Kamis, 15 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tekanan untuk Terlihat Sukses Bisa Memengaruhi Kesehatan Mental Anak Muda

Laila - Thursday, 15 October 2026 | 09:29 AM

Background
Tekanan untuk Terlihat Sukses Bisa Memengaruhi Kesehatan Mental Anak Muda

Masa muda sering dianggap sebagai periode untuk mengejar pendidikan, membangun karier, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan masa depan. Namun, di tengah berbagai tuntutan tersebut, sebagian anak muda juga menghadapi tekanan untuk menunjukkan bahwa mereka telah berhasil mencapai sesuatu dalam hidup.

Keberhasilan terkadang dinilai melalui hal-hal yang mudah terlihat, seperti pekerjaan dengan gaji tinggi, kepemilikan kendaraan, pakaian bermerek, pencapaian akademik, atau kesempatan berlibur ke berbagai tempat. Gambaran tersebut semakin mudah ditemukan melalui media sosial yang memungkinkan seseorang membagikan pencapaian dan aktivitas sehari-hari kepada banyak orang.

Di satu sisi, melihat keberhasilan orang lain dapat memberikan inspirasi. Namun, di sisi lain, paparan terhadap kehidupan yang tampak sempurna dapat membuat sebagian anak muda merasa harus mencapai standar serupa dalam waktu yang sama. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, perasaan kecewa dan tidak percaya diri dapat muncul.

Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri

Media sosial menjadi salah satu ruang yang dapat memperkuat tekanan untuk terlihat sukses. Unggahan tentang kelulusan, pekerjaan baru, pencapaian finansial, dan gaya hidup mewah sering kali menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang.



Masalahnya, pengguna tidak selalu mengetahui proses panjang, kesulitan, atau kegagalan yang terjadi di balik unggahan tersebut. Akibatnya, kehidupan orang lain dapat terlihat lebih mudah dan lebih berhasil dibandingkan kehidupan sendiri.

Sebagian anak muda kemudian mulai mempertanyakan pencapaiannya. Mereka mungkin merasa tertinggal karena belum memperoleh pekerjaan tetap, belum memiliki penghasilan sesuai harapan, atau belum mencapai target yang ditetapkan oleh lingkungan sosial.

Jika perbandingan ini terus berlangsung, penilaian terhadap diri sendiri dapat semakin bergantung pada pencapaian orang lain. Padahal, setiap orang memiliki kondisi keluarga, kesempatan, kemampuan, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Tuntutan Keluarga dan Lingkungan Sosial

Tekanan untuk sukses tidak hanya berasal dari media sosial. Harapan keluarga, teman sebaya, dan lingkungan masyarakat juga dapat memengaruhi cara anak muda memandang keberhasilan.



Sebagian anak muda merasa harus segera mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi setelah lulus kuliah. Ada pula yang merasa perlu membantu perekonomian keluarga, membangun usaha, atau mencapai kestabilan finansial dalam waktu singkat.

Harapan tersebut tidak selalu berdampak negatif. Dukungan dan dorongan dari keluarga dapat membantu seseorang berkembang. Namun, ketika tuntutan terlalu tinggi dan tidak disertai pemahaman terhadap kemampuan atau kondisi individu, tekanan tersebut dapat menjadi beban emosional.

Anak muda mungkin merasa takut mengecewakan orang lain ketika mengalami kegagalan. Bahkan, sebagian orang dapat menyembunyikan kesulitan yang dihadapi karena khawatir dianggap tidak kompeten atau tidak mampu bersaing.

Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Tekanan untuk selalu terlihat berhasil dapat memengaruhi kesehatan mental melalui berbagai cara. Salah satunya adalah meningkatnya kecemasan terhadap masa depan. Seseorang mungkin terus memikirkan apakah dirinya sudah cukup sukses, apakah pencapaiannya sesuai harapan, atau apakah orang lain menilainya secara negatif.



Selain itu, tekanan tersebut dapat memicu rendahnya kepercayaan diri. Ketika keberhasilan hanya diukur melalui pendapatan, status pekerjaan, atau pengakuan sosial, pencapaian pribadi yang sebenarnya bermakna bisa terasa kurang berharga.

Perasaan tidak puas terhadap diri sendiri juga dapat memengaruhi kebahagiaan sehari-hari. Seseorang mungkin sulit menikmati proses yang sedang dijalani karena terus berfokus pada hal-hal yang belum dimiliki.

Dalam kondisi tertentu, tekanan berkepanjangan dapat mengganggu kualitas tidur, konsentrasi, hubungan sosial, dan motivasi menjalankan aktivitas. Namun, dampaknya tidak sama pada setiap orang dan tidak berarti semua anak muda yang mengejar kesuksesan akan mengalami gangguan kesehatan mental.

Apabila kecemasan, kesedihan, atau tekanan emosional berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang tepercaya atau tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.

Budaya Produktivitas dan Ketakutan Tertinggal



Selain media sosial, budaya yang menekankan produktivitas tanpa henti juga dapat memperkuat tekanan tersebut. Anak muda sering dihadapkan pada gagasan bahwa waktu harus selalu dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu, meningkatkan keterampilan, atau mengejar pencapaian baru.

Keinginan untuk berkembang tentu dapat memberikan manfaat. Namun, jika setiap waktu istirahat dianggap sebagai kemalasan dan setiap kegagalan dipandang sebagai bukti ketidakmampuan, seseorang dapat kesulitan menjaga keseimbangan hidup.

Perasaan takut tertinggal dari teman sebaya juga dapat mendorong seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru. Misalnya, memilih pekerjaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pribadi hanya demi terlihat berhasil atau memaksakan gaya hidup di luar kemampuan finansial.

Padahal, perkembangan karier dan kehidupan tidak selalu berlangsung dalam urutan yang sama. Ada orang yang lebih cepat menemukan pekerjaan, sementara orang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk menentukan arah yang sesuai.

Cara Mengurangi Tekanan untuk Selalu Terlihat Sukses



Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menentukan ukuran kesuksesan berdasarkan tujuan pribadi. Keberhasilan tidak harus selalu berupa penghasilan tinggi atau pengakuan dari banyak orang. Mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, menjaga kesehatan, mengembangkan keterampilan, dan membangun hubungan yang sehat juga merupakan pencapaian yang berarti.

Anak muda juga dapat membatasi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Mengurangi waktu melihat konten yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan memilih akun yang memberikan informasi bermanfaat dapat membantu menciptakan pengalaman digital yang lebih sehat.

Selain itu, penting untuk memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat. Waktu luang bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berkembang. Istirahat yang cukup justru membantu menjaga energi, konsentrasi, dan kemampuan menghadapi tantangan.

Berbicara secara terbuka dengan keluarga atau teman tepercaya juga dapat membantu mengurangi beban emosional. Ketika tekanan terasa berat, seseorang tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian. Dukungan sosial dapat membantu menghadirkan sudut pandang yang lebih realistis terhadap masalah yang dihadapi.

Tidak kalah penting, anak muda perlu memahami bahwa kegagalan dan perubahan rencana merupakan bagian dari proses kehidupan. Tidak semua target dapat tercapai sesuai jadwal, dan hal tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang gagal dalam hidupnya.



Kesuksesan Tidak Harus Terlihat Sempurna

Tekanan untuk terlihat sukses dapat membuat anak muda lebih berfokus pada penilaian orang lain daripada kebutuhan dan kesejahteraan dirinya sendiri. Padahal, kehidupan yang tampak mengesankan di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi seseorang secara menyeluruh.

Kesuksesan sebaiknya tidak hanya diukur dari apa yang dapat dipamerkan, tetapi juga dari kemampuan menjalani kehidupan secara sehat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai pribadi. Setiap orang memiliki perjalanan, tantangan, serta prioritas yang berbeda.

Dengan membangun standar keberhasilan yang lebih realistis, menjaga keseimbangan aktivitas, dan mencari dukungan ketika diperlukan, anak muda dapat mengejar cita-cita tanpa harus terus-menerus merasa terbebani oleh tuntutan untuk terlihat sempurna.