Minggu, 6 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Pahit di Lidah, Tapi Bikin Penasaran: Apa yang Sebenarnya Ada di Balik Pare?

Tata - Sunday, 06 September 2026 | 03:55 PM

Background
Pahit di Lidah, Tapi Bikin Penasaran: Apa yang Sebenarnya Ada di Balik Pare?

Pahit di Lidah, Tapi Bikin Penasaran: Apa yang Sebenarnya Ada di Balik Pare?

Kalau ada satu sayuran yang paling sering memicu perdebatan di meja makan, jawabannya sudah pasti pare. Sayuran yang punya tekstur bergeronjal mirip relief candi ini memang punya reputasi yang ekstrem. Pilihannya cuma dua: lo suka banget sampai nambah berkali-kali, atau lo benci setengah mati sampai-sampai mencium aromanya saja sudah bikin nafsu makan hilang. Pare adalah anomali di dunia kuliner kita yang biasanya didominasi rasa manis, gurih, dan pedas.

Bayangkan lo lagi asyik makan siomay di pinggir jalan. Di antara putihnya tahu, kenyalnya kol, dan empuknya kentang, terselip potongan hijau yang terlihat "mengancam". Buat sebagian orang, pare di piring siomay adalah pengganggu estetika. Tapi buat penikmatnya, siomay tanpa pare itu ibarat konser band favorit tanpa sang vokalis—hambar dan ada yang kurang. Rasa pahit yang meledak di mulut setelah disiram bumbu kacang yang manis-gurih justru memberikan sensasi yang bikin nagih. Aneh, kan? Kenapa sesuatu yang pahit justru dicari?

Kenapa Sih Pare Pahitnya Nggak Nanggung?

Secara sains, rasa pahit pada pare itu bukan karena dia lagi "bad mood", tapi karena kandungan senyawa kimia yang namanya momordisin. Nama senyawanya saja sudah terdengar agak sangar. Zat ini memang secara alami ada di dalam buah pare untuk melindungi diri dari serangan hama. Jadi, kalau lo merasa pare itu pahit, itu sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri si tanaman supaya nggak dimakan sembarangan. Masalahnya, manusia memang spesies yang unik; semakin dilarang atau semakin aneh rasanya, malah semakin penasaran untuk diolah jadi masakan.

Tapi, jangan salah kaprah. Pahitnya pare itu punya karakter. Bukan pahit yang "jahat" seperti rasa obat puyer zaman kecil dulu, melainkan pahit yang "clean" dan segar. Kalau dimasak dengan benar, rasa pahit ini justru berfungsi sebagai pembersih palet lidah. Itulah kenapa banyak masakan tumisan yang menggunakan pare justru terasa lebih ringan di tenggorokan meskipun kita sudah makan banyak lemak.

Filosofi Menjadi Dewasa Lewat Sepiring Pare

Ada teori nggak resmi di kalangan anak muda: lo baru benar-benar bisa disebut dewasa kalau lo sudah mulai bisa menikmati pare. Waktu kita kecil, lidah kita hanya didesain untuk menerima rasa manis dan gurih. Begitu masuk ke dunia kerja yang penuh tekanan, revisi dari bos yang nggak habis-habis, atau drama percintaan yang lebih pahit dari empedu, entah kenapa rasa pahit pada makanan jadi terasa lebih masuk akal. Mungkin karena kita sadar kalau hidup memang nggak selalu manis, jadi lidah kita mulai beradaptasi.



Makan pare itu butuh keberanian dan penerimaan. Lo nggak bisa makan pare sambil berharap rasanya seperti melon atau semangka. Lo harus menerima dia apa adanya, dengan segala "kekurangan" pahitnya itu. Di sinilah letak seninya. Menikmati pare adalah bentuk apresiasi terhadap keberagaman rasa. Kadang, kita butuh kontras pahit supaya bisa lebih menghargai rasa manis di suapan berikutnya.

Dibalik Rasa Pahit, Ada "Gudang" Manfaat

Orang tua kita nggak mungkin memaksa kita makan pare kalau nggak ada udang di balik batu. Sayuran ini adalah salah satu superfood lokal yang sering diremehkan. Pare dikenal sebagai "insulin alami" karena kemampuannya membantu menurunkan kadar gula darah. Buat lo yang hobi makan boba atau makanan manis tiap hari, sesekali "detoks" pakai pare adalah pilihan yang bijak. Selain itu, pare juga kaya akan vitamin C dan serat yang bagus buat kulit serta pencernaan.

Lucunya, meskipun kita tahu pare itu sehat, tetap saja banyak dari kita yang butuh perjuangan ekstra buat menelannya. Padahal, kalau dilihat-lihat, pare ini paket lengkap: murah, gampang dicari di pasar, dan khasiatnya nggak main-main. Sayangnya, dia kalah populer dibandingkan kale atau chia seeds yang harganya selangit itu, cuma gara-gara masalah rasa.

Rahasia Biar Pare Nggak Terlalu "Menyakiti" Lidah

Buat lo yang sebenarnya pengen makan pare tapi masih takut pahit, tenang saja. Ada banyak "hack" yang bisa dilakukan. Cara paling klasik adalah dengan meremas-remas irisan pare menggunakan garam sampai layu, lalu dibilas air mengalir. Garam akan menarik keluar cairan pahit dari dalam pori-pori pare. Selain itu, memasaknya dengan bahan yang punya rasa kuat seperti teri jengki, tauco, atau telur asin juga bisa membantu menyamarkan rasa pahitnya.

Tumis pare teri adalah salah satu masakan yang menurut gue paling jenius. Gurihnya ikan teri yang asin dan garing bertabrakan dengan tekstur pare yang lembut-pahit. Dimakan pakai nasi hangat dan kerupuk, beuh, rasanya bisa bikin lo lupa kalau lo tadi sempat benci sama sayuran ini. Bahkan sekarang ada tren keripik pare yang digoreng tepung sampai krispi. Di titik ini, rasa pahitnya sudah bertransformasi menjadi rasa gurih yang punya *aftertaste* unik.



Kesimpulan: Jangan Langsung Say No!

Pada akhirnya, pare bukan sekadar sayuran. Dia adalah ujian mental di atas piring. Memang nggak semua orang harus suka pare, tapi nggak ada salahnya memberikan kesempatan kedua. Siapa tahu, di percobaan ketiga atau keempat, lo baru sadar kalau ada keindahan di balik rasa pahit itu. Sama seperti hidup, kalau semuanya manis, kita nggak akan pernah belajar cara berjuang.

Jadi, kalau besok lo ketemu tukang siomay, cobalah beranikan diri bilang, "Bang, pakai pare ya satu." Siapa tahu itu adalah langkah pertama lo untuk jadi manusia yang lebih sabar dan open-minded. Karena bagaimanapun juga, yang pahit itu biasanya yang paling tulus dalam memberikan manfaat. Jangan biarkan tampilan luarnya yang geronjal bikin lo kehilangan kesempatan merasakan salah satu kekayaan kuliner paling berkarakter di negeri ini.