Jumat, 29 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tips Menghadapi Insecurity Akibat Standar Kecantikan Masa Kini

RAU - Wednesday, 27 May 2026 | 04:15 PM

Background
Tips Menghadapi Insecurity Akibat Standar Kecantikan Masa Kini

Antara Skincare Sepuluh Tahap dan Standar Cantik yang Gak Ada Habisnya

Pernah gak sih kalian bangun tidur, niatnya mau langsung cuci muka, tapi malah terjebak di depan cermin selama sepuluh menit cuma buat meratapi satu jerawat kecil yang muncul di jidat? Padahal jerawat itu ukurannya gak lebih gede dari butiran nasi, tapi rasanya kayak dunia mau kiamat. Fenomena ini bukan hal aneh lagi di zaman sekarang. Kecantikan, atau yang sering kita sebut sebagai "beauty standards", sudah bergeser dari sekadar kebutuhan penampilan menjadi sebuah obsesi, hobi, sekaligus beban pikiran yang kadang bikin dompet nangis.

Kalau kita tarik mundur ke sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, definisi cantik di Indonesia itu simpel banget, tapi sekaligus toksik: putih, tinggi, rambut lurus, dan hidung mancung. Iklan sabun cuci muka zaman dulu selalu nampilin model yang mendadak jadi bersinar setelah sekali bilas. Efeknya? Banyak dari kita yang merasa "kurang" cuma karena lahir dengan kulit sawo matang atau rambut keriting. Tapi syukurlah, pelan-pelan narasi itu mulai basi. Sekarang kita punya istilah glow up yang lebih inklusif, meskipun ya tetap saja, perjalanannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Skincare: Investasi atau Sekadar FOMO?

Coba cek meja rias kalian. Ada berapa botol yang nangkring di sana? Ada toner, essence, serum yang isinya bahan kimia yang namanya mirip hafalan ujian kimia SMA—seperti Niacinamide, Retinol, sampai Hyaluronic Acid. Dulu, pakai pelembap saja sudah merasa paling rajin sedunia. Sekarang? Kalau belum pakai sepuluh langkah skincare ala Korea, rasanya ada yang kurang. Kita jadi generasi yang sangat teredukasi soal skin barrier, tapi di saat yang sama, kita juga jadi generasi yang paling gampang kena racun TikTok.

Masalahnya, kecantikan sekarang sudah menjelma jadi gaya hidup konsumtif yang dibalut label self-care. Kita sering beralasan, "Gak apa-apa mahal, yang penting buat investasi muka masa depan." Padahal, kadang kita beli produk itu cuma karena takut ketinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO). Begitu ada brand lokal baru ngeluarin serum dengan kemasan estetik, tangan rasanya gatal mau checkout di marketplace. Padahal serum yang lama saja masih sisa separuh. Alhasil, bukannya jadi cantik paripurna, yang ada malah jerawat meradang karena kulit stres gonta-ganti produk terus.

Standar Ganda di Media Sosial

Ngomongin kecantikan gak bakal afdol kalau gak nyenggol media sosial. Instagram dan TikTok adalah dua sisi mata uang. Di satu sisi, mereka kasih ruang buat beauty enthusiast untuk berbagi tips yang bermanfaat banget. Tapi di sisi lain, filter-filter "ajaib" yang bisa bikin hidung jadi kecil dan kulit sehalus porselen itu bikin kita lupa gimana rupa asli manusia. Kita jadi sering membandingkan diri kita yang baru bangun tidur dengan orang di layar HP yang sudah pakai filter plus lighting ring light sepuluh tingkat kecerahan.



Ironisnya, sekarang lagi ngetren gerakan skin positivity atau bare face. Banyak influencer yang pamer wajah tanpa makeup, tapi tetep aja, wajah tanpa makeup mereka itu sudah lewat perawatan laser jutaan rupiah di klinik kecantikan ternama. Jadi, buat kita kaum mendang-mending yang budget perawatannya cuma cukup buat beli masker organik di minimarket, standar "natural" ini malah jadi standar baru yang makin susah dicapai. Cantik itu ternyata memang mahal, kawan.

Lokal Pride: Saat Brand Lokal Mulai Berkuasa

Tapi ada satu hal positif yang patut kita rayakan: kebangkitan brand kecantikan lokal. Kalau dulu kita merasa brand luar negeri selalu lebih oke, sekarang brand lokal malah jadi primadona. Kualitasnya gak main-main, bahkan banyak yang lebih cocok dengan iklim tropis kita dibanding produk luar yang formulanya kadang terlalu berat. Dari mulai Somethinc, Avoskin, sampai Scarlett, mereka berhasil membuktikan kalau cantik itu gak harus pakai produk impor yang harganya bikin kita puasa makan siang sebulan.

Munculnya brand lokal ini juga membawa keberagaman. Mereka mulai sadar kalau kulit orang Indonesia itu gak cuma satu warna. Sekarang cari foundation atau cushion dengan shade yang pas buat kulit sawo matang itu gampang banget. Gak ada lagi cerita muka jadi abu-abu monyet gara-gara salah pilih warna bedak yang terlalu putih. Ini adalah kemajuan besar dalam industri kecantikan kita, di mana "cantik" gak lagi dipatok pada satu standar warna kulit saja.

Kesimpulan: Cantik Itu Capek, tapi Perlu?

Pada akhirnya, mengejar kecantikan itu kayak lari di atas treadmill. Capek banget, keringatan, tapi sebenarnya kita gak pindah ke mana-mana kalau tujuannya cuma buat memuaskan mata orang lain. Standar kecantikan itu bakal terus berubah. Tahun ini trennya glass skin, tahun depan mungkin trennya muka matte ala-ala tahun 90-an lagi. Kalau kita terus-terusan ngikutin kemauan pasar, yang ada kita cuma bakal lelah mental dan bokek permanen.

Boleh banget kok kita dandan, pakai skincare mahal, atau perawatan di klinik. Gak ada yang salah dengan keinginan untuk terlihat menarik. Tapi, jangan sampai ritual kecantikan itu malah bikin kita benci sama diri sendiri pas lagi gak pakai apa-apa. Kecantikan yang paling hakiki—walaupun kedengarannya klise banget—adalah pas kita bisa ngaca dan bilang, "Oke, gue hari ini oke banget," meskipun ada bekas jerawat atau kantung mata segede gaban. Karena jujur saja, secanggih apa pun skincare-mu, obat paling ampuh buat tampil cantik adalah rasa percaya diri dan tidur yang cukup (yang terakhir ini biasanya yang paling susah dilakukan anak muda zaman sekarang).



Jadi, buat kalian yang masih berjuang dengan jerawat, kulit kusam, atau insecure karena merasa gak secantik mbak-mbak di TikTok, santai saja. Kita semua cuma manusia biasa yang kulitnya punya tekstur, pori-pori, dan bisa kusam kalau lagi stres. Nikmati saja proses merawat diri sebagai bentuk terima kasih sama tubuh, bukan sebagai ajang kompetisi yang gak ada garis finisnya.