Kamis, 28 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Penyebab Tubuh Bergetar dan Menggigil Saat Suhu Udara Rendah

Laila - Thursday, 28 May 2026 | 07:15 PM

Background
Penyebab Tubuh Bergetar dan Menggigil Saat Suhu Udara Rendah

Kenapa Sih Badan Menggigil Pas Kedinginan? Rahasia di Balik Tubuh yang Tiba-tiba Punya "Vibrator" Alami

Bayangkan situasi ini: Kamu lagi asyik nonton film di bioskop yang AC-nya nggak ada akhlak, atau mungkin lagi kejebak hujan deras pas balik kerja dan nggak bawa jas hujan. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, badan kamu bergetar hebat. Gigi gemetaran sampai bunyi tak-tak-tak, dan pundak kamu naik sendiri seolah-olah lagi nahan beban hidup. Padahal, kamu nggak niat menggerakkan anggota tubuh sama sekali. Kamu pengennya diam anteng, tapi tubuhmu malah kayak HP yang lagi di-silent tapi ada telepon masuk berkali-kali.

Aneh, kan? Kita nggak nyuruh, tapi otot kita malah "joget" sendiri. Ternyata, fenomena menggigil ini bukan sekadar reaksi random atau tanda kamu lagi diganggu makhluk halus penunggu ruangan ber-AC. Ada penjelasan sains yang lumayan seru sekaligus kocak kalau kita bedah pelan-pelan. Mari kita bahas kenapa tubuh kita bisa punya fitur "auto-shake" ini tanpa perlu langganan premium.

Si Admin Tubuh yang Super Posesif bernama Hipotalamus

Di dalam otak kita, ada bagian kecil tapi punya kekuasaan yang luar biasa besar bernama hipotalamus. Anggap saja si hipotalamus ini adalah "Admin" atau manajer operasional tubuh yang tugasnya menjaga agar suhu internal kita tetap stabil di angka keramat 37 derajat Celcius. Dia ini perfeksionis banget. Kalau suhu badan naik dikit, dia panik dan nyuruh kita keringatan. Kalau suhu turun dikit karena cuaca dingin, dia bakal langsung kirim pesan broadcast darurat ke seluruh sistem saraf.

Nah, saat kita terpapar suhu dingin, reseptor di kulit kita bakal kirim laporan ke si Admin ini. "Bos, di luar lagi dingin banget nih, suhu tubuh mulai drop!" Begitu laporannya masuk, hipotalamus nggak tinggal diam. Dia langsung memerintahkan otot-otot di seluruh tubuh buat berkontraksi dan berelaksasi secara cepat dan berulang-ulang. Itulah yang kita kenal sebagai menggigil.

Kenapa harus gerak-gerak gitu? Jawabannya sederhana: panas. Sama kayak mesin motor yang makin panas kalau digas terus, otot kita juga menghasilkan energi panas saat bergerak. Dengan membuat otot bergetar sendiri secara intens, tubuh sebenarnya lagi berusaha memproduksi panas internal buat melawan hawa dingin dari luar. Jadi, menggigil itu sebenarnya adalah cara tubuh kita "olahraga kilat" demi menjaga nyawa agar nggak beku alias hipotermia.



Bulu Kuduk Berdiri: Warisan Nenek Moyang yang Agak Gagal

Selain menggigil, biasanya ada bonus paket lengkap kalau kita kedinginan: bulu kuduk berdiri alias goosebumps. Dalam bahasa medis, ini disebut piloereksi. Kalau kamu perhatikan, di sekitar pori-pori kulit ada benjolan kecil yang bikin tekstur kulit kita mirip kulit ayam yang sudah dicabuti bulunya.

Dulu banget, pas nenek moyang manusia masih punya rambut lebat di sekujur tubuh (mirip sepupu jauh kita, simpanse), mekanisme ini sangat berguna. Saat kedinginan, otot kecil di dasar setiap rambut bakal berkontraksi sehingga rambut berdiri tegak. Tujuannya buat memerangkap udara di antara helai rambut, yang berfungsi sebagai lapisan isolasi alami biar panas tubuh nggak keluar.

Masalahnya sekarang, manusia modern sudah nggak se-hairy dulu lagi. Bulu tangan kita tipis-tipis gemas doang. Walhasil, pas kita kedinginan dan bulu kuduk berdiri, nggak ada udara yang terperangkap. Yang ada malah kita cuma kelihatan aneh dengan tekstur kulit yang gradakan. Tapi ya sudahlah, setidaknya tubuh kita masih berusaha, meskipun hasilnya agak kurang maksimal buat manusia zaman sekarang yang lebih butuh jaket tebal daripada bulu tangan yang berdiri.

Kenapa Kita Nggak Bisa Mengontrolnya?

Mungkin ada yang mikir, "Bisa nggak sih kita bilang ke otak: 'Woi, stop menggigil, gue malu dilihat gebetan'?" Jawabannya: Hampir mustahil. Menggigil adalah respon otonom, alias di bawah kendali saraf yang bekerja otomatis. Ini adalah mekanisme pertahanan hidup (survival mechanism) yang sudah diprogram dalam DNA kita selama jutaan tahun.

Kalau kita bisa mengontrolnya lewat kemauan sendiri, mungkin kita bakal sering lupa buat "menyalakan" pemanas saat kedinginan karena terlalu sibuk main HP atau melamun. Jadi, alam bawah sadar kita mengambil alih tugas itu biar kita tetap selamat meskipun lagi nggak fokus. Itulah hebatnya tubuh manusia; dia punya sistem proteksi fail-safe yang bekerja bahkan saat pemiliknya nggak sadar.



Faktor "Nasib" dan Massa Otot

Pernah nggak kamu merasa kedinginan banget sampai menggigil parah, eh teman di sebelah kamu malah santai-santai aja pakai kaos oblong? Apakah dia pakai susuk anti-dingin? Belum tentu. Kemampuan orang menahan dingin itu beda-beda, dan ini dipengaruhi beberapa hal:

  • Massa Otot: Orang yang punya banyak otot biasanya lebih tahan dingin karena otot adalah pabrik panas. Makanya, jangan heran kalau cowok atau cewek yang rajin ke gym jarang menggigil dibanding kita yang hobi rebahan.
  • Kadar Lemak: Lemak itu ibarat selimut di bawah kulit. Orang yang punya lapisan lemak lebih tebal (bukan bermaksud body shaming ya, ini sains!) punya isolasi yang lebih baik sehingga panas tubuh nggak gampang lepas.
  • Usia dan Kesehatan: Anak kecil dan orang tua biasanya lebih gampang menggigil karena sistem pengatur suhu mereka belum sempurna atau sudah mulai menurun performanya.

Kesimpulan: Syukuri Getaran Itu

Jadi, lain kali kalau kamu menggigil di tengah ruangan kantor yang dinginnya kayak kutub utara atau pas lagi motoran malam-malam, jangan kesal sama badan sendiri. Getaran itu adalah tanda kalau tubuhmu lagi berjuang mati-matian buat melindungi kamu. Itu adalah bukti kalau sistem internal kamu masih berfungsi normal dan si "Admin" hipotalamus masih setia menjaga suhu tubuhmu biar tetap stabil.

Menggigil memang bikin kita kelihatan kayak orang kaget atau kedinginan yang nggak elegan, tapi tanpa itu, kita bisa berada dalam bahaya besar. Tubuh kita itu pintar, dia tahu kapan harus "bergetar" tanpa perlu kita kasih instruksi. Yang perlu kita lakukan cuma satu: cari jaket, minum jahe hangat, atau seenggaknya peluk diri sendiri (kalau nggak ada yang meluk). Karena sekeren apa pun mekanisme menggigil tubuhmu, tetap aja dia butuh bantuan dari luar buat benar-benar merasa hangat.

Begitulah keajaiban biologi yang sering kita anggap remeh. Ternyata, di balik getaran konyol yang kita rasakan, ada orkestra saraf dan otot yang sedang bekerja keras demi satu tujuan: menjaga kita tetap hidup dan tidak membeku di tengah dinginnya dunia ini. Cukup puitis untuk sebuah fenomena yang bikin gigi kita bunyi tak-tak-tak, bukan?