Minggu, 1 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Sisi Lain Ikan Tuna yang Ternyata Melampaui Imajinasi Kita

Liaa - Sunday, 01 March 2026 | 05:10 AM

Background
Mengenal Sisi Lain Ikan Tuna yang Ternyata Melampaui Imajinasi Kita

Si Raja Lautan yang Nggak Bisa Berhenti: Mengenal Sisi Lain Ikan Tuna yang Ternyata Melampaui Imajinasi Kita

Bagi kebanyakan orang Indonesia, perkenalan pertama dengan ikan tuna mungkin terjadi di atas piring nasi kuning atau di dalam kaleng yang tinggal sreng. Paling banter, kalau lagi punya uang lebih, kita bakal ketemu tuna dalam bentuk irisan sashimi yang segar di restoran Jepang. Tapi, pernahkah kamu membayangkan kalau ikan yang sering kita lahap dengan nikmat ini sebenarnya adalah salah satu makhluk paling "gila" di planet bumi? Serius, tuna itu bukan sekadar ikan biasa yang kerjanya cuma bengong di air.

Ikan tuna adalah atlet maraton, mobil balap, sekaligus mesin penghangat alami yang hidup di kedalaman samudera. Kalau laut punya kasta sosial, tuna pasti ada di barisan depan bersama para elit lainnya. Mari kita bedah satu per satu kenapa ikan ini layak mendapatkan rasa hormat kita, bukan cuma karena rasanya yang enak, tapi karena fakta-fakta biologisnya yang benar-benar di luar nalar.

1. Si Ferrari di Bawah Air

Bayangkan kamu sedang berada di jalan tol dan melihat mobil melaju dengan kecepatan 70 kilometer per jam. Nah, itulah kecepatan yang bisa dicapai oleh seekor tuna sirip biru (Bluefin Tuna) saat sedang mengejar mangsa atau melarikan diri dari predator. Tubuh mereka didesain secara aerodinamis—atau lebih tepatnya hidrodinamis—dengan bentuk menyerupai torpedo.

Yang lebih gokil lagi, sirip-sirip mereka bisa ditekuk masuk ke dalam lipatan tubuhnya untuk mengurangi hambatan air. Ini mirip banget dengan teknologi pesawat tempur yang melipat rodanya saat terbang. Dengan desain tubuh seperti ini, tuna nggak cuma cepat, tapi juga efisien. Mereka bisa menempuh jarak ribuan kilometer melintasi samudera tanpa terlihat ngos-ngosan. Jadi, kalau kamu merasa bangga baru lari 5 kilometer di CFD, ingatlah bahwa ada tuna yang sedang menyeberangi Samudera Pasifik sambil tidur.

2. Kutukan Nggak Bisa Berhenti Berenang

Ini adalah bagian yang agak tragis sekaligus menakjubkan. Berbeda dengan kebanyakan ikan yang bisa diam di tempat sambil menggerakkan tutup insangnya untuk bernapas, tuna menggunakan metode yang disebut "ram ventilation". Artinya, mereka harus terus membuka mulut dan berenang maju supaya air kaya oksigen bisa melewati insang mereka secara pasif.



Apa konsekuensinya? Tuna nggak boleh berhenti berenang seumur hidupnya. Kalau mereka berhenti, mereka bakal kehabisan napas dan mati. Bayangkan betapa melelahkannya hidup seperti itu. Bahkan saat mereka istirahat pun, bagian otak mereka harus tetap aktif untuk memastikan sirip terus bergerak. Istilah "pejuang hidup" benar-benar disandang secara literal oleh ikan tuna. Mereka adalah definisi nyata dari pepatah "pantang menyerah sebelum ajal menjemput".

3. Ikan Berdarah Panas di Dunia yang Dingin

Pelajaran biologi di sekolah dulu bilang kalau ikan itu hewan berdarah dingin (poikiloterm). Tapi, tuna adalah pengecualian yang bikin ilmuwan garuk-garuk kepala. Mereka memiliki sistem pembuluh darah unik yang disebut rete mirabile. Sistem ini memungkinkan mereka untuk menjaga suhu tubuh tetap lebih hangat daripada suhu air di sekitarnya.

Keuntungan punya tubuh "hangat" ini besar banget. Otot mereka jadi lebih efisien, penglihatan lebih tajam, dan proses metabolisme lebih cepat. Inilah alasan kenapa tuna bisa berburu di perairan yang sangat dalam dan dingin di mana ikan lain mungkin sudah kaku kedinginan. Tuna itu ibarat atlet yang selalu melakukan pemanasan sebelum tanding, tapi bedanya, mereka melakukan pemanasan 24 jam sehari.

4. Harganya Bisa Bikin Dompet Menjerit

Kalau kita bicara soal tuna sirip biru, kita nggak lagi bicara soal harga ikan di pasar tradisional. Di pasar ikan Tsukiji atau Toyosu di Jepang, seekor tuna sirip biru raksasa pernah terjual dengan harga lebih dari 3 juta dolar AS atau sekitar 45 miliar rupiah! Kenapa bisa semahal itu? Ya, karena dagingnya dianggap sebagai kasta tertinggi dalam dunia kuliner.

Daging tuna punya tekstur yang berbeda-beda, mulai dari akami (daging merah tanpa lemak), chu-toro (lemak sedang), sampai otoro (bagian perut yang sangat berlemak dan lumer di mulut). Orang Jepang sangat menghargai kualitas ini. Tapi ya itu tadi, harganya seringkali nggak masuk akal buat kaum mendang-mending seperti kita. Makan satu potong otoro mungkin sama harganya dengan cicilan motor sebulan.



5. Sang Penjelajah Global

Ikan tuna nggak punya paspor, tapi mereka adalah pengembara dunia yang sejati. Seekor tuna bisa lahir di Teluk Meksiko, lalu berenang menyeberangi Samudera Atlantik menuju pesisir Eropa hanya untuk mencari makan, dan kembali lagi ke tempat asalnya untuk bertelur. Mereka adalah migrator lintas samudera yang luar biasa.

Kemampuan navigasi mereka juga masih menjadi misteri yang menarik bagi para peneliti. Diduga kuat mereka menggunakan medan magnet bumi dan perubahan suhu air sebagai panduan jalan. Jadi, tuna itu bukan cuma sekadar berenang tanpa arah; mereka punya tujuan yang jelas dan peta digital internal yang sangat akurat.

6. Mengapa Dagingnya Berwarna Merah?

Pernah perhatikan nggak, kenapa daging ikan bandeng atau gurame warnanya putih, tapi tuna warnanya merah gelap mirip daging sapi? Jawabannya ada pada protein bernama mioglobin. Karena tuna adalah perenang jarak jauh yang butuh suplai oksigen konstan ke otot, tubuh mereka memproduksi mioglobin dalam jumlah besar.

Mioglobin inilah yang mengikat oksigen dan memberikan warna merah pada otot mereka. Ini membuktikan sekali lagi bahwa tuna adalah "mesin atletik". Daging merah tersebut penuh dengan energi yang dibutuhkan untuk terus membelah lautan tanpa henti.

Penutup: Menghargai Sang Raja

Setelah tahu fakta-fakta di atas, rasanya agak kurang sopan kalau kita melihat tuna cuma sebagai pelengkap nasi goreng. Mereka adalah keajaiban evolusi yang menunjukkan betapa kerasnya kehidupan di bawah laut. Namun sayangnya, karena permintaan yang sangat tinggi, beberapa spesies tuna kini statusnya terancam karena overfishing.



Sebagai konsumen, mungkin hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah mulai peduli dari mana ikan kita berasal. Memilih produk tuna yang ditangkap dengan cara berkelanjutan adalah bentuk apresiasi kita terhadap ikan "berdarah panas" yang nggak pernah berhenti berenang ini. Jadi, lain kali kamu makan sushi atau tuna kaleng, berikan sedikit rasa hormat pada si pelari maraton samudera ini. Mereka sudah menempuh ribuan kilometer hanya untuk sampai ke meja makanmu.