Timbangan Naik Bukan Akhir Dunia, tapi Ya Jangan Cuek-cuek Amat Juga
Liaa - Thursday, 26 February 2026 | 05:55 AM


Timbangan Naik Bukan Akhir Dunia, tapi Ya Jangan Cuek-cuek Amat Juga
Pernah nggak sih lo lagi asik-asik ngaca, terus tiba-tiba merasa kancing celana kok kayak lagi demo? Rasanya sesak, pengen lepas, dan seolah-olah berteriak minta tolong. Atau momen paling horor sejagat raya: ketemu saudara jauh di acara nikahan dan kalimat pertamanya bukan "Apa kabar?" melainkan "Wah, sekarang makin makmur ya?" Kita semua tahu "makmur" di sini adalah kode halus buat bilang kalau pipi kita sudah mulai menyaingi bakpao hangat di pinggir jalan.
Masalah berat badan berlebih atau yang bahasa keren medisnya obesitas, sering kali cuma dipandang dari kacamata estetika. Banyak yang stres karena merasa nggak pede pakai baju yang agak fit body, atau pusing tujuh keliling gara-gara angka di timbangan geser ke kanan terus. Tapi, jujur deh, apakah bahayanya cuma sebatas susah cari ukuran baju di mall? Ternyata, ceritanya jauh lebih dalam dan sedikit lebih gelap dari sekadar urusan penampilan luar.
Lemak yang Diam-Diam Menghanyutkan
Mari kita bicara jujur. Punya badan berisi itu sebenarnya nggak masalah kalau lo merasa sehat dan bugar. Masalahnya, lemak di tubuh kita itu bukan sekadar "cadangan makanan" yang pasif. Lemak, terutama yang numpuk di perut (lemak viseral), itu ibarat mantan yang toksik. Dia nggak cuma diam, tapi aktif memproduksi zat-zat peradangan yang bisa mengacaukan sistem kerja organ di dalam tubuh.
Bayangin jantung lo itu kayak mesin pompa air. Kalau badan lo terlalu berat, si mesin ini dipaksa kerja lembur bagai kuda setiap detik, setiap hari, tanpa ada uang lemburan. Belum lagi pembuluh darah yang mulai menyempit karena kerak-kerak lemak yang numpuk. Akhirnya apa? Tekanan darah tinggi atau hipertensi pun datang mengetuk pintu tanpa diundang. Kalau sudah begini, risiko stroke atau penyakit jantung bukan lagi sekadar mitos di brosur puskesmas, tapi ancaman nyata yang tinggal nunggu waktu.
Diabetes dan Jebakan Batman Makanan Manis
Siapa sih yang nggak suka boba atau kopi susu gula aren yang manisnya selangit? Di tengah gempuran tren makanan kekinian, berat badan berlebih sering kali jadi gerbang utama menuju diabetes tipe 2. Tubuh kita itu punya hormon bernama insulin yang tugasnya mengolah gula jadi energi. Tapi kalau lemak sudah terlalu banyak, sel-sel tubuh mulai "mogok" dan nggak mau nurut lagi sama insulin. Fenomena ini namanya resistensi insulin.
Akibatnya, gula menumpuk di darah, dan lo bakal merasa cepat haus, cepat lapar, tapi badannya malah makin lemas. Ini ironis banget, kan? Ibarat lo berada di tengah lautan tapi kehausan karena nggak bisa minum airnya. Diabetes ini kalau didiamkan bisa merembet ke mana-mana, mulai dari kerusakan saraf sampai gangguan penglihatan. Jadi, kenaikan berat badan itu sebenarnya adalah sinyal darurat dari tubuh lo yang minta tolong supaya pola makan segera dibenahi.
Sendi yang Mulai Teriak "Ampun!"
Pernah merasa lutut bunyi "krak" pas lagi berdiri atau naik tangga? Atau pinggang rasanya jompo banget padahal umur masih kepala dua atau tiga? Nah, berat badan berlebih itu memberikan beban tambahan yang nggak main-main buat sendi-sendi kita. Tulang dan sendi punya batas maksimal buat menopang beban. Kalau setiap hari mereka harus menanggung beban ekstra 10 atau 20 kilogram, ya nggak heran kalau mereka cepat aus.
Kondisi ini sering disebut osteoartritis. Rasanya perih, kaku, dan bikin ruang gerak kita jadi terbatas. Ujung-ujungnya, karena sakit buat bergerak, kita jadi makin malas olahraga (mager), dan berat badan pun makin naik lagi. Ini namanya lingkaran setan yang nggak akan putus kalau kita nggak berani ambil langkah pertama buat berubah.
Bukan Cuma Fisik, Mental Juga Kena Hit
Bahaya berat badan berlebih nggak cuma berhenti di organ dalam. Kesehatan mental kita juga taruhannya. Di zaman media sosial yang penuh dengan standar kecantikan yang nggak masuk akal, punya berat badan berlebih sering kali bikin orang merasa "kurang." Rasa insecure, rendah diri, sampai depresi sering kali membayangi mereka yang berjuang dengan masalah berat badan.
Belum lagi stigma negatif dari lingkungan sekitar yang sering kali menganggap orang dengan berat badan berlebih itu malas atau nggak punya kontrol diri. Padahal, urusan berat badan itu kompleks, ada faktor genetik, hormonal, hingga akses terhadap makanan sehat yang mahal harganya. Tekanan mental ini bisa bikin orang malah makin stres, dan pelariannya? Ya makan lagi. Emotional eating ini yang sering bikin usaha diet jadi gagal total.
Terus, Kita Harus Gimana?
Oke, setelah baca paparan horor di atas, jangan langsung panik terus besoknya cuma makan es batu demi kurus instan. Itu malah lebih bahaya. Kuncinya bukan jadi "kurus" dalam semalam, tapi jadi lebih sehat secara bertahap. Mulailah dari hal-hal kecil yang masuk akal. Kurangi porsi minuman manis, coba jalan kaki 15 menit sehari, atau sesederhana perbanyak minum air putih sebelum makan.
Ingat, kesehatan itu investasi jangka panjang, bukan proyek semalam yang selesai pas fajar menyingsing. Jangan diet karena benci sama bayangan di cermin, tapi dietlah karena lo sayang sama tubuh lo dan pengen tetap sehat sampai tua nanti. Berat badan ideal itu bonus, yang utama adalah tubuh yang berfungsi dengan baik tanpa rasa sakit yang aneh-aneh. Jadi, yuk, mulai lebih peka sama sinyal-sinyal yang dikasih tubuh kita sendiri!
Next News

Antara Benci dan Rindu, Inilah Daya Tarik Magis Jengkol
in 5 hours

Lobak Putih, Detoks Alami buat Hati dan Ginjal
in 5 hours

Diet Besok Terus? Inilah 5 Cara Realistis Turunkan Berat Badan Tanpa Harus Menyiksa Diri
in 5 hours

Sering Basah Kuyup Sendirian? Kenali Penyebab Keringat Berlebih
in 5 hours

Angin Duduk: Bukan Masuk Angin Biasa, Waspada Tanda Penyakit Jantung
in 3 hours

Benarkah Tertawa Bisa Meningkatkan Imunitas?
in 3 hours

Bekam: Terapi Kuno yang Masih Bertahan, Bagaimana Menurut Sains?
18 hours ago

Waspada!Perut Buncit Bukan Hanya Sekadar Lemak Biasa.
18 hours ago

Apa Itu Penyakit Autoimun? Saat Tubuh "Salah Kenal" dan Menyerang Dirinya Sendiri
18 hours ago

Kaum Jompo Wajib Tahu: Beda Neurobion Biru dan Neurobion Forte
7 hours ago





