menyalahkan angin yang bergentayangan di ubin, ya!
Bukan Cuma Masuk Angin, Tapi Juga Ancaman Encok
Selain urusan angin-anginan, duduk di lantai terlalu lama sebenarnya punya risiko lain yang lebih nyata bagi kaum "mendang-mending" usia 20-an ke atas: encok dan nyeri punggung. Lantai itu permukaannya keras. Saat kita duduk lesehan, tulang ekor dan otot panggul kita menerima tekanan yang tidak merata. Jarang banget ada orang duduk lesehan dengan postur tegak sempurna ala meditasi Zen selama berjam-jam.
Biasanya, setelah 15 menit, posisi duduk kita akan berubah jadi "udang goreng"—melengkung dan membungkuk. Hal ini bikin otot punggung bawah kerja rodi. Begitu berdiri, rasanya pinggang seperti mau copot. Inilah yang sering salah didiagnosis sebagai "masuk angin di punggung", padahal ya memang murni karena postur duduk yang kacau di permukaan yang keras.
Lalu, Apakah Kita Harus Musuhan Sama Lantai?
Tentu saja tidak. Lesehan adalah jalan ninja untuk keakraban. Nggak afdol rasanya kalau makan pecel lele atau tahlilan nggak sambil lesehan. Tapi, supaya nggak kena "serangan" masuk angin abal-abal itu, ada beberapa tips simpel yang bisa dilakukan:
- Gunakan Alas: Karpet, tikar, atau bantal duduk bukan cuma buat pajangan. Gunakan itu sebagai isolator agar suhu dingin ubin nggak langsung kontak dengan kulitmu.
- Pakai Kaus Kaki: Kadang rasa dingin itu masuknya dari telapak kaki. Melindungi kaki tetap hangat bisa sangat membantu menjaga suhu tubuh secara keseluruhan.
- Ubah Posisi: Jangan mager. Setiap 20-30 menit, coba ubah posisi duduk atau berdiri sebentar supaya aliran darah lancar dan otot nggak kaku.
- Jaket atau Scarf: Kalau memang tahu bakal lama duduk di bawah, lindungi area perut dan punggung dengan pakaian yang cukup hangat.
Kesimpulannya, duduk di lantai sebenarnya nggak secara langsung memasukkan "angin" ke dalam tubuh dalam arti harfiah. Namun, paparan suhu dingin yang ekstrem dan durasi yang kelamaan memang bisa bikin tubuh nggak nyaman, perut kembung, dan otot pegal yang gejalanya mirip dengan apa yang kita sebut masuk angin. Jadi, tetaplah lesehan, karena di sanalah letak solidaritas, tapi jangan lupa pakai alas ya, Bestie! Biar nggak sibuk cari koin buat kerokan di tengah malam.
Next News

English Language Day 23 April: Kenapa Bahasa Inggris Menjadi Bahasa Global?
6 hours ago

Hari Buku Sedunia 23 April: Mengapa Membaca Tetap Penting di Era Video Pendek Sekarang Ini?
6 hours ago

Benarkah Golongan Darah Tertentu Lebih Disukai Nyamuk?
6 hours ago

Benarkah Kita Sendirian? Menjawab Misteri Kehidupan di Alam Semesta yang Luas
in 6 hours

Tak Hanya Pintar Berhitung, Ini 6 Kebiasaan Unik yang Sering Dimiliki Orang dengan IQ Tinggi
in 6 hours

Sering Dijuluki Generasi Jompo? Waspada, Nyeri Lutut dan Pinggul Bisa Jadi Tanda Masalah Serius
in 6 hours

Fakta dan Mitos tentang Golongan Darah
7 hours ago

Mengenal Filler Wajah: Dari Bibir hingga Dagu, Apa yang Sebenarnya Disuntikkan?
7 hours ago

Alasan Rumah di Amerika Serikat Banyak Memiliki Basement
in 5 hours

Rahasia Kamar Mandi Selalu Bersih Tanpa Ribet
in 5 hours





