Minggu, 5 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Berbagai Jenis Teh dan Karakter Rasanya

Liaa - Sunday, 05 July 2026 | 12:30 PM

Background
Mengenal Berbagai Jenis Teh dan Karakter Rasanya

Menelusuri Semesta di Balik Cangkir: Bukan Sekadar Es Teh Manis Biasa

Bayangkan siang hari yang terik, matahari lagi galak-galaknya di atas kepala, dan tenggorokan rasanya sekering padang pasir. Pilihan paling logis buat kebanyakan orang Indonesia cuma satu: es teh manis. Minuman ini sudah jadi pahlawan tanpa tanda jasa di warteg, kafe mahal, sampai acara kondangan. Tapi, pernah nggak sih lo berhenti sejenak dan mikir, sebenarnya yang lo minum itu jenis teh apa? Atau kenapa rasa teh di kafe estetik rasanya beda jauh sama teh tubruk racikan nenek di rumah?

Dunia teh itu luas banget, gaes. Nggak kalah kompleks sama dunia kopi yang penuh dengan perdebatan soal acidic atau body. Teh punya kasta, cerita, dan karakter rasa yang bisa bikin lo geleng-geleng kepala kalau baru tahu. Asalnya memang rata-rata dari tanaman yang sama, yaitu Camellia sinensis. Tapi, perlakuan yang beda saat pengolahan bikin mereka punya kepribadian yang kontras banget satu sama lain.

Teh Hijau: Si Sehat yang Sering Disalahpahami

Mari kita mulai dari yang paling sering dibilang sebagai "minuman diet" atau "minuman sehat": teh hijau alias green tea. Jujurly, banyak orang yang kapok minum teh hijau karena rasanya dianggap kayak air rebusan rumput atau terlalu pahit. Padahal, masalahnya seringkali bukan di daunnya, tapi di cara nyeduhnya yang salah. Pakai air mendidih buat teh hijau itu dosa besar, karena bakal bikin rasanya astringent alias pahit nggak karuan.

Karakter rasa teh hijau itu biasanya grassy (seperti rumput segar), nutty, atau kadang ada sedikit aroma laut (umami) kalau lo nyobain jenis Jepang kayak Sencha atau Matcha. Teh ini nggak lewat proses oksidasi, makanya warnanya tetap hijau cantik. Minum teh hijau itu ibarat lagi meditasi di tengah kebun; tenang, segar, dan bikin perasaan jadi lebih ringan.

Teh Hitam: Si Kuat Penjaga Warteg

Nah, ini dia primadona di Indonesia. Teh hitam adalah jenis teh yang paling banyak dikonsumsi di sini. Kenapa warnanya hitam pekat dan rasanya "nendang"? Itu karena daun tehnya mengalami oksidasi penuh. Di luar negeri, orang menyebutnya black tea, tapi di Tiongkok mereka nyebutnya teh merah karena warna air seduhannya yang kemerahan.



Karakternya kuat, tegas, dan punya body yang tebal. Ada sentuhan rasa karamel, malt, bahkan kadang sedikit aroma kayu yang terbakar. Ini jenis teh yang paling cocok dicampur susu, gula, atau lemon. Makanya, teh hitam jadi base utama buat es teh manis atau teh tarik yang sering kita temuin di pinggir jalan. Kalau lo lagi butuh kafein tapi nggak mau minum kopi, teh hitam adalah jawaban paling jujur yang bisa lo temuin.

Teh Oolong: Si Anak Tengah yang Eksotis

Kalau teh hijau nggak dioksidasi dan teh hitam dioksidasi total, teh oolong berada di tengah-tengahnya. Oolong itu kayak anak tengah yang punya kepribadian paling menarik karena dia punya spektrum rasa yang luas banget. Ada oolong yang rasanya mirip teh hijau (segar dan floral), ada juga yang lebih mirip teh hitam (pekat dan beraroma panggang).

Bagi para pecinta teh "skena", oolong adalah petualangan. Lo bisa ngerasain aroma bunga melati, buah persik, sampai wangi madu tanpa harus ditambah perasa tambahan. Teksturnya biasanya lebih creamy di mulut. Minum oolong itu butuh waktu, nggak bisa buru-buru diteguk kayak es teh di pinggir jalan. Lo perlu menyesapnya pelan-pelan buat nemuin lapisan rasanya yang kompleks.

Teh Putih: Old Money-nya Dunia Teh

Teh putih atau white tea bisa dibilang adalah jenis yang paling mahal dan eksklusif. Kenapa? Karena prosesnya paling minim intervensi manusia. Daun teh yang diambil cuma pucuk mudanya yang masih ada bulu-bulu halus putihnya, terus cuma dikeringkan secara alami. Nggak diremas, nggak dipanggang lama-lama.

Rasanya? Sangat halus, ringan, dan hampir manis secara alami. Jangan harap lo bakal dapet rasa sepet yang kuat di sini. Minum teh putih itu kayak dengerin musik klasik; lo harus tenang biar bisa ngerasain keindahannya. Aroma floralnya sangat tipis dan elegan. Biasanya, orang yang baru mulai minum teh bakal ngerasa ini kayak "air putih doang", tapi buat yang lidahnya sudah terlatih, teh putih adalah kemewahan yang hakiki.



Tisane: Si "Teh" yang Ternyata Bukan Teh

Terakhir, kita harus meluruskan salah kaprah soal tisane. Banyak orang menyebut bunga telang, chamomile, atau peppermint sebagai "teh". Secara teknis, mereka bukan teh karena nggak berasal dari tanaman Camellia sinensis. Nama kerennya adalah Tisane atau teh herbal.

Tapi ya sudahlah, nggak usah terlalu kaku soal istilah. Tisane ini asyik banget karena nggak mengandung kafein. Cocok buat lo yang pengen minum sesuatu yang hangat sebelum tidur tanpa takut kena insomnia. Chamomile punya rasa yang menenangkan kayak pelukan mantan (eh, maksudnya pelukan ibu), sementara peppermint bikin tenggorokan plong kayak habis makan permen pedas. Warna-warnanya pun cantik, dari biru bunga telang sampai kuning cerah kelopak bunga mawar.

Pada akhirnya, mau lo minum teh botolan seribuan atau teh premium yang harganya jutaan, semua balik lagi ke soal selera. Teh itu bukan cuma soal rasa, tapi soal momen. Ada kalanya kita butuh teh tubruk yang kental dan manis buat nemenin ngobrol politik di teras, tapi ada kalanya kita butuh secangkir teh hijau hangat buat meredakan stres kerjaan yang nggak ada habisnya.

Jadi, besok kalau lo pesan teh lagi, coba deh rasain pelan-pelan. Apakah ada aroma bunga di sana? Atau mungkin rasa sepet yang tertinggal di pangkal lidah? Karena di balik setiap cangkir teh, ada perjalanan panjang dari pegunungan jauh sampai ke meja lo. Selamat ngeteh, gaes!

Tags