Menolak Lupa: Kenapa Musik Legendaris Jaman Dulu Masih Juara di Telinga Anak Sekarang?
RAU - Tuesday, 14 April 2026 | 10:00 AM


Menolak Lupa: Kenapa Musik Legendaris Jaman Dulu Masih Juara di Telinga Anak Sekarang?
Pernah nggak sih kalian lagi asyik nongkrong di cafe yang estetik, terus tiba-tiba playlist-nya muter lagu "Kangen" punya Dewa 19 atau "Dan" dari Sheila on 7? Reaksi spontan kita biasanya bukan menutup telinga, melainkan ikutan nyanyi bareng, bahkan sampai teriak-teriak di bagian reff-nya. Padahal, lagu-lagu itu mungkin dirilis pas kita masih pakai seragam merah putih, atau malah pas kita belum lahir ke dunia ini. Fenomena ini unik banget. Di tengah gempuran musik K-Pop yang dancenya lincah banget atau musik EDM yang jedag-jedug, musik legendaris jaman dulu tetap punya tempat VVIP di hati lintas generasi.
Ada semacam magis yang nggak bisa dijelaskan secara sains kenapa lagu-lagu "oldies" ini nggak pernah basi. Kalau kata anak jaman sekarang, vibrasinya itu beda. Musik jaman dulu bukan cuma sekadar audio yang lewat di telinga, tapi kayak mesin waktu yang siap melempar kita ke memori-memori yang bahkan mungkin nggak pernah kita alami sendiri. Entah itu nostalgia masa SMA orang tua kita, atau bayangan tentang Jakarta tahun 90-an yang belum semacet sekarang.
Lirik yang Puitis tapi Nggak Lebay
Salah satu alasan kenapa musik legendaris, sebut saja karya-karya Chrisye, Fariz RM, atau Ebiet G. Ade, masih enak didengar adalah kekuatan liriknya. Musisi jaman dulu itu kayaknya kalau bikin lirik dipikirin matang-matang banget. Mereka nggak cuma asal tempel kata-kata yang lagi viral. Ada kedalaman makna, ada pemilihan diksi yang puitis tapi tetap masuk akal di logika.
Coba bandingkan dengan beberapa lagu hits jaman sekarang yang kadang liriknya cuma diulang-ulang atau terlalu to-the-point. Musik jaman dulu itu punya seni dalam menyampaikan rindu, patah hati, sampai kritik sosial. Pas dengerin "Berita Kepada Kawan", kita diajak buat merenung tentang alam. Pas dengerin "Sakura" dari Fariz RM, kita berasa lagi jalan-jalan di tengah kota dengan gaya yang paling keren. Lirik-lirik ini punya "nyawa" yang bikin pendengarnya ngerasa relatable, meskipun zamannya sudah berganti dari kaset pita ke Spotify.
Komposisi Musik yang "Jujur" dan Organik
Secara teknis, musik jaman dulu diproduksi dengan alat-alat yang mungkin nggak secanggih sekarang. Nggak ada Auto-Tune yang bisa bikin suara sumbang jadi merdu seketika. Rekaman jaman dulu itu butuh skill yang benar-benar mumpuni. Kalau mau bikin suara drum yang mantap, ya drummer-nya harus jago. Kalau mau ada suara orkestra, ya mereka beneran undang pemain biola ke studio.
Kejujuran dalam bermusik inilah yang bikin audionya terasa "hangat" di telinga. Ada tekstur suara yang unik, yang kalau bahasa anak audio disebut punya dynamic range yang lebih luas. Nggak heran kalau sekarang anak-anak indie atau Gen Z banyak yang balik lagi koleksi piringan hitam (vinyl) atau kaset pita. Mereka mencari suara analog yang punya karakter, bukan cuma suara digital yang terlalu bersih sampai-sampai terasa dingin dan kaku.
Kebangkitan City Pop dan Retro Vibes
Jangan lupakan juga tren "Indonesian City Pop" yang belakangan ini meledak lagi. Lagu-lagu bernuansa funk, disco, dan jazz dari akhir 70-an dan awal 80-an tiba-tiba jadi primadona di playlist anak senja. Nama-nama seperti Utha Likumahuwa atau Dian Pramana Poetra kembali naik daun. Kenapa? Karena musik mereka menawarkan vibe yang santai tapi elegan. Cocok banget buat menemani aktivitas WFH atau sekadar bengong sore-sore sambil ngopi.
Tren ini membuktikan kalau musik legendaris itu nggak kuno. Justru, musik jaman dulu itu dianggap cool dan punya nilai estetika tinggi. Anak muda jaman sekarang merasa kalau dengerin lagu lawas itu menunjukkan kalau mereka punya selera musik yang terkurasi. Jadi, kalau kalian melihat ada remaja pakai kaos band band legendaris macam Koes Plus atau God Bless, itu bukan sekadar fashion, tapi bentuk apresiasi mereka terhadap sebuah karya masterpiece yang tahan banting oleh zaman.
Musik sebagai Jembatan Antar Generasi
Mungkin cuma musik yang bisa bikin obrolan antara bapak dan anak jadi nyambung. Bayangkan si bapak lagi dengerin lagu Nike Ardilla, terus anaknya nyaut, "Eh, ini kan lagu yang kemarin viral di TikTok, Pak!" Meskipun jalurnya beda—si bapak dengerin lewat radio dan si anak lewat algoritma medsos—titik temunya tetap sama: mereka sama-sama mengakui kalau lagu itu enak banget.
Musik legendaris jaman dulu bertindak sebagai perekat sosial. Ia mampu menembus batas usia. Lagu-lagu dari band legendaris Indonesia punya struktur melodi yang kuat (strong melody) yang gampang diingat dan dinyanyikan bareng-bareng (sing-along). Itulah kenapa di acara nikahan, reuni, sampai festival musik besar, lagu-lagu lawas selalu sukses bikin suasana pecah. Semua orang bisa nyanyi bareng tanpa harus janjian dulu.
Penutup: Investasi Telinga yang Tak Ternilai
Pada akhirnya, musik jaman dulu tetap bertahan karena mereka dibuat dengan hati, bukan cuma sekadar mengejar angka streaming atau tren sesaat. Mereka adalah monumen sejarah yang merekam perasaan orang-orang pada masanya. Buat kita yang hidup di jaman serba cepat ini, sesekali "pulang" ke musik-musik lawas adalah bentuk self-healing yang paling murah dan efektif.
Jadi, nggak perlu malu kalau playlist kamu isinya campur aduk antara lagu terbaru NewJeans dengan lagu lawasnya Broery Marantika. Justru itu tandanya kamu punya spektrum rasa yang luas. Musik legendaris jaman dulu akan tetap ada, terus berputar di radio-radio, di cafe-cafe, dan tentu saja di hati para pecinta musik sejati yang tahu mana emas dan mana yang cuma sepuhan. Panjang umur musik Indonesia!
Next News

Tabola Bale Dari NTT Hingga Viral ke Seluruh Dunia
in 23 minutes

Beat-nya Asik Parah!! Lirik Lagu "PINKY UP" – KATSEYE
3 hours ago

Lirik Lagu "Berapa Kali Kita Akan Memaafkan?" – Pamungkas
3 hours ago

COLLAB NIH!! Lirik Lagu "Bad Angel" – Anyma & Lisa
3 hours ago

Lirik Lagu "RUNWAY" – Lady Gaga & Doechii, Soundtrack Film The Devil Wears Prada 2
3 hours ago

Di Balik Hits Justin Bieber, That Should Be Me Paling Menguras Emosi
a day ago

Holong Panimpuli: Makna Mendalam di Balik Lagu Batak Tentang Cinta Terakhir
4 days ago

Lirik dan Makna Lagu Bad Angel Kolaborasi Eksplosif Lisa BLACKPINK dan Anyma di Coachella 2026
4 days ago

Lirik Terbaru KiiKii 404 (New Era), Lengkap dan Terjemahan Indonesia
4 days ago

Daftar Lengkap Lineup Coachella 2026: Justin Bieber, BIGBANG hingga Karol G
5 days ago


