Senin, 12 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Pubertas pada Perempuan dan Laki-Laki: Sama atau Berbeda?

Laila - Wednesday, 19 August 2026 | 12:00 AM

Background
Pubertas pada Perempuan dan Laki-Laki: Sama atau Berbeda?

Pubertas pada Perempuan dan Laki-Laki: Sama atau Berbeda?

Ingat tidak momen ketika kamu duduk di kelas 5 atau 6 SD, lalu tiba-tiba merasa ada yang salah dengan tubuhmu? Bukan salah dalam artian sakit medis, tapi lebih ke arah "Kok aku jadi aneh begini ya?". Suara yang biasanya cempreng tiba-tiba pecah kayak radio rusak, atau mungkin kamu mulai merasa risih karena harus memakai miniset sementara teman-teman cowokmu masih asyik lari-larian tanpa beban. Selamat, itulah perkenalan pertamamu dengan monster yang bernama pubertas.

Pubertas itu ibarat sebuah software update besar-besaran yang datangnya sering kali tanpa permisi dan tanpa panduan manual yang jelas. Di mata sains, ini adalah transisi biologis. Tapi di mata kita yang menjalaninya, puber adalah fase paling awkward, penuh keringat, jerawat, dan emosi yang naik-turun kayak roller coaster di Dufan. Pertanyaannya: apakah pengalaman puber laki-laki dan perempuan itu sama? Jawabannya: mirip, tapi jalurnya beda arah.

Start yang Nggak Barengan

Kalau kita bicara soal balapan, anak perempuan biasanya curi start duluan. Secara umum, anak perempuan mulai masuk masa puber di usia 8 sampai 13 tahun. Sementara itu, anak laki-laki biasanya baru mulai "mesinnya panas" di usia 9 sampai 14 tahun. Makanya, jangan heran kalau pas zaman SMP dulu, siswi-siswi di kelas kelihatan jauh lebih tinggi dan lebih "dewasa" dibanding siswa laki-laki yang badannya masih mungil-mungil dan hobi main kartu di kolong meja.

Anak perempuan biasanya ditandai dengan pertumbuhan payudara sebagai sinyal pertama. Setelah itu, barulah disusul oleh pertumbuhan rambut di area-area "rahasia" dan puncaknya adalah menstruasi. Bagi banyak perempuan, momen menstruasi pertama atau menarche adalah sebuah milestone yang bikin panik sekaligus haru. Ada yang merayakannya, tapi lebih banyak yang bingung gimana cara pakai pembalut dengan benar tanpa merasa kayak pakai popok.

Di sisi lain, anak laki-laki memulai transformasinya dengan pertumbuhan testis dan penis. Nggak semenonjol perempuan, memang. Tapi perubahan yang paling ikonik buat cowok adalah suara. Suara yang tadinya halus tiba-tiba jadi berat dan nge-bass. Masa-masa transisi suara ini biasanya jadi bahan ceng-cengan teman sebaya karena sering kali suara itu "pecah" di tengah kalimat. Selain itu, munculnya jakun dan tumbuhnya rambut di wajah—mulai dari kumis tipis ala lele sampai jenggot—jadi tanda sah kalau mereka sudah bukan bocah lagi.



Jerawat dan Bau Badan: Musuh Bersama

Meskipun jalurnya beda, ada satu titik temu di mana laki-laki dan perempuan merasa senasib sepenanggungan: jerawat dan bau badan. Ini adalah efek samping dari hormon yang lagi aktif-aktifnya merangsang kelenjar minyak dan keringat. Di fase ini, parfum dan deodoran jadi barang wajib di tas sekolah. Kita mulai sadar kalau "bau matahari" itu nyata dan sangat mengganggu reputasi di depan gebetan.

Jerawat juga nggak pandang bulu. Dia bisa muncul di dahi, pipi, bahkan punggung. Buat remaja, satu jerawat di ujung hidung itu rasanya sudah kayak kiamat kecil. Padahal, itu cuma cara tubuh bilang, "Eh, hormonmu lagi kerja keras nih!". Bedanya, laki-laki cenderung punya kulit yang lebih berminyak karena hormon testosteron, sehingga jerawat mereka kadang lebih "brutal" dan bertahan lebih lama sampai usia dewasa muda.

Emosi yang Kayak Mi Instan: Cepat Panas!

Nah, ini bagian yang sering bikin orang tua di rumah geleng-geleng kepala. Pubertas bukan cuma soal fisik, tapi juga soal otak yang lagi di-remodeling. Hormon estrogen pada perempuan dan testosteron pada laki-laki punya cara unik buat mengacak-acak perasaan. Perempuan mungkin merasa lebih sensitif atau mudah sedih, terutama menjelang siklus menstruasi (halo, PMS!).

Sementara laki-laki, lonjakan testosteron sering kali bikin mereka jadi lebih gampang emosi, impulsif, atau merasa ingin berkompetisi terus. Pernah lihat anak cowok SMP yang tiba-tiba berantem cuma gara-gara masalah sepele? Ya, bisa jadi itu sisa-sisa energi testosteron yang nggak tahu mau disalurkan ke mana. Masalahnya, masyarakat sering menuntut laki-laki buat "nggak boleh nangis," padahal secara biologis, mereka juga lagi bingung sama perasaan sendiri.

Persepsi Sosial yang Berbeda

Jujur saja, ada observasi menarik soal gimana lingkungan melihat pubertas kita. Anak perempuan yang puber sering kali langsung dibebani dengan narasi "harus jaga diri." Tiba-tiba cara berpakaian diatur, cara duduk dikomentari, dan ada rasa malu yang disuntikkan secara sosial terkait perubahan fisiknya. Pubertas perempuan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus "disembunyikan" atau dibicarakan secara bisik-bisik.



Sebaliknya, pubertas laki-laki sering dirayakan sebagai simbol kejantanan. Tumbuh kumis? Keren. Suara berat? Wah, sudah jadi pria. Ada ketimpangan narasi di sini yang kadang bikin anak perempuan merasa pubertas itu beban, sementara laki-laki merasa itu adalah pencapaian. Padahal, keduanya sama-sama proses alami yang normal-normal saja.

Menikmati Masa Transisi

Jadi, apakah pubertas laki-laki dan perempuan itu sama? Secara garis besar, keduanya adalah proses pematangan organ reproduksi dan perubahan fisik menuju dewasa. Namun, secara detail biologis dan tekanan sosial, keduanya punya tantangan yang berbeda. Laki-laki dengan urusan jakun dan suaranya, perempuan dengan siklus bulanan dan perubahan bentuk tubuhnya.

Intinya, puber itu memang fase yang cringe kalau diingat-ingat lagi lewat foto lama. Tapi tanpa fase itu, kita nggak akan pernah jadi versi kita yang sekarang. Buat yang lagi menjalaninya: tenang saja, semua orang pernah merasa aneh dengan tubuhnya sendiri. Kuncinya cuma satu, jaga kebersihan, tetap percaya diri, dan jangan terlalu sering overthinking soal jerawat di jidat. Toh, semua temanmu juga lagi sibuk mikirin jerawat mereka sendiri!

Tags