Selasa, 3 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Misteri Kolang-Kaling: Si Kenyal dari Pohon Aren yang Ternyata Lewat Proses Panjang dan Melelahkan

Tata - Tuesday, 03 March 2026 | 11:50 AM

Background
Misteri Kolang-Kaling: Si Kenyal dari Pohon Aren yang Ternyata Lewat Proses Panjang dan Melelahkan

Misteri Kolang-Kaling: Si Kenyal dari Pohon Aren yang Proses Bikinnya Ternyata Nggak Santai

Kalau kita lagi jajan es campur di pinggir jalan atau lagi dapet takjil gratisan pas bulan Ramadan, sosok putih, lonjong, dan kenyal ini pasti nggak pernah absen. Ya, kolang-kaling. Rasanya yang hambar-hambar manis dengan tekstur yang "ngelawan" pas digigit memang punya daya tarik tersendiri. Tapi, pernah nggak sih kepikiran kalau benda kenyal ini asalnya dari mana? Apa dia tumbuh langsung putih bersih gitu di pohonnya?

Jawabannya: tentu tidak, kawan. Kolang-kaling punya cerita latar belakang yang cukup heroik, atau mungkin lebih tepatnya, cukup menyiksa buat para perajinnya. Di balik kesegarannya di dalam gelas es, ada proses panjang nan melelahkan yang melibatkan pohon aren, api yang membara, sampai rasa gatal yang luar biasa. Yuk, kita bedah satu per satu biografi si kolang-kaling ini.

Bukan Sembarang Biji, Ini Biji Aren yang Serba Guna

Kolang-kaling itu sebenarnya adalah biji dari buah pohon aren (Arenga pinnata). Kalau di desa-desa, pohon aren ini ibarat minimarket berjalan. Batangnya bisa diambil sagunya, air niranya bisa jadi gula merah yang legit, serat batangnya (ijuk) bisa jadi sapu, eh buahnya pun masih bisa dimakan. Paket lengkap banget, kan?

Masalahnya, buah aren yang bakal jadi kolang-kaling ini nggak bisa asal petik terus dimakan kayak buah apel. Kalau kamu nekat gigit buah aren langsung dari pohonnya, selamat, kamu bakal ngerasain gatal yang nggak ada obatnya. Buah aren mentah itu mengandung asam oksalat yang getahnya bisa bikin kulit merah-merah dan gatalnya minta ampun. Bayangin aja, baru kena getahnya aja udah bikin pengen garuk-garuk seharian, apalagi kalau harus mengolahnya jadi makanan.

Proses Panjang: Dari Hutan ke Meja Makan

Proses pembuatan kolang-kaling itu nggak bisa dilakukan sambil rebahan. Ini adalah kerja keras fisik yang beneran butuh stamina. Biasanya, para petani harus memanjat pohon aren yang tingginya bisa belasan meter cuma buat ngambil tandan buah aren yang beratnya bukan main. Setelah diturunkan, perjuangan baru dimulai.



Ada dua cara umum buat ngilangin getah gatal itu: dibakar atau direbus. Tapi, zaman sekarang orang lebih banyak milih cara direbus karena hasilnya lebih bersih. Buah aren yang masih bergerombol itu dimasukkan ke dalam drum besar berisi air mendidih. Proses perebusannya nggak cuma sepuluh atau dua puluh menit kayak masak mi instan, tapi bisa berjam-jam. Tujuannya apa? Biar getahnya mati dan kulit buahnya jadi lunak.

Setelah direbus sampai empuk, buah aren itu harus dikupas satu-satu. Di dalam satu buah aren, biasanya ada tiga butir biji yang bakal jadi kolang-kaling. Nah, bagian ngupas ini biasanya jadi ajang kumpul-kumpul ibu-ibu di desa pengrajin kolang-kaling. Dengan pisau kecil, mereka membelah buah yang masih panas-panas kuku itu dan mengeluarkan biji putih di dalamnya. Bayangin, ribuan biji harus dikupas manual dengan tangan. Sabarnya harus setingkat dewa.

Tahap "Geprek" dan Perendaman yang Estetik

Setelah biji-biji itu keluar, bentuknya belum kayak yang kita lihat di pasar. Biji kolang-kaling asli itu bentuknya agak bulat dan keras. Supaya jadi pipih dan empuk, biji-biji ini harus melalui proses "geprek" atau dipipihkan sedikit pakai palu kayu. Nggak perlu sampai hancur, cukup sampai agak gepeng aja supaya teksturnya pas pas dikunyah.

Eits, belum selesai! Kolang-kaling yang sudah dipipihkan ini harus direndam dulu. Biasanya perajin pakai air kapur atau air bekas cucian beras (air tajin). Proses perendaman ini fungsinya krusial banget: buat ngilangin sisa-sisa getah yang masih nempel, ngebersihin lendir, sekaligus bikin warnanya jadi putih bersih dan teksturnya kenyal mantap. Perendaman ini bisa makan waktu berhari-hari, lho. Kalau nggak sabar, kolang-kalingnya bisa bau asem atau teksturnya malah jadi keras banget kayak karet ban.

Nasib Si Kenyal di Era Modern

Jujur aja, kadang kita suka kurang menghargai semangkuk kolang-kaling yang harganya cuma beberapa ribu per porsi. Padahal kalau liat gimana petani aren harus manjat pohon tinggi, kena asap rebusan, sampai risiko gatal-gatal gara-gara getahnya, rasa-rasanya harga segitu terlalu murah buat perjuangan mereka. Kolang-kaling itu bukan cuma soal rasa, tapi soal ketelatenan masyarakat lokal dalam memanfaatkan apa yang dikasih alam.



Sekarang, kolang-kaling nggak cuma muncul di es campur aja. Udah banyak inovasi manisan kolang-kaling dengan warna-warni ngejreng—ada yang merah rasa stroberi, hijau rasa pandan, sampai ungu rasa anggur. Penampilannya jadi makin "Instagramable" dan kekinian. Tapi ya itu tadi, mau gimanapun bentuknya, bahan dasarnya tetep sama: hasil kerja keras dari pedalaman hutan aren.

Observasi kecil saya, kolang-kaling ini adalah salah satu " comfort food" yang paling konsisten di Indonesia. Mau krisis ekonomi kek, mau ganti presiden kek, tekstur kenyal kolang-kaling nggak pernah berubah. Dia selalu ada buat nemenin kita yang lagi kepanasan di bawah terik matahari atau lagi nunggu waktu berbuka. Jadi, kalau nanti kalian nemu kolang-kaling di dalam gelas minuman kalian, coba deh nikmatin tiap kunyahannya sambil ingat-ingat: si putih ini udah melewati api dan air sebelum akhirnya mendarat di sendok kalian.

Intinya, kolang-kaling adalah bukti nyata kalau sesuatu yang awalnya "berbahaya" (baca: bikin gatal parah) bisa berubah jadi sesuatu yang sangat nikmat kalau diolah dengan kesabaran dan pengetahuan yang tepat. Sebuah pelajaran hidup yang lumayan dalam cuma dari sebutir biji aren, bukan?