Potong Kuku Pas Lagi Haid: Antara Tradisi, Paranoia, dan Fakta yang Sering Terlupakan
Liaa - Sunday, 29 March 2026 | 12:40 PM


Potong Kuku Pas Lagi Haid: Antara Tradisi, Paranoia, dan Fakta yang Sering Terlupakan
Bayangkan situasinya begini: kamu lagi di hari kedua haid. Perut rasanya kayak lagi diremes-remes raksasa, mood naik turun kayak wahana di Dufan, dan satu-satunya hal yang pengin kamu lakuin cuma rebahan sambil dengerin lagu galau. Terus, pas lagi asyik scrolling media sosial, kamu sadar kalau kuku tanganmu sudah mulai panjang dan tajam. Refleks, kamu ambil gunting kuku. Tapi tepat sebelum 'klik' pertama bunyi, tiba-tiba suara Mama atau nenek terngiang di telinga: "Eh, lagi dapet jangan potong kuku! Nanti harus dicuci pas mandi wajib, lho!"
Seketika itu juga, gunting kuku yang tadi sudah di tangan langsung ditaruh lagi. Ada rasa parno yang tiba-tiba muncul. Tapi di sisi lain, logika kamu mulai berontak. Memangnya apa hubungannya antara hormon yang lagi kacau di dalam rahim sama sel kuku yang sudah mati di ujung jari? Apakah kuku-kuku ini bakal menghantui kita di akhirat kalau nggak dicuci bareng rambut pas mandi besar nanti? Tenang, kamu nggak sendirian kok yang pernah terjebak dalam dilema kosmik ini.
Akar Mitos: Kenapa Sih Kita Dilarang?
Kalau kita telisik lebih dalam, larangan potong kuku (dan potong rambut) saat sedang haid ini sebenarnya berakar dari pemahaman tradisional yang cukup kuat di masyarakat kita. Argumen utamanya biasanya berkaitan dengan masalah kesucian. Dalam beberapa literatur klasik, ada pandangan yang menyebutkan bahwa setiap bagian tubuh yang terlepas dari kita saat dalam keadaan "hadats besar" (seperti haid atau nifas), harus ikut dibersihkan saat kita melakukan mandi wajib nantinya.
Logikanya begini: kalau kuku itu sudah dipotong dan dibuang ke tempat sampah, gimana caranya kita memandikan sesuatu yang sudah nggak ada di badan? Nah, dari sinilah muncul anggapan kalau bagian tubuh yang terpisah itu bakal "menuntut" karena mereka kembali ke tanah dalam keadaan tidak suci. Kedengarannya memang cukup menyeramkan dan bikin overthinking, apalagi kalau kamu tipe orang yang gampang cemas sama hal-hal metafisika.
Tapi jujurly, kalau kita pikir pakai logika praktis zaman sekarang, bayangkan betapa ribetnya hidup kalau kita harus mengumpulkan setiap helai rambut yang rontok di sisir atau di lantai kamar mandi selama 7 hari masa haid. Bisa-bisa kita malah lebih stres ngurusin sampah organik tubuh daripada ngurusin kram perut sendiri.
Kata Medis: Kuku Ya Kuku, Darah Ya Darah
Dari sisi medis, jujur saja, nggak ada satupun jurnal kesehatan atau penjelasan dokter yang melarang perempuan potong kuku saat lagi datang bulan. Secara biologis, kuku terdiri dari protein yang disebut keratin. Bagian kuku yang kita potong itu sebenarnya adalah sel mati. Makanya saat dipotong kita nggak ngerasa sakit, kan? Beda ceritanya kalau yang kamu potong itu jari, itu mah beda urusan.
Siklus menstruasi dikendalikan oleh hormon estrogen dan progesteron yang berurusan dengan lapisan rahim. Hubungannya sama kuku? Nyaris nol. Malah, kalau kamu membiarkan kuku panjang dan kotor pas lagi haid, risiko infeksi atau iritasi saat kamu lagi ganti pembalut atau membersihkan area kewanitaan justru lebih besar. Jadi, secara higienitas, punya kuku yang rapi dan bersih sebenarnya jauh lebih disarankan demi kesehatan area bawah sana yang lagi sensitif-sensitifnya.
Kadang kita terlalu fokus sama mitos "nggak boleh ini-itu" sampai lupa kalau esensi dari kebersihan saat haid itu nomor satu. Bayangkan kalau kuku kamu panjang terus nggak sengaja melukai kulit yang lagi lembap karena pembalut. Duh, perihnya bisa bikin pengin marah-marah ke seluruh dunia!
Gimana Pandangan Agama?
Nah, ini nih yang sering jadi perdebatan panas di grup WhatsApp keluarga. Kalau kita merujuk pada pendapat mayoritas ulama modern dan penjelasan dari lembaga-lembaga keagamaan yang kredibel, ternyata hukum memotong kuku saat haid itu diperbolehkan alias mubah. Tidak ada dalil kuat dalam Al-Quran maupun Hadits shahih yang secara eksplisit melarang perempuan haid untuk potong kuku atau rambut.
Banyak ulama menjelaskan bahwa hadits yang sering dijadikan dasar larangan tersebut derajatnya lemah (dha'if). Bahkan, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin memang pernah menyebutkan soal anjuran untuk tidak memotong bagian tubuh saat junub, tapi banyak ulama lain yang mengklarifikasi bahwa itu sifatnya hanya sebatas anjuran etika (adab) menurut pandangan sebagian orang, bukan sebuah keharusan apalagi hukum haram. Jadi, kalau kamu nekat potong kuku karena memang sudah nggak nyaman, kamu nggak berdosa kok. Nggak perlu merasa jadi "pendosa" cuma gara-gara pengin tampil rapi.
Kenapa Mitos Ini Masih Awet?
Kita hidup di lingkungan yang narasi "pamali"-nya masih sangat kuat. Seringkali, orang tua melarang sesuatu bukan karena mereka punya data sains di tangan, tapi karena itu cara mereka menunjukkan rasa peduli dan kehati-hatian. Ada semacam kenyamanan dalam mengikuti tradisi lama, karena ada rasa takut kalau-kalau "bagaimana kalau itu benar?".
Selain itu, masyarakat kita memang suka dengan hal-hal yang sifatnya ritualistik. Menganggap kuku harus dicuci saat mandi wajib itu memberikan kesan bahwa kita sangat teliti soal kesucian. Padahal, agama itu sendiri sebenarnya memudahkan, bukan mempersulit. Bayangkan kalau setiap perempuan yang sedang haid harus menyimpan potongan kukunya di dalam dompet atau plastik kecil sampai hari suci tiba. Itu malah kesannya jadi agak ngeri dan nggak higienis, kan?
Kesimpulan: Ikuti Logika dan Kenyamananmu
Jadi, potong kuku saat haid itu mitos atau fakta? Jawabannya jelas: Larangan itu adalah mitos. Secara medis aman, secara agama tidak dilarang secara tegas. Kalau kuku kamu sudah panjang, bikin risih, atau malah jadi sarang kuman, ya potong saja. Hidup pas lagi haid itu sudah cukup berat dengan mood swing dan nyeri punggung, jangan ditambah lagi dengan beban pikiran soal kuku yang nggak seberapa itu.
Tapi, kalau kamu memang merasa lebih tenang secara batin untuk menunggu sampai mandi wajib, ya silakan juga. Itu pilihan personal. Yang terpenting adalah kita tahu mana yang merupakan aturan baku dan mana yang sekadar tradisi lisan yang turun-temurun. Jangan sampai gara-gara mitos, kita malah abai sama kebersihan diri sendiri. Akhir kata, yuk lebih chill lagi menghadapi siklus bulanan. Mau potong kuku, mau potong rambut, atau mau potong anggaran belanja buat jajan seblak, lakukan saja selama itu bikin kamu merasa lebih baik!
Next News

Sering Buang Kulit Jeruk? Kamu Rugi Besar, Cek Alasannya!
in 5 hours

Becak Vespa Padangsidimpuan
in 5 hours

Berapa Lama Sebenarnya Cabai Giling Bisa Bertahan di Kulkas?
in 4 hours

Disneyland, Destinasi Impian untuk Melepas Penat dan Stres
in 4 hours

Lake Bled: Danau yang tampak seperti Negeri Dongeng di Slovenia
in 4 hours

Willis Haviland Carrier, Bapak Pendingin Udara Modern
in 4 hours

Solusi Estetik Buat Kaki yang Mirip Tanah Retak Musim Kemarau
in 2 hours

Manusia Hanya Menggunakan 10% Otaknya? Mitos atau Fakta?
a day ago

Nakizumo: Festival Bayi Menangis di Jepang
a day ago

Kacang Bisa Menyebabkan Jerawat. Mitos atau Fakta?
a day ago





