Selasa, 24 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tips Khusyuk Sholat Tarawih di Rumah dan Masjid

RAU - Friday, 20 February 2026 | 04:20 PM

Background
Tips Khusyuk Sholat Tarawih di Rumah dan Masjid

Seni Mengatur Hati Agar Tarawih Nggak Sekadar 'Setoran' Rakaat

Ramadhan sudah tiba, dan seperti biasa, suasana malam jadi lebih hidup. Ada suara petasan (meski sudah dilarang), aroma takjil yang masih tersisa di meja makan, dan tentu saja, panggilan sholat Tarawih. Tapi jujurly, kita sering kali menghadapi dilema klasik: antara semangat ibadah yang menggebu-gebu di awal bulan, atau rasa kantuk luar biasa setelah menyantap kolak dan gorengan dalam jumlah yang nggak masuk akal.

Pernah nggak sih, lagi sujud di rakaat kedelapan, tiba-tiba kepikiran besok mau buka pakai apa? Atau pas lagi berdiri dengerin imam baca surat panjang, malah bengong mikirin cicilan atau tugas kantor yang belum kelar? Tenang, kamu nggak sendirian. Sholat Tarawih memang punya tantangan tersendiri karena jumlah rakaatnya yang lumayan menguras fisik. Supaya Tarawih kita—baik di masjid maupun di rumah—nggak cuma jadi ritual "setoran" fisik tanpa makna, ada beberapa trik biar kita bisa lebih khusyuk dan nggak berasa beban.

Pondasi Awal: Jangan "Balas Dendam" Pas Buka Puasa

Kesalahan fatal yang sering dilakukan umat muslim di muka bumi ini adalah makan berlebihan saat adzan Maghrib berkumandang. Memang sih, godaan es buah dan gorengan itu sulit ditepis. Tapi kalau perut sudah sekeras batu gara-gara kekenyangan, jangan harap bisa khusyuk. Yang ada malah perut terasa begah, nafas pendek-pendek, dan bawaannya pengen cepat selesai biar bisa rebahan.

Tipsnya simpel tapi berat dilakukan: makan secukupnya. Anggap saja makan Maghrib itu cuma "pemanasan". Makan besarnya nanti saja setelah pulang Tarawih. Dengan perut yang nggak terlalu penuh, aliran oksigen ke otak lebih lancar, dan gerakan sholat jadi terasa lebih enteng. Ingat, khusyuk itu datang dari ketenangan, bukan dari rasa kenyang yang bikin bego.

Menghadapi Dinamika di Masjid: Fokus di Tengah Keramaian

Sholat di masjid memang punya energi yang beda. Ada rasa kebersamaan yang bikin kita semangat. Tapi, masjid juga penuh distraksi. Ada anak kecil yang lari-larian kayak lagi simulasi tawuran, ada bapak-bapak yang batuknya sahut-sahutan, sampai suara kipas angin yang bunyinya lebih kencang daripada suara imam.



Biar tetap fokus, pilihlah posisi shaf yang strategis. Jangan terlalu mepet ke pintu kalau kamu gampang terdistraksi dengan orang lewat. Kalau bisa, datang lebih awal biar dapat tempat di depan. Kenapa? Karena biasanya barisan depan itu diisi oleh orang-orang yang "niat banget", jadi auranya menular. Selain itu, kalau kamu dengerin suara imam dari jarak dekat, fokus telinga bakal lebih terarah. Jangan lupa juga pakai parfum atau minyak wangi favorit yang aromanya menenangkan. Bau badan sendiri yang segar bisa meningkatkan mood ibadah, lho.

Strategi Tarawih di Rumah: Lawan Godaan Kasur dan Smartphone

Buat yang lebih nyaman Tarawih di rumah—mungkin karena alasan kesehatan atau emang lebih suka kesunyian—tantangannya beda lagi. Lawan terberatnya bukan anak kecil lari-larian, tapi godaan kasur yang cuma berjarak dua meter dari sajadah. Belum lagi smartphone yang terus-terusan nyala notifikasinya.

Kunci biar khusyuk di rumah adalah menciptakan "atmosfer masjid". Jangan sholat pakai baju tidur yang bau keringat seharian. Mandi dulu, pakai baju terbaik, dan pasang wangi-wangian. Jauhkan HP, kalau perlu matikan internetnya selama 30-45 menit. Sholatlah di ruangan yang bersih dan minim barang berantakan. Mata kita itu sering "jalan-jalan" pas lagi sholat, jadi kalau ruangan rapi, pikiran juga nggak gampang buyar.

Memahami Bacaan: Biar Nggak Cuma 'Nungguin' Amin

Ini adalah level pro dalam mencari kekhusyukan. Banyak dari kita yang kalau sholat cuma sekadar hafal gerakan, tapi nggak paham apa yang diucap. Akhirnya, pikiran melayang ke mana-mana. Coba deh, mulai cicil baca terjemahan surat-surat pendek atau doa-doa dalam sholat. Kalau kita tahu arti dari apa yang kita ucapkan, hati bakal lebih "nyambung" sama sang Pencipta.

Nggak perlu langsung hafal satu Al-Quran. Mulai dari mengerti arti Al-Fatihah dengan mendalam atau beberapa surat di juz 30. Saat imam baca surat, coba cari kata-kata yang kita paham artinya. Itu bakal bikin kita lebih "hadir" di dalam sholat tersebut, bukannya malah asyik menghitung sudah berapa rakaat yang terlewati.



Mindset: Tarawih Itu Me-Time, Bukan Beban

Terakhir, ubah mindset kita. Seringkali kita melihat Tarawih sebagai "kewajiban tambahan" yang bikin capek. Padahal, kalau dilihat dari sudut pandang lain, Tarawih adalah momen slow living yang sebenarnya. Bayangkan, di tengah dunia yang serba cepat dan berisik, kita dikasih waktu khusus buat berdiri tenang, sujud, dan curhat sama Tuhan.

Nggak usah balapan sama masjid sebelah yang Tarawihnya cuma 7 menit. Nikmati setiap ruku' dan sujudnya. Kalau capek berdiri, ya istirahat sebentar pas jeda antar rakaat. Nggak ada yang ngejar-ngejar, kok. Anggap saja ini waktu istirahat buat mental kita setelah seharian kerja atau kuliah. Dengan menganggap Tarawih sebagai bentuk self-care spiritual, rasa ikhlas itu bakal muncul sendiri, dan khusyuk nggak lagi jadi sesuatu yang sulit dicapai.

Jadi, nanti malam mau di masjid atau di rumah nih? Di mana pun tempatnya, yang penting kualitasnya. Jangan sampai kita cuma dapat capeknya doang, sementara pahala dan ketenangan hatinya menguap begitu saja. Selamat ber-Tarawih dengan santai dan penuh makna!