Jumat, 27 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Misteri "Gunung Baju" di Kamar: Apa Kata Psikologi tentang Kebiasaan Menumpuk Pakaian di Kursi?

Tata - Friday, 27 February 2026 | 04:45 PM

Background
Misteri "Gunung Baju" di Kamar: Apa Kata Psikologi tentang Kebiasaan Menumpuk Pakaian di Kursi?

Misteri Gunung Tekstil di Sudut Kamar: Membedah Kepribadian di Balik Kursi Penumpuk Baju

Mari kita jujur sejenak. Di kamar kamu, kemungkinan besar ada satu benda yang fungsinya sudah bergeser jauh dari desain aslinya. Sebuah kursi—entah itu kursi kerja ergonomis seharga jutaan atau kursi plastik sisa kondangan—yang kini sudah tidak lagi terlihat bentuk aslinya karena tertutup oleh tumpukan pakaian. Ada jaket yang baru dipakai sekali, kaos yang "masih cukup bersih buat dipakai ke minimarket", sampai celana jins yang sudah nangkring di sana sejak minggu lalu.

Fenomena ini bukan hal baru. Di internet, orang-orang menyebutnya sebagai "The Chair". Kursi ini adalah sebuah entitas magis di mana baju-baju transisi—yang belum kotor tapi sudah nggak pantas masuk lemari—berkumpul membentuk sebuah gunung kecil. Bagi sebagian orang, pemandangan ini bikin mata gatal dan pengen langsung beberes. Tapi buat sebagian lainnya, tumpukan itu adalah kenyamanan. Usut punya usut, kebiasaan menumpuk baju di atas kursi ini bukan sekadar tanda kamu malas, lho. Ada sains dan psikologi tipis-tipis di baliknya yang menunjukkan siapa kamu sebenarnya.

Jadi, apa saja sih ciri kepribadian orang yang secara konsisten memelihara "ekosistem" baju di atas kursi? Mari kita bedah satu per satu dengan santai.

1. Si Kreatif yang Berpikir Divergen (Bukan Sekadar Berantakan)

Pernah dengar teori kalau meja kerja yang berantakan adalah tanda otak yang jenius? Nah, hal yang sama bisa berlaku buat kursi kamu. Orang yang suka menumpuk baju cenderung memiliki pola pikir divergent. Mereka tidak terlalu terpaku pada struktur formal atau keteraturan yang kaku. Bagi mereka, estetika "kapal pecah" bukanlah gangguan, melainkan tanda bahwa fokus mereka sedang tercurah pada hal lain yang lebih besar.

Secara psikologis, orang-orang ini biasanya lebih mementingkan fungsionalitas dan ide-ide yang meluap di kepala daripada memastikan semua kancing baju sejajar di dalam lemari. Mereka melihat tumpukan baju itu bukan sebagai masalah, tapi sebagai bagian dari lanskap kehidupan. Istilah kerennya, mereka punya ambang batas toleransi yang tinggi terhadap ketidakteraturan. Kalau mereka lagi asyik ngerjain proyek atau mikirin masa depan, urusan melipat baju itu masuk ke kategori "noise" yang bisa diabaikan. Jadi, kalau ada yang protes kamarmu berantakan, bilang saja kamu sedang mengoptimalkan kapasitas otak untuk hal-hal yang lebih visioner.



2. Optimisme yang Agak Kebablasan (Si "Nanti Juga Diberesin")

Ciri kedua ini relate banget sama kaum mendang-mending yang suka menunda sesuatu. Penumpuk baju di kursi biasanya adalah seorang optimis sejati. Kenapa? Karena setiap kali mereka melempar baju ke kursi, ada suara di dalam kepala yang bilang, "Ah, nanti sore juga gue lipet," atau "Nanti sebelum tidur pasti gue beresin kok."

Masalahnya, "nanti" adalah sebuah dimensi waktu yang sangat abstrak dan sering kali tidak pernah datang. Optimisme ini sering kali berujung pada procrastinating atau penundaan. Mereka merasa punya kontrol atas waktu, padahal kenyataannya baju-baju itu justru berkembang biak dengan sendirinya. Orang dengan kepribadian ini biasanya punya semangat yang besar di awal, tapi sering kehabisan bensin di akhir. Mereka lebih suka menikmati momen sekarang—seperti langsung rebahan setelah pulang kerja—daripada harus berurusan dengan ritual melipat baju yang membosankan. Bagi mereka, kebahagiaan instan itu lebih penting daripada kerapian jangka panjang.

3. Si Praktis yang Super Efisien (Atau Versi Sopannya: Pragmatis)

Coba deh perhatikan baju apa saja yang ada di tumpukan itu. Pasti kebanyakan adalah baju-baju "setengah pakai". Di mata orang yang pragmatis, memasukkan kembali baju yang sudah dipakai sekali ke dalam lemari yang bersih itu terasa seperti dosa besar terhadap kebersihan. Tapi, kalau langsung dicuci, rasanya sayang karena belum bau-bau amat dan bisa menghemat kuota air serta detergen.

Nah, di sinilah kepribadian praktis itu muncul. Kursi berfungsi sebagai zona transit. Mereka adalah orang-orang yang sangat menghargai efisiensi energi. "Kenapa gue harus lipat dan masukin lemari kalau besok pagi mau gue pakai lagi buat jemput paket?" Begitu logika mereka. Mereka tidak mau membuang waktu untuk proses yang menurut mereka repetitif dan tidak esensial. Mereka lebih suka hidup dalam sistem yang memudahkan akses. Tumpukan baju itu adalah "open wardrobe" versi kearifan lokal. Segalanya terlihat, segalanya terjangkau, dan nggak perlu ribet buka-tutup pintu lemari.

Kesimpulan: Apakah Ini Buruk?

Sebenarnya, menumpuk baju di kursi itu manusiawi banget. Selama gunung baju itu nggak sampai roboh dan menimbun kamu pas lagi tidur, atau nggak sampai jadi sarang nyamuk, ya sah-sah saja. Itu adalah bagian dari dinamika kepribadian kita yang beragam. Ada yang butuh keteraturan absolut buat bisa bernapas tenang, ada juga yang justru merasa lebih "hidup" di tengah sedikit kekacauan.



Namun, kalau kursi itu sudah nggak bisa lagi menampung beban hidup—eh, beban baju—mungkin itu kode dari alam semesta supaya kamu mulai menyicil satu per satu. Nggak perlu langsung rapi ala Marie Kondo dalam semalam. Mulai saja dengan memisahkan mana yang benar-benar harus masuk mesin cuci dan mana yang cuma perlu digantung. Ingat, kursi itu sejatinya diciptakan untuk duduk, bukan untuk jadi pajangan tekstil abadi.

Jadi, kamu termasuk tipe yang mana? Si jenius yang berantakan, si optimis yang suka nunda, atau si praktis yang ogah rugi waktu? Apapun itu, setidaknya kamu tahu kalau kamu nggak sendirian dalam perjuangan melawan gravitasi tumpukan baju di atas kursi.