Penyebab Lelah Mental yang Sering Diabaikan, Cek Tanda-tandanya
Tata - Sunday, 22 February 2026 | 11:35 AM


8 Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Menguras Energi Mentalmu
Pernah nggak sih kamu ngerasa capek banget di penghujung hari, padahal kerjaan fisikmu nggak berat-berat amat? Bukan habis angkut beras atau lari maraton, tapi rasanya kayak pengen langsung pingsan di kasur tanpa mau diganggu siapa pun. Kalau kamu ngerasa kayak gitu, bisa jadi bukan ototmu yang pegel, tapi mentalmu yang lagi "bocor".
Ibarat baterai HP, energi mental kita itu ada kapasitasnya. Kadang kita nggak sadar kalau ada "aplikasi latar belakang" yang terus berjalan dan makan daya tanpa ampun. Kita sering menyalahkan beban kerja yang menumpuk atau drama kehidupan yang gede, padahal seringnya, justru hal-hal kecil dan sepele yang kita lakukan setiap hari yang diam-diam menguras kewarasan kita. Yuk, kita bedah satu-satu kebiasaan "silent killer" energi mental ini supaya kamu nggak terus-terusan ngerasa jompo sebelum waktunya.
1. Menjadi Si Paling 'Gak Enakan' alias People Pleasing
Duh, penyakit satu ini emang paling juara soal bikin capek batin. Ngomong "iya" padahal hati pengen teriak "nggak" itu harganya mahal banget, lho. Setiap kali kamu memaksakan diri buat nemenin temen nongkrong pas kamu lagi butuh istirahat, atau nerima tugas tambahan yang sebenernya bukan jobdesk-mu cuma karena takut dibilang sombong, kamu lagi buang-buang energi mental buat memuaskan ekspektasi orang lain.
Rasanya emang kayak jadi orang baik, tapi sebenernya kamu lagi jahat sama diri sendiri. Menjaga perasaan orang lain itu penting, tapi kalau harus mengorbankan ketenangan pikiranmu, itu namanya bukan baik, tapi cari penyakit. Energi yang harusnya bisa kamu pakai buat fokus ke diri sendiri malah habis buat mikirin "Dia tersinggung nggak ya?" atau "Nanti dia mikir apa ya soal aku?". Capek, kan?
2. Doomscrolling Tanpa Tujuan di Media Sosial
Ngaku deh, niatnya cuma mau ngecek jam atau bales chat satu menit, eh tau-tau udah sejam aja scroll TikTok atau Instagram. Itulah yang namanya doomscrolling. Alih-alih bikin rileks, paparan informasi yang nggak berhenti—mulai dari berita politik yang bikin darah tinggi, liat pencapaian temen yang bikin merasa tertinggal, sampe iklan-iklan yang nggak kita butuhin—itu bikin otak kita kerja rodi buat memproses semuanya.
Media sosial didesain buat bikin kita ketagihan, dan ketagihan itu butuh energi. Otak kita dipaksa buat pindah-pindah emosi dalam waktu singkat: ketawa liat video kucing, sedih liat berita bencana, terus iri liat orang flexing. Fluktuasi emosi yang konstan ini bikin mental kita cepat "lowbat".
3. Menunda Keputusan-Keputusan Sepele
Kadang kita mikir kalau menunda sesuatu itu bakal bikin santai. Padahal, tugas yang belum selesai atau keputusan yang belum diambil itu bakal nggantung di pikiran kita kayak tab browser yang nggak pernah ditutup. Istilah kerennya Open Loops.
Hal-hal kecil kayak belum bales email yang sebenernya cuma butuh jawaban "Oke", belum mutusin mau makan siang apa, atau nunda beresin meja yang berantakan, itu semua makan RAM di otak kita. Semakin banyak hal kecil yang kamu gantungin, semakin berat beban pikiranmu tanpa kamu sadari. Cobain deh langsung eksekusi hal yang bisa selesai di bawah dua menit, rasanya bakal jauh lebih lega!
4. Lingkungan yang Berantakan (Visual Clutter)
Mungkin kamu tipe orang yang bilang, "Mejaku berantakan tapi aku tau kok barang-barangnya di mana." Oke, mungkin kamu tau posisinya, tapi matamu nggak bisa bohong. Mata kita secara konstan menangkap rangsangan visual di sekitar kita. Kalau mejamu penuh kertas, bungkus makanan, dan barang-barang nggak jelas, otakmu bakal terus berusaha memproses kekacauan itu.
Kekacauan di luar itu seringkali mencerminkan kekacauan di dalam. Begitu kamu beresin sedikit aja sudut ruanganmu, biasanya pikiran juga bakal kerasa lebih "plong". Jangan remehkan kekuatan meja yang bersih dalam menjaga energi fokusmu.
5. Memutar Ulang Skenario Memalukan di Kepala
Pernah nggak lagi mau tidur, tiba-tiba keinget kejadian memalukan tiga tahun lalu? Terus kamu ngerasa malu lagi dan mulai mikir, "Duh, harusnya tadi aku nggak ngomong gitu." Kebiasaan melakukan rumination atau memikirkan hal-hal yang udah lewat dan nggak bisa diubah itu bener-bener menguras energi.
Otak kita itu sering banget jadi sutradara film horor buat diri sendiri. Kita terjebak di masa lalu yang udah nggak ada, atau malah cemas berlebihan sama masa depan yang belum tentu terjadi. Padahal, energi kita cuma ada buat masa sekarang. Belajarlah buat bilang "Ya udah sih, udah lewat" ke diri sendiri.
6. Notifikasi yang Nggak Pernah Berhenti
Bunyi "ting" dari HP itu kayak serangan kecil buat sistem saraf kita. Setiap ada notifikasi masuk, fokus kita pecah. Meskipun kamu nggak buka HP-nya, otakmu udah otomatis ngebatin, "Siapa ya yang chat?" atau "Ada berita apa ya?".
Kebiasaan membiarkan semua notifikasi aktif—mulai dari grup WhatsApp yang isinya cuma stiker sampe notifikasi promo belanja—itu bikin kita terus-terusan dalam mode siaga. Cobalah buat matikan notifikasi yang nggak penting atau pakai mode "Do Not Disturb" pas lagi kerja atau istirahat. Tenang, dunia nggak bakal kiamat kok kalau kamu telat bales chat lima menit.
7. Menyepelekan Waktu Istirahat yang Berkualitas
Banyak dari kita yang mikir kalau main HP itu istirahat. Padahal, seperti yang udah dibahas tadi, main HP itu malah nambah beban informasi. Istirahat yang beneran itu adalah saat otak kita bener-bener "off" dari stimulasi luar.
Kurang tidur, lupa minum air putih, atau duduk terus-terusan tanpa peregangan itu bikin badan stres, dan stres fisik otomatis bakal bikin mental ambruk. Jangan bangga jadi orang yang sibuk sampai lupa napas. Sibuk bukan berarti produktif, dan istirahat bukan berarti malas. Istirahat itu investasi supaya energimu nggak langsung ludes di jam dua siang.
8. Terjebak dalam Perbandingan (Comparison Trap)
Ada pepatah bilang, comparison is the thief of joy. Membandingkan prosesmu yang masih berantakan dengan hasil akhir orang lain yang kelihatan sempurna di medsos itu cara tercepat buat ngerasa nggak berdaya. Kita sering lupa kalau apa yang ditampilkan orang lain itu cuma highlight reel, bukan keseluruhan hidup mereka.
Setiap kali kamu merasa "Yah, dia udah sampe situ, aku masih gini-gini aja," kamu lagi membuang energi yang harusnya bisa dipakai buat memperbaiki dirimu sendiri. Fokuslah pada progressmu, sekecil apa pun itu. Saingan terberatmu itu ya dirimu yang kemarin, bukan orang lain yang bahkan nggak tau kamu ada.
Nah, dari delapan kebiasaan di atas, mana nih yang paling sering kamu lakuin? Memang nggak mudah buat langsung berubah total, tapi dengan menyadari kalau hal-hal kecil ini berdampak besar, kamu sudah selangkah lebih maju. Mulailah kurangi satu per satu, kasih ruang buat otakmu bernapas, dan rasakan gimana energimu perlahan kembali penuh. Hidup udah berat, jangan ditambahin beban-beban yang sebenernya bisa kita lepasin, ya!
Next News

Overthinking: Ketika Pikiran Tak Berhenti Berputar dan Menguras Energi di Tengah Malam
in 2 hours

Olahraga Bukan Soal Body Goals: Saatnya Bergerak demi Kesehatan, Bukan Validasi
in 3 hours

Menikmati Makanan Tanpa Mengorbankan Kesehatan: Cara Cerdas Menyeimbangkan Gaya Hidup dan Pola Makan
in 2 hours

Healing Tak Harus ke Bali: Cara Menemukan Ketenangan Tanpa Menguras Dompet
in 2 hours

Bangun Pagi Bukan Sekadar Disiplin, Tapi Strategi Mengelola Energi dan Ritme Hidup
in 2 hours

Antara Benci dan Rindu, Inilah Daya Tarik Magis Jengkol
13 minutes ago

Lobak Putih, Detoks Alami buat Hati dan Ginjal
18 minutes ago

Diet Besok Terus? Inilah 5 Cara Realistis Turunkan Berat Badan Tanpa Harus Menyiksa Diri
23 minutes ago

Sering Basah Kuyup Sendirian? Kenali Penyebab Keringat Berlebih
28 minutes ago

Timbangan Naik Bukan Akhir Dunia, tapi Ya Jangan Cuek-cuek Amat Juga
38 minutes ago





