Kamis, 20 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Makanan Fermentasi Makin Populer, Apa yang Membuatnya Menarik?

Laila - Thursday, 20 August 2026 | 12:00 PM

Background
Makanan Fermentasi Makin Populer, Apa yang Membuatnya Menarik?

Wangi Menyengat yang Bikin Nagih: Kenapa Sih Makanan Fermentasi Lagi Naik Daun?

Pernah nggak sih kalian lagi jalan-jalan di mall, terus nemu minuman di botol kaca estetik dengan label harga yang lumayan bikin kantong meringis, padahal isinya cuma air teh yang rasanya asam-asam "ajaib"? Yak, itulah kombucha. Atau mungkin kalian sering lihat influencer di TikTok yang lagi asyik mukbang sepiring penuh kimchi sambil bilang betapa sehatnya makanan itu buat pencernaan. Tiba-tiba saja, makanan yang "didiamkan sampai agak busuk" ini jadi primadona di kalangan anak muda urban.

Padahal kalau kita tarik mundur dikit, urusan fermentasi ini bukan barang baru buat lidah orang Indonesia. Kita tumbuh besar dengan aroma terasi yang menusuk hidung tapi bikin sambal jadi juara, atau legitnya tape singkong yang dibungkus daun pisang. Tapi kenapa ya, baru sekarang tren ini meledak lagi dengan kemasan yang lebih glow-up dan harga yang kadang nggak masuk akal? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi (yang omong-omong, bijinya juga hasil fermentasi).

Sains di Balik Rasa "Funky" yang Bikin Sehat

Secara teknis, fermentasi itu adalah proses di mana mikroorganisme kayak bakteri, ragi, atau jamur mengubah karbohidrat jadi alkohol atau asam organik. Terdengar kayak pelajaran biologi kelas 10 yang ngebosenin? Tenang, intinya adalah: ada mahluk-mahluk kecil yang bekerja lembur buat "memasak" makanan kita tanpa api.

Kenapa sekarang orang makin tergila-gila? Jawabannya ada di perut kita, alias gut health. Belakangan ini, isu kesehatan mental dan fisik makin sering dikaitkan dengan kondisi pencernaan. Ada istilah yang bilang kalau perut adalah "otak kedua" kita. Nah, makanan fermentasi ini isinya pasukan bakteri baik (probiotik) yang siap tempur menjaga keseimbangan ekosistem di dalam usus. Pas usus kita happy, mood kita biasanya ikutan stabil. Jadi, nggak heran kalau orang-orang yang lagi mencoba hidup mindful langsung menyerbu makanan-makanan hasil fermentasi ini.

Ledakan Rasa Umami yang Nggak Ada Lawannya

Selain urusan kesehatan, ada satu alasan jujur kenapa makanan fermentasi itu menarik: rasanya enak banget! Fermentasi itu kayak filter Instagram buat rasa makanan; dia bikin semuanya jadi lebih tajam, lebih dalam, dan lebih kompleks. Ada sensasi asam yang segar, ada rasa asin yang meresap, dan yang paling dicari: rasa umami atau gurih alami.



Coba bayangkan tempe. Kalau kedelai cuma direbus biasa, rasanya hambar dan teksturnya ngebosenin. Tapi begitu kena jamur Rhizopus oligosporus dan didiamkan dua hari, dia berubah jadi padat, punya aroma kacang yang khas, dan kalau digoreng garing... wah, itu mah surga dunia. Begitu juga dengan keju atau yogurt. Proses penuaan dan aktivitas mikroba itulah yang menciptakan kedalaman rasa yang nggak bisa didapatkan dari penyedap rasa instan manapun.

Antara Gaya Hidup dan Nostalgia Lokal

Menariknya, tren makanan fermentasi di Indonesia ini kayak punya dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada pengaruh budaya pop global. Demam Korea (Hallyu) sukses besar bikin kimchi jadi makanan wajib di meja makan anak muda. Orang rela bayar mahal buat segelas kefir atau seporsi sauerkraut karena dianggap fancy dan kebarat-baratan.

Tapi di sisi lain, tren ini sebenarnya "menyentil" kita untuk menengok balik ke dapur nenek. Kita punya kekayaan fermentasi yang luar biasa luas. Ada mandai dari kulit cempedak di Kalimantan, ada tempoyak dari durian di Sumatera, sampai dadih (yogurt tradisional) dari susu kerbau di Minangkabau. Tren global ini seolah jadi pengingat kalau nenek moyang kita sebenarnya sudah hipster duluan dalam urusan teknologi pangan.

Lucunya, kadang kita lebih bangga posting foto kombucha di kafe daripada makan tape ketan di rumah. Padahal secara prinsip, mereka itu saudara sepupu. Fenomena ini menunjukkan kalau makanan fermentasi bukan cuma soal nutrisi, tapi juga soal identitas dan gaya hidup kekinian yang mencoba kembali ke alam (back to nature) di tengah gempuran makanan olahan yang serba instan dan penuh bahan kimia.

Kenapa Kita Harus Ikutan Tren Ini?

Kalau kalian belum mulai memasukkan unsur fermentasi ke menu harian, mungkin sekarang saat yang tepat. Bukan cuma biar kelihatan keren di media sosial, tapi memang ada manfaat nyata yang bisa dirasakan tubuh. Nggak harus beli yang mahal kok. Berikut adalah beberapa alasan kenapa makanan fermentasi layak dapet tempat di piringmu:



  • Awet Alami: Fermentasi itu cara purba buat mengawetkan makanan tanpa perlu bahan pengawet sintetik.
  • Nutrisi Lebih Mudah Diserap: Proses fermentasi "memecah" nutrisi yang tadinya kompleks jadi lebih sederhana, jadi tubuh kita nggak perlu kerja rodi buat menyerapnya.
  • Varian Rasa yang Unik: Buat kalian yang lidahnya hobi berpetualang, rasa funky dari fermentasi itu memberikan kepuasan tersendiri yang nggak monoton.
  • Mendukung Petani Lokal: Banyak produk fermentasi tradisional yang dibuat oleh industri rumahan. Beli tempe atau terasi pasar berarti kita ikut muterin roda ekonomi rakyat.

Kesimpulan: Masa Depan yang Sedikit "Asam"

Pada akhirnya, tren makanan fermentasi ini bukan sekadar fomo (fear of missing out) sesaat. Ini adalah gerakan kolektif untuk kembali menghargai proses. Di dunia yang serba cepat ini, makanan fermentasi mengajarkan kita soal kesabaran. Kita nggak bisa memaksa bakteri buat bekerja lebih cepat; kita harus menunggu, memantau, dan membiarkan alam bekerja dengan caranya sendiri.

Jadi, jangan kaget kalau beberapa tahun ke depan, bakal makin banyak menu-menu eksperimental berbasis fermentasi muncul di restoran-restoran hits. Mulai dari kopi fermentasi anaerob sampai es krim rasa tape yang makin naik kelas. Selama kita masih punya lidah yang doyan rasa gurih dan perut yang butuh asupan bakteri baik, tren ini nggak bakal basi—malah bakal makin "matang" dan makin enak. Yuk, jangan ragu lagi buat makan yang ada jamur atau bakteri baiknya, asalkan prosesnya benar dan higienis ya!

Tags