Minggu, 7 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 1.000 Pohon Khas Melayu Ditanam di Bantaran Sungai Deli

Laila - Sunday, 07 June 2026 | 01:07 PM

Background
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 1.000 Pohon Khas Melayu Ditanam di Bantaran Sungai Deli

Medan – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Kota Medan tahun ini diwarnai dengan aksi penghijauan melalui penanaman 1.000 pohon khas Melayu di kawasan bantaran Sungai Deli, tepatnya di Hutan Kota Jalan Eka Sama, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan bertema "Menghidupkan Kembali Sungai Deli, Menguatkan Peradaban Melayu Berkelanjutan" ini digagas oleh Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia Sumatera Utara (PW ISMI Sumut) bersama Green Justice Indonesia (GJI), dengan melibatkan Warga Peduli Sekitar (Wa Pesek), Komunitas Warga Kanal (KWK), serta Bentangan Alam Hijau Indonesia (BAHIS).

Aksi penanaman pohon tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pencemaran, berkurangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya ancaman banjir di kawasan perkotaan.

Ketua PW ISMI Sumut, Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.A., mengatakan bahwa gerakan penghijauan ini merupakan langkah konkret dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kondisi daerah aliran sungai, tutupan vegetasi, serta keberadaan kawasan resapan air. Oleh karena itu, pihaknya memilih menanam berbagai jenis pohon khas Melayu seperti sukun, matoa, dan rambutan yang dinilai memiliki nilai ekologis dan budaya.



Ia menjelaskan, Sungai Deli memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Kota Medan dan Kesultanan Deli. Selain sebagai jalur transportasi pada masa lalu, sungai tersebut juga menjadi bagian dari identitas peradaban Melayu di Sumatera Utara.

"Jika kawasan Sungai Deli dapat dipulihkan dan ditata dengan baik, maka risiko banjir di wilayah hilir Kota Medan diyakini dapat berkurang," ujarnya.

Program penghijauan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial. ISMI Sumut memastikan seluruh pohon yang ditanam akan terus dipantau dan dirawat agar tumbuh optimal serta memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan.

Selain melakukan penghijauan, organisasi tersebut juga berkomitmen menyusun berbagai kajian ilmiah terkait perlindungan lingkungan, pengelolaan ekosistem, dan analisis dampak lingkungan sebagai bahan masukan bagi pemerintah.

Sungai Deli Hadapi Berbagai Tekanan

Dalam kesempatan itu, ISMI Sumut menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi Sungai Deli, mulai dari pencemaran, permukiman di bantaran sungai, pembangunan properti, hingga perubahan alur sungai yang dinilai memengaruhi fungsi ekologisnya.



Melalui pendekatan berbasis kajian ilmiah, organisasi tersebut berharap dapat memberikan rekomendasi untuk mendukung pembangunan kota yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa Sungai Deli beserta daerah aliran sungainya memiliki peran strategis dalam melindungi warga Kota Medan dari ancaman krisis iklim dan cuaca ekstrem.

Menurutnya, upaya pelestarian sungai harus dilakukan secara menyeluruh, baik di wilayah hulu maupun hilir. Kerusakan yang terjadi di kawasan hulu akan berdampak langsung terhadap kemampuan sungai dalam mengendalikan aliran air di kawasan perkotaan.

Ia juga menilai banjir besar yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Medan dalam beberapa waktu terakhir menjadi peringatan penting mengenai tingginya kerentanan kawasan perkotaan terhadap bencana.

Karena itu, pemulihan fungsi alami sungai dinilai menjadi salah satu langkah utama untuk mengurangi risiko banjir yang terus berulang.



Soroti Minimnya Ruang Terbuka Hijau

GJI turut menyoroti masih terbatasnya ruang terbuka hijau di Kota Medan. Dengan luas wilayah yang mencapai hampir 30 ribu hektare, keberadaan kawasan hijau dinilai belum memenuhi kebutuhan ideal dan penyebarannya masih belum merata.

Oleh sebab itu, upaya pemulihan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat yang tinggal di sekitar sungai, tetapi membutuhkan dukungan seluruh warga Kota Medan.

Panut menegaskan bahwa masyarakat yang tinggal di bantaran sungai harus dilibatkan sebagai bagian penting dalam proses pemulihan lingkungan karena mereka merupakan kelompok yang paling merasakan dampaknya secara langsung.

Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan

Ketua DPP Warga Peduli Sekitar (Wa Pesek), Muhammad Adlin Ginting, mengatakan organisasinya selama ini aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk membantu korban banjir, donor darah, khitanan massal, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga program pemberdayaan masyarakat di kawasan Sungai Deli.

Sementara itu, Humas Wa Pesek, Susi Sujari, menjelaskan bahwa organisasinya juga fokus pada pemberdayaan perempuan melalui berbagai kegiatan sosial dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).



Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat sehingga perlu diberikan ruang untuk berkembang dan berkontribusi.

Kolaborasi untuk Masa Depan Sungai Deli

Ketua Komunitas Warga Kanal, Edy Siswanto, menyebut kegiatan penanaman pohon menjadi simbol kolaborasi berbagai komunitas dan organisasi yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.

Ia berharap Sungai Deli dapat kembali menjalankan fungsi ekologisnya secara optimal sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat sebagai salah satu aset penting Kota Medan.

Melalui gerakan penanaman seribu pohon dan penguatan kolaborasi lintas komunitas, berbagai pihak berharap upaya pelestarian Sungai Deli dapat terus berlanjut demi menciptakan lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan tangguh menghadapi ancaman perubahan iklim serta banjir di masa mendatang.