Kamis, 19 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tempe: Dari 'Makanan Ndeso' hingga Jadi Superfood yang Bikin Ilmuwan Geleng-geleng

Liaa - Thursday, 19 March 2026 | 05:00 PM

Background
Tempe: Dari 'Makanan Ndeso' hingga Jadi Superfood yang Bikin Ilmuwan Geleng-geleng

Tempe: Dari 'Makanan Ndeso' hingga Jadi Superfood yang Bikin Ilmuwan Geleng-geleng

Bayangin deh, lo lagi duduk di warteg langganan, nungguin pesanan nasi rames yang lauknya ada usus pedas, sambal hijau, dan tentu saja—sang primadona abadi—tempe orek yang garing-garing manis. Pernah nggak sih kepikiran, di balik sepotong balok putih yang harganya cuma seribu-dua ribu per potong itu, ada sebuah proses sains tingkat tinggi yang sudah dipraktikkan nenek moyang kita berabad-abad lalu?

Tempe itu bukan sekadar kedelai yang dikasih jamur terus kelar. Tempe itu seni. Tempe itu teknologi. Kalau kita mau jujur, tempe adalah salah satu bukti paling sahih kalau orang Indonesia itu dari dulu sudah jenius soal urusan perut. Di saat bangsa lain baru heboh soal plant-based diet akhir-akhir ini, kita mah sudah santuy makan tempe dari zaman Kerajaan Mataram Kuno. Yuk, kita bedah rahasia di balik 'keajaiban' fermentasi tempe yang mungkin belum lo tahu.

1. Sihir Rhizopus Oligosporus: Si Arsitek Putih

Pernah perhatiin nggak serabut-serabut putih yang menyelimuti tempe? Itu bukan sekadar hiasan atau 'bulu-bulu' nggak jelas. Namanya Rhizopus oligosporus. Jamur inilah yang jadi motor utama proses fermentasi. Tugasnya gila banget: dia merajut butiran kedelai yang tadinya terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang solid.

Hebatnya lagi, si jamur ini nggak cuma 'ngelem' kedelai. Dia memproduksi enzim yang memecah protein kompleks di dalam kedelai menjadi asam amino yang jauh lebih gampang diserap tubuh kita. Jadi, ibaratnya si jamur ini sudah 'ngunyahin' makanan kita duluan secara kimiawi, biar usus kita nggak perlu kerja rodi pas mencernanya. Keren, kan?

2. Anti-Nutrisi yang 'Dilenyapkan' Secara Alami

Ini fakta yang jarang orang tahu. Kedelai mentah itu sebenarnya punya zat yang namanya asam fitat. Zat ini agak menyebalkan karena dia suka 'mengikat' mineral kayak kalsium, zat besi, dan zinc, sehingga susah diserap tubuh. Nah, di sinilah keajaiban fermentasi tempe bekerja.



Selama proses fermentasi, kadar asam fitat ini turun drastis. Artinya, nutrisi dalam tempe itu lebih 'available' buat tubuh lo dibanding kalau lo makan kedelai rebus biasa. Makanya, kalau ada yang bilang makan tempe itu cuma buat kaum ekonomi lemah, kasih tahu mereka kalau tempe itu sebenarnya 'cheat code' buat dapet nutrisi maksimal dengan harga minimal.

3. Sumber Vitamin B12 yang Langka

Buat temen-temen yang menjalani gaya hidup vegan atau vegetarian, tempe itu ibarat oase di tengah gurun. Kenapa? Karena biasanya Vitamin B12 itu cuma ada di produk hewani kayak daging atau telur. Tapi gara-gara proses fermentasi yang melibatkan bakteri-bakteri baik (selain jamur utamanya), tempe ternyata mengandung Vitamin B12 dalam jumlah yang lumayan.

Meskipun jumlahnya bervariasi tergantung kebersihan dan cara produksinya, fakta bahwa makanan nabati punya B12 itu sesuatu yang bikin ilmuwan Barat sempat bingung. Ini yang bikin tempe sekarang naik kasta di luar negeri dan nangkring di menu-menu restoran mewah di London atau New York dengan label superfood.

4. Tempe Itu 'Bernapas' dan Punya Suhu Tubuh

Kalau lo pernah mampir ke pabrik tempe tradisional atau coba bikin sendiri di rumah, lo bakal sadar kalau tempe yang lagi difermentasi itu terasa hangat kalau dipegang. Kenapa? Karena proses fermentasi itu adalah proses metabolisme yang aktif. Si jamur itu lagi 'kerja bakti', dan hasil sampingannya adalah energi panas.

Itulah kenapa tukang tempe harus pintar-pintar mengatur sirkulasi udara. Kalau terlalu tertutup, tempe bisa kepanasan (overheat) dan akhirnya busuk. Kalau terlalu dingin, si jamur males tumbuh. Jadi, bikin tempe itu sebenarnya mirip kayak ngerawat bayi; butuh suhu yang pas dan kasih sayang yang tulus. Bukan sekadar taruh kedelai terus ditinggal tidur.



5. Evolusi dari 'Mental Tempe' Jadi 'Kekuatan Tempe'

Dulu ada istilah buruk yang namanya "Mental Tempe" untuk menggambarkan sesuatu yang lembek atau lemah. Tapi zaman sekarang, istilah itu sudah nggak relevan lagi. Tempe justru jadi simbol ketahanan pangan dan gaya hidup sehat.

Opini pribadi gue sih, kita harusnya bangga banget punya tempe. Bayangin, modalnya cuma kedelai, ragi, dan daun pisang (atau plastik, walau daun pisang lebih oke aromanya), tapi hasilnya adalah sumber protein yang kualitasnya bersaing sama daging sapi. Belum lagi kandungan probiotiknya yang bikin pencernaan lo lancar jaya. Tempe itu solusi buat masalah stunting, solusi buat diet hemat, dan tentu saja solusi buat lidah yang lagi pengen makanan enak.

6. Lebih dari Sekadar Digoreng

Walaupun tempe goreng tepung (mendoan) itu surganya dunia, fakta menarik lainnya adalah nutrisi tempe tetap terjaga paling maksimal kalau diolah dengan cara dikukus atau dipanggang sebentar. Fermentasi tempe juga menciptakan rasa 'umami' alami yang kuat. Itulah alasan kenapa tempe kalau dimasak apa aja tetap enak—mau dijadikan steak, diancur jadi nugget, atau bahkan ada yang bereksperimen jadi cokelat tempe.

Intinya, fermentasi tempe adalah sebuah mahakarya bioteknologi tradisional yang diwariskan leluhur kita. Dia sederhana, tapi di dalamnya ada kompleksitas luar biasa. Jadi, mulai sekarang, jangan pernah mandang sebelah mata sama sepotong tempe di piring lo. Di situ ada jutaan mikroba yang bekerja keras demi kesehatan lo. Tetap makan tempe, tetap sehat, dan jangan lupa bangga sama produk asli lokal yang sudah mendunia ini!