Kamis, 20 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Suara Perut Bisa Berbunyi Keras Saat Sedang Diam?

Laila - Thursday, 20 August 2026 | 12:00 PM

Background
Mengapa Suara Perut Bisa Berbunyi Keras Saat Sedang Diam?

Simfoni Absurd: Kenapa Perut Kita Hobi "Konser" Justru Saat Suasana Lagi Hening?

Pernah nggak sih kamu lagi di tengah rapat kantor yang super serius, atau mungkin lagi ngerjain ujian di kelas yang sunyinya sampai suara jarum jatuh pun kedengaran? Tiba-tiba, tanpa aba-aba, perut kamu ngeluarin suara "kruyuuuuk" yang volumenya kayak speaker hajatan. Rasanya pengen langsung ngilang dari muka bumi atau pura-pura pingsan biar nggak malu-malu banget. Padahal, kamu merasa nggak lapar-lapar amat. Tapi kenapa si usus ini hobi banget cari perhatian di waktu yang salah?

Fenomena suara perut ini dalam dunia medis punya nama yang keren tapi susah dieja: Borborygmi. Kedengarannya kayak nama karakter di film fantasi atau dewa dari mitologi Yunani kuno, ya? Tapi tenang, ini bukan pertanda ada naga lagi berantem di perut kamu. Borborygmi adalah proses biologis yang sangat manusiawi, meskipun sering kali datangnya nggak tahu tempat dan nggak kenal kompromi dengan urusan gengsi kita.

Bukan Sekadar Kode Minta Makan

Selama ini kita sering menyimpulkan kalau perut bunyi itu artinya "Woi, laper! Kasih makan dong!". Well, itu nggak sepenuhnya salah, tapi nggak bener-bener amat juga. Faktanya, perut kita itu sebenernya "berisik" sepanjang waktu. Kayak mesin pabrik yang nggak pernah mati, sistem pencernaan kita kerja 24 jam non-stop buat ngolah apa pun yang kita telan.

Nah, suara itu muncul karena adanya gerakan peristaltik. Bayangin usus kamu itu kayak selang plastik yang elastis. Otot-otot di dinding usus bakal berkontraksi atau meremas-remas buat mendorong makanan, cairan, dan gas supaya terus jalan ke depan. Proses remas-meremas ini yang memicu suara. Masalahnya, kenapa pas lagi sepi suaranya jadi kerasa kenceng banget? Ya karena emang nggak ada suara saingan aja. Selain itu, ada teori akustik sederhana yang terlibat di sini.

Bayangin sebuah drum. Kalau drum itu penuh sama kain atau kapas, pas dipukul suaranya bakal mendem. Tapi kalau drum itu kosong melompong, bunyinya bakal nyaring dan menggema. Gitu juga perut kita. Pas perut penuh makanan, suara gerakan otot usus itu teredam. Tapi pas perut kosong—biasanya sekitar dua jam setelah makan terakhir—isi usus kita cuma tinggal udara dan sedikit cairan sisa. Ruang kosong ini yang bikin suara kontraksi otot jadi beresonansi dan terdengar jauh lebih keras ke telinga orang sebelah.



Si Tukang Bersih-Bersih yang Rajin

Ada satu alasan lagi kenapa perut malah makin berisik pas lagi kosong. Tubuh kita punya sistem yang namanya Migrating Motor Complex (MMC). Anggap saja ini adalah "petugas kebersihan" di saluran pencernaan. Setelah makanan terserap, MMC bakal aktif buat nyapu sisa-sisa makanan, lendir, atau bakteri yang ketinggalan di usus kecil supaya nggak menumpuk.

Proses bersih-bersih ini melibatkan kontraksi yang kuat dan teratur. Jadi, pas perut kamu bunyi kenceng saat kamu lagi nunggu jam makan siang, itu sebenernya tubuh kamu lagi melakukan "deep cleaning". Dia lagi memastikan jalur pencernaan bersih total sebelum "paket" makanan berikutnya datang. Keren sih secara biologis, tapi tetep aja bikin auto-salting kalau suaranya kedengeran gebetan pas lagi kencan pertama.

Faktor "Gas" dan Gaya Hidup

Selain masalah lapar dan bersih-bersih, ada faktor eksternal yang bikin perut kamu makin hobi konser. Salah satunya adalah udara yang ikut ketelan (aerofagia). Ini sering terjadi kalau kamu makan kecepetan—kayak lagi ikut lomba makan—atau hobi ngobrol sambil ngunyah. Udara yang terjebak di dalam sistem pencernaan ini bakal ikut kegiling bareng cairan usus, dan hasilnya? Suara yang lebih nyaring dan kadang "bertekstur".

Minuman bersoda atau kopi juga bisa jadi dalang di balik kebisingan ini. Karbondioksida dalam soda jelas nambahin stok gas di perut. Sementara itu, kafein bisa menstimulasi otot usus buat gerak lebih agresif. Belum lagi kalau kamu punya intoleransi makanan, misalnya sensitif sama laktosa di susu. Usus yang lagi "protes" karena nggak bisa nyerna makanan tertentu biasanya bakal jauh lebih heboh dan berisik dibanding biasanya.

Jangan Terlalu Diambil Hati

Intinya, perut bunyi itu tanda kalau sistem di dalam tubuh kamu berfungsi dengan normal. Itu adalah tanda kehidupan. Memang sih, momennya seringkali nggak tepat. Tapi daripada malu, mending bawa santai aja. Kalau ada yang nengok pas perut kamu bunyi, senyumin aja sambil bilang, "Eh sori, naga di dalem lagi laper," atau "Ini lagi proses update software pencernaan."



Kecuali kalau suara perut kamu dibarengi sama rasa nyeri yang luar biasa, mual, atau perut yang rasanya keras kayak papan, ya itu beda cerita. Kalau cuma suara doang tanpa keluhan lain, itu mah cuma drama internal tubuh aja. Tips buat ngurangin volumenya? Coba makan lebih pelan, kurangi ngomong pas lagi ngunyah, dan jangan biarkan perut benar-benar kosong melompong dalam waktu lama kalau kamu tahu bakal berada di situasi yang butuh ketenangan maksimal.

Jadi, mulai sekarang, jangan lagi musuhan sama bunyi perut sendiri. Anggap aja itu pengingat kalau tubuh kamu lagi kerja keras buat menjaga kamu tetap sehat. Meskipun ya, emang kadang "kerjanya" agak kurang tahu diri di tempat umum. Tapi hey, namanya juga manusia, kan?

Tags