Overthinking: Ketika Pikiran Tak Berhenti Berputar dan Menguras Energi di Tengah Malam
Tata - Thursday, 26 February 2026 | 08:35 AM


Overthinking: Seni Menyiksa Diri di Tengah Malam yang Gak Ada Habisnya
Pernah gak sih kalian lagi rebahan enak-enak jam dua pagi, lampu kamar sudah mati, mata sudah siap merem, tapi tiba-tiba otak kalian memutar ulang kejadian memalukan pas zaman SMP dulu? Atau tiba-tiba muncul pertanyaan eksistensial semacam, "Kenapa tadi siang bos gue balas chat cuma pakai emot jempol doang ya? Apa gue bakal dipecat?" Selamat, kalian sedang melakukan ritual harian manusia modern yang namanya overthinking.
Istilah overthinking ini sudah kayak bumbu penyedap dalam percakapan anak muda sekarang. Sedikit-sedikit dibilang overthinking. Padahal, kalau ditarik garis merahnya, overthinking itu bukan cuma sekadar mikir. Mikir itu sehat, mikir itu perlu buat menyelesaikan masalah. Tapi kalau overthinking? Itu ibarat kalian lagi naik sepeda statis; capeknya luar biasa, keringat bercucuran, tapi kalian gak pindah dari tempat semula. Hanya muter-muter di situ saja sampai lemas.
Kenapa Otak Kita Suka Banget Cari Penyakit?
Secara ilmiah, manusia memang didesain untuk waspada. Nenek moyang kita dulu harus mikirin gimana cara biar gak dimakan harimau saat keluar gua. Masalahnya, di zaman sekarang, "harimau" itu bentuknya sudah berubah. Harimau kita sekarang adalah notifikasi tagihan kartu kredit, komentar julid di Instagram, atau masa depan yang kelihatannya masih burem kayak kaca spion kena hujan.
Lucunya, kita sering terjebak dalam lingkaran setan yang namanya ruminasi. Ruminasi itu kondisi di mana kita terus-menerus memutar kejadian masa lalu yang gak bisa kita ubah. Kita sibuk menganalisis kenapa mantan kita dulu mutusin kita lewat WhatsApp, padahal kejadiannya sudah lewat tiga tahun lalu. Di sisi lain, ada juga yang namanya kekhawatiran masa depan. Kita cemas akan hal-hal yang belum tentu terjadi, tapi di kepala kita, skenario terburuknya sudah tersusun rapi seolah-olah itu film dokumenter.
Dampaknya ke Tubuh: Bukan Cuma Capek Hati, tapi Capek Fisik
Jangan salah, overthinking itu bukan cuma urusan mental doang. Tubuh kita itu jujur. Pas otak kita mikir yang aneh-aneh, tubuh bakal ngerespons seolah-olah kita lagi dalam bahaya beneran. Hormon kortisol dan adrenalin bakal naik. Hasilnya? Selamat datang penyakit-penyakit khas anak muda kota besar.
Pernah ngerasa asam lambung naik atau GERD kumat pas lagi banyak pikiran? Itu salah satu dampaknya. Perut itu sering disebut sebagai otak kedua manusia. Kalau di "atas" lagi berisik, di "bawah" pasti ikut bergejolak. Selain itu, otot leher dan pundak bakal terasa kaku kayak kanebo kering. Belum lagi urusan tidur. Overthinking adalah musuh bebuyutan tidur nyenyak. Kita mungkin bisa memejamkan mata, tapi otak kita masih sibuk buka tab baru di browser imajinasinya.
Dampak jangka panjangnya lebih seram lagi. Tekanan darah tinggi, gangguan kecemasan yang kronis, sampai risiko depresi bisa mengintai. Bayangin aja, setiap hari jantung kita dipaksa kerja rodi buat memikirkan masalah yang sebenarnya sebagian besar cuma ada di kepala kita sendiri.
Analysis Paralysis: Ketika Kebanyakan Mikir Malah Bikin Gak Ngapa-ngapain
Satu hal yang paling nyebelin dari overthinking adalah analysis paralysis. Ini adalah kondisi di mana kita punya terlalu banyak pilihan atau terlalu banyak memikirkan risiko, sampai akhirnya kita malah gak berani ambil keputusan sama sekali. Mau mulai usaha baru, mikir gagalnya. Mau ngechat duluan ke gebetan, mikir kalau ditolak gimana. Ujung-ujungnya? Kita cuma diam di tempat sambil melihat orang lain sudah lari jauh di depan.
Media sosial juga punya peran besar dalam menyuburkan budaya overthinking ini. Kita terus-menerus terpapar dengan standar hidup orang lain yang kelihatan sempurna. "Kok dia umur 25 sudah punya mobil ya? Kok dia bisa liburan terus ya?" Pertanyaan-pertanyaan ini yang akhirnya bikin kita meragukan diri sendiri. Kita mulai overthinking soal pencapaian hidup kita yang rasanya jalan di tempat. Padahal, yang kita lihat di sosmed kan cuma potongan-potongan terbaiknya aja, bukan drama di balik layarnya.
Gimana Cara Biar Gak Terjebak Terus?
Jujur aja, menyuruh orang buat "berhenti overthinking" itu sama susahnya kayak menyuruh orang yang lagi marah buat "sabar." Gak bakal mempan. Tapi ada beberapa trik kecil yang bisa dicoba biar otak kita gak terlalu liar.
- Tentukan Waktu Khusus buat Overthinking: Kedengarannya aneh, tapi efektif. Kasih waktu 15 menit setiap sore buat memikirkan semua kecemasan kalian. Kalau sudah lewat 15 menit, paksa diri buat balik ke realita.
- Tuliskan Semuanya: Otak kita itu tempat yang buruk buat menyimpan beban. Pindahkan isi kepala ke kertas atau aplikasi notes di HP. Biasanya, setelah ditulis, masalah yang tadinya kelihatan raksasa bakal terasa lebih kecil dan masuk akal.
- Fokus pada Solusi, Bukan Masalah: Kalau kalian mencemaskan sesuatu, tanya ke diri sendiri: "Ada yang bisa gue lakuin sekarang gak?" Kalau ada, lakuin. Kalau gak ada, ya sudah, terima saja kalau itu di luar kendali kalian.
- Teknik Grounding: Kalau pikiran sudah mulai melayang gak jelas, coba fokus ke panca indra. Cari 5 benda yang bisa dilihat, 4 benda yang bisa disentuh, 3 suara yang bisa didengar, dan seterusnya. Ini biar otak kalian balik lagi ke momen "saat ini."
Akhir Kata: Jadilah Teman bagi Diri Sendiri
Overthinking itu manusiawi, tapi jangan sampai dia jadi nahkoda di kapal kehidupan kita. Kita perlu belajar buat sedikit cuek. Hidup ini sudah cukup ribet tanpa harus ditambah-tambahin dengan skenario fiksi yang kita buat sendiri di kepala.
Ingat, sebagian besar hal yang kita takutkan gak akan pernah benar-benar terjadi. Jadi, daripada sibuk menyiksa diri dengan "apa yang mungkin salah," mending kita coba fokus ke "apa yang bisa berjalan benar." Malam ini, coba taruh HP-nya, tarik napas dalam-dalam, dan bilang ke otak kalian, "Eh, istirahat dulu ya, lanjutin lagi besok." Karena kesehatan mental kalian jauh lebih berharga daripada analisis gak jelas soal kenapa mantan kalian tiba-tiba nge-like foto tiga tahun lalu.
Next News

Olahraga Bukan Soal Body Goals: Saatnya Bergerak demi Kesehatan, Bukan Validasi
in 5 hours

Menikmati Makanan Tanpa Mengorbankan Kesehatan: Cara Cerdas Menyeimbangkan Gaya Hidup dan Pola Makan
in 3 hours

Healing Tak Harus ke Bali: Cara Menemukan Ketenangan Tanpa Menguras Dompet
in 4 hours

Bangun Pagi Bukan Sekadar Disiplin, Tapi Strategi Mengelola Energi dan Ritme Hidup
in 3 hours

Antara Benci dan Rindu, Inilah Daya Tarik Magis Jengkol
in an hour

Lobak Putih, Detoks Alami buat Hati dan Ginjal
in an hour

Diet Besok Terus? Inilah 5 Cara Realistis Turunkan Berat Badan Tanpa Harus Menyiksa Diri
in an hour

Sering Basah Kuyup Sendirian? Kenali Penyebab Keringat Berlebih
in an hour

Timbangan Naik Bukan Akhir Dunia, tapi Ya Jangan Cuek-cuek Amat Juga
in an hour

Angin Duduk: Bukan Masuk Angin Biasa, Waspada Tanda Penyakit Jantung
an hour ago





