Sabtu, 10 Januari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Pendidikan

Ratusan Siswa Tapanuli Tengah Belajar di Tenda Pengungsian, Sekolah Semi Permanen Segera Dibangun

RAU - Friday, 09 January 2026 | 12:13 PM

Background
Ratusan Siswa Tapanuli Tengah Belajar di Tenda Pengungsian, Sekolah Semi Permanen Segera Dibangun

Ratusan siswa di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) hingga kini masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda-tenda pengungsian yang didirikan pemerintah pascabencana banjir dan tanah longsor pada November 2025 lalu.

Para siswa tersebut telah belajar di tenda darurat selama empat hari berturut-turut sejak Senin (5/1/2026). Proses pembelajaran dilakukan dengan sistem kelas gabungan, sementara tenaga pendidik tetap menyesuaikan pengajaran bagi siswa kelas rendah dan kelas tinggi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Tapanuli Tengah, Johannes Simanjuntak, menyampaikan bahwa pihaknya tengah merencanakan pembangunan sekolah semi permanen agar sistem kelas gabungan dapat dihapuskan.

“Kurang lebih ada 505 siswa yang saat ini belajar di tenda pengungsian. Kami mendirikan empat tenda yang tersebar di Hutanabolon I, Hutanabolon II, dan Desa Kebun Pisang. Proses belajar dilakukan secara bergantian antara kelas rendah dan kelas atas,” ujar Johannes, Kamis (8/1/2026).

Ia menambahkan, pemerintah daerah bersama pihak swasta saat ini sedang memetakan pembangunan sekolah darurat semi permanen. Meski masih memanfaatkan tenda, sistem pembelajaran nantinya tidak lagi menggunakan sistem shift.

“Kami mengupayakan pembangunan sekolah darurat semi permanen. Nantinya akan tersedia empat ruang kelas, sehingga seluruh siswa bisa belajar sesuai dengan tingkat kelasnya. Lahan sudah tersedia dan ditargetkan dalam dua minggu ke depan sekolah ini dapat dibangun,” jelasnya.

Meski berlangsung di tenda darurat, Johannes memastikan kurikulum yang digunakan adalah kurikulum bencana darurat, dengan pendekatan pembelajaran yang lebih menyenangkan.

“Pembelajaran di wilayah terdampak bencana difokuskan pada kegiatan yang ramah anak, termasuk trauma healing serta pendampingan psikososial yang dibantu para relawan,” katanya.

Ia menjelaskan, siswa terpaksa belajar di tenda karena sejumlah bangunan sekolah rusak parah, bahkan ada yang hilang tertimbun longsor.

“Sekolah di Desa Kebun Pisang misalnya, tertimbun longsor sepenuhnya. Di sana terdapat 101 siswa. Sementara di wilayah Hutanabolon, bangunan sekolah masih ada, namun belum dapat digunakan karena aliran sungai masih melintasi area sekolah,” ungkapnya.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan, bencana tersebut mengakibatkan 11 siswa dan tiga orang guru meninggal dunia. Sementara sekolah-sekolah yang tidak terdampak bencana kini telah kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara normal.

“Bagi siswa yang mengungsi ke Pandan dan beberapa kecamatan lainnya, kami gabungkan sementara ke sekolah terdekat. Proses belajar mengajar di sana sudah berjalan normal,” tambah Johannes.

Diketahui, total terdapat 368 sekolah di Tapanuli Tengah yang mengalami kerusakan akibat bencana, terdiri dari 126 PAUD, 192 SD, dan 50 SMP.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, meminta seluruh bupati dan wali kota di daerah terdampak bencana untuk segera menuntaskan pendataan penyintas banjir.

“Seharusnya pendataan sudah selesai. Saat rapat daring beberapa hari lalu, saya tegaskan hari ini merupakan batas akhir pendataan,” kata Bobby beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan percepatan pendataan diperlukan agar masyarakat terdampak dapat segera menerima bantuan kompensasi dari pemerintah.

“Dengan bantuan tersebut, warga yang rumahnya rusak sedang dapat segera kembali dan memperbaiki rumahnya,” ujarnya.

Adapun bagi penyintas banjir yang rumahnya tidak lagi layak huni, pemerintah akan memindahkan mereka ke hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap) yang saat ini masih dalam proses pembangunan.

“Targetnya Januari ini sudah mulai dilakukan pemindahan ke huntara atau huntap bagi warga yang rumahnya sudah tidak memungkinkan untuk ditempati,” jelas Bobby.

Next News