Mengapa Pengalaman Masa Kecil Bisa Memengaruhi Perilaku Saat Dewasa?
Laila - Sunday, 09 August 2026 | 12:00 AM


Kenapa Luka (dan Bahagia) Masa Kecil Masih Suka "Sambat" Pas Kita Udah Gede?
Pernah nggak sih kamu merasa heran sama diri sendiri? Misalnya, kenapa ya tiap kali ada konflik sama pasangan, reaksi pertama kamu adalah pengen ngilang atau nge-ghosting? Atau kenapa kamu merasa harus selalu jadi orang yang paling rajin di kantor sampai-sampai nggak enak kalau mau ambil cuti, seolah-olah dunia bakal runtuh kalau kamu nggak kerja? Kadang kita mikir itu cuma "kepribadian" atau "zodiak", tapi jujurly, akar masalahnya seringkali terkubur jauh di masa lalu, tepatnya di masa kecil kita.
Ada pepatah bilang kalau anak-anak itu ibarat spons yang menyerap apa saja di sekitarnya. Masalahnya, spons ini nggak milih-milih mana yang air bersih, mana yang air comberan. Semuanya disedot. Nah, memori-memori yang terserap itulah yang kemudian membangun "peta" di otak kita tentang gimana cara dunia ini bekerja. Kalau petanya dari awal sudah agak miring, ya jangan kaget kalau pas dewasa kita sering nyasar dalam mengelola emosi.
Otak Kita Adalah Hard Drive yang Nggak Pernah Full
Secara sains, otak manusia itu berkembang paling pesat di usia nol sampai tujuh tahun. Di masa ini, gelombang otak kita lebih sering berada di frekuensi yang membuat kita sangat sugestif. Apa pun yang dibilang orang tua atau lingkungan, bakal dianggap sebagai kebenaran mutlak. Kalau dulu kamu sering dibilang "kamu kok nggak sepintar anak tetangga?", kata-kata itu nggak cuma mampir di telinga, tapi terinstal jadi sistem operasi di kepala.
Begitu dewasa, suara itu berubah jadi inner critic. Jadi pas kamu gagal dikit, yang muncul bukan suara motivasi, tapi suara "tuh kan, bener kata ibu dulu, kamu emang nggak bisa apa-apa". Ngeselin, kan? Padahal itu kejadian puluhan tahun lalu, tapi efeknya masih terasa segar kayak baru kejadian tadi pagi. Ini yang bikin perilaku kita saat dewasa sebenarnya hanyalah bentuk repetisi dari pola-pola lama.
Gaya Kelekatan: Alasan Kamu "Needy" atau Malah "Dingin"
Dalam psikologi, ada yang namanya attachment theory atau teori kelekatan. Ini menjelaskan gimana hubungan kita sama pengasuh utama (biasanya orang tua) menentukan cara kita menjalin hubungan romantis pas dewasa. Ada tiga jenis yang paling sering dibahas: secure, anxious, dan avoidant.
- Secure: Beruntunglah kamu yang punya orang tua yang hadir secara emosional. Kamu jadi dewasa yang percaya diri dan nggak takut buat komitmen tapi juga nggak takut buat ditinggal.
- Anxious (Si Cemas): Kalau dulu orang tua kamu kadang ada kadang nggak (inkonsisten), kamu cenderung jadi orang yang butuh validasi terus-menerus. "Kamu masih sayang aku nggak?", "Kok chat aku cuma di-read?". Kamu takut banget ditinggalin karena dulu kamu nggak pernah merasa benar-benar aman.
- Avoidant (Si Penghindar): Ini biasanya terjadi kalau pas kecil kamu dilarang nangis atau harus mandiri terlalu dini. Akhirnya, pas gede kamu nganggep perasaan itu merepotkan. Begitu hubungan mulai serius, kamu malah lari karena takut "dijajah" atau disakiti.
Melihat pola ini, kita jadi sadar kalau cara kita nge-chat gebetan atau cara kita berantem sama pacar itu nggak muncul tiba-tiba. Itu adalah mekanisme pertahanan diri yang kita bangun supaya nggak ngerasain sakit yang sama kayak dulu.
Mekanisme Pertahanan yang Kadaluwarsa
Waktu kecil, mungkin kamu belajar kalau jadi anak yang penurut dan nggak pernah marah itu bikin orang tua senang dan nggak galak. Strategi ini "berhasil" menyelamatkan kamu waktu itu. Masalahnya, pas sudah kerja dan jadi dewasa, strategi jadi people pleaser ini malah bikin kamu burnout karena nggak berani bilang "nggak" ke bos yang kasih kerjaan di luar jam kantor.
Perilaku ini mirip kayak pake baju ukuran anak TK pas badan kamu udah seukuran orang dewasa. Nggak pas, sesak, dan malah bikin luka. Banyak dari perilaku toxic kita sekarang sebenarnya adalah strategi bertahan hidup yang sudah kadaluwarsa. Dulu itu berguna buat survive di rumah, sekarang itu justru jadi penghambat buat berkembang.
Bukan Salah Orang Tua Sepenuhnya, Tapi Tanggung Jawab Kita
Mungkin ada sebagian dari kita yang mulai merasa marah atau menyalahkan orang tua setelah tahu fakta-fakta ini. Wajar banget. Tapi perlu diingat, orang tua kita juga dulunya adalah anak-anak yang mungkin punya luka yang lebih parah tapi nggak punya akses ke informasi kesehatan mental kayak kita sekarang. Mereka cuma memberikan apa yang mereka punya.
Poin pentingnya bukan buat cari siapa yang salah, tapi buat sadar kalau rantai trauma ini harus diputus di kita. Memahami masa kecil itu bukan buat jadi alasan buat berkelakuan buruk, misalnya "Ya maklumin aja aku selingkuh, kan dulu aku kurang kasih sayang". Enggak gitu konsepnya, kawan. Justru dengan tahu akarnya, kita punya kekuatan buat menyembuhkannya.
Memulihkan Si "Inner Child"
Terus gimana cara benerinnya? Langkah pertama adalah awareness atau kesadaran. Coba deh mulai perhatiin pola-pola yang berulang dalam hidupmu. Kenapa kamu selalu narik orang-orang yang kasar? Kenapa kamu selalu merasa nggak cukup? Begitu polanya ketemu, coba peluk "anak kecil" di dalam dirimu itu. Bilang ke dia kalau sekarang dia sudah aman, dan dia nggak perlu lagi pakai cara-cara lama buat bertahan hidup.
Kadang kita butuh bantuan profesional kayak psikolog buat ngebongkar "gudang" masa lalu yang udah berdebu banget. Nggak usah malu, karena pergi ke psikolog itu bukan tanda kamu gila, tapi tanda kamu cukup berani buat menghadapi masa lalumu biar nggak ngerusak masa depanmu.
Kesimpulannya, pengalaman masa kecil itu memang fondasi, tapi fondasi itu bisa direnovasi. Kamu bukan sekadar produk dari masa lalumu. Kamu adalah arsitek dari masa depanmu sendiri. Jadi, yuk pelan-pelan kenalan lagi sama diri sendiri, maafin masa lalu, dan mulai bikin cerita baru yang lebih sehat.
Next News

Minyak Zaitun: Dari Rahasia Kecantikan Firaun hingga Tren Glowing di Media Sosial
in 7 hours

Mengapa Minuman Bersoda Membuat Kita Ingin Minum Lagi?
in 5 hours

Mengapa Kita Sering Haus Setelah Makan Makanan Asin?
in 5 hours

Apa Itu Kalori dan Mengapa Banyak Orang Membicarakannya?
6 hours ago

Selenium: Mineral yang Dibutuhkan Tubuh dalam Jumlah Kecil
in 5 hours

Mengapa Gusi Bisa Berdarah Saat Menyikat Gigi?
in 6 hours

Cara Membangun Pola Makan yang Lebih Seimbang
6 hours ago

Mengapa Berat Badan Bisa Naik Padahal Merasa Tidak Banyak Makan?
in 5 hours

Prakiraan Cuaca di Sumatera Utara Minggu 9 Agustus 2026: Mayoritas Hujan Ringa, Medan Berawan
in 3 hours

Cara Mengenali Batasan Diri dalam Hubungan Sosial
6 hours ago





