Kolak Manis yang Bikin Hati Hangat Saat Ramadan
RAU - Friday, 20 February 2026 | 04:45 PM


Manisnya Kolak: Lebih dari Sekadar Menu Buka Puasa, Ini adalah Pelukan dalam Mangkuk
Ramadan di Indonesia itu punya aromanya sendiri. Kalau kalian jalan keluar rumah sekitar jam empat atau lima sore, hidung kalian bakal disambut sama perpaduan aroma aspal yang masih panas kena sisa matahari, wangi gorengan yang baru diangkat dari wajan, dan satu aroma yang paling ikonis: wangi daun pandan yang direbus bareng gula merah. Ya, itulah aroma kolak yang sedang dipersiapkan untuk menyambut adzan Maghrib.
Kalau kita bicara soal takjil, pilihannya memang banyak banget. Ada es buah yang warnanya meriah kayak pasar malam, ada gorengan yang kriuknya bisa kedengeran sampai tetangga sebelah, atau martabak yang kejunya tumpah-tumpah. Tapi jujur deh, di antara semua hiruk-pikuk kuliner itu, kolak tetaplah pemenang tahta tertinggi. Dia bukan cuma sekadar makanan pencuci mulut, tapi sudah jadi semacam comfort food nasional yang kehadirannya seolah wajib hukumnya.
Filosofi di Balik Semangkuk Kehangatan
Pernah nggak sih kepikiran kenapa kolak itu rasanya bisa pas banget buat buka puasa? Secara sains, tubuh kita yang sudah seharian nggak kemasukan nutrisi memang butuh asupan gula cepat saji buat balikin energi. Tapi kolak menawarkan lebih dari sekadar glukosa. Ada rasa gurih dari santan yang menyeimbangkan rasa manis legit dari gula aren. Belum lagi tekstur ubi yang empuk atau pisang yang lumer di mulut. Kombinasi ini kayak sebuah simfoni yang main di lidah kita setelah seharian "puasa" dari segala rasa.
Banyak orang bilang kalau nama "kolak" itu berasal dari kata bahasa Arab, 'Khalaqa' yang artinya menciptakan, atau 'Khalik' yang berarti Sang Pencipta. Meski ini masih jadi perdebatan para ahli sejarah kuliner, tapi ada pesan moral yang cakep di sana. Bahwa saat kita menikmati manisnya kolak, kita diingatkan untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Ya, sedalam itu memang makna semangkuk kolak kalau kita mau sedikit kontemplatif di sela-sela mengunyah kolang-kaling.
Debat Klasik: Tim Pisang, Tim Ubi, atau Tim Semuanya?
Dunia per-kolak-an ini juga nggak lepas dari drama selera. Ada kubu yang garis keras harus pakai pisang kepok karena teksturnya yang nggak gampang hancur dan ada sedikit rasa asam-segar. Ada juga kubu pemuja ubi kuning atau ubi ungu yang lembutnya bukan main. Jangan lupa soal biji salak—yang sebenarnya bukan dari salak beneran tapi dari tepung tapioka—yang kenyal-kenyal bikin nagih.
Kalau saya pribadi sih, saya tim "semua ada". Semakin ramai isinya, semakin meriah dunia ini rasanya. Bayangin dalam satu suapan ada potongan pisang, ubi, kolang-kaling yang licin, terus disiram kuah cokelat pekat yang kental. Itu rasanya kayak semua masalah hidup di kantor atau drama di media sosial hilang seketika. Fix, kolak adalah mood booster paling ampuh yang pernah diciptakan manusia Indonesia.
Kolak dan Memori Masa Kecil
Satu hal yang bikin kolak terasa istimewa adalah faktor nostalgianya. Buat kalian yang sekarang mungkin lagi merantau di kota orang, atau yang sudah sibuk dengan urusan rumah tangga sendiri, kolak selalu punya cara buat narik kita kembali ke dapur Ibu. Ingat nggak dulu waktu kita masih kecil, kita sering banget bantuin Ibu motong-motong ubi (meskipun potongannya nggak rapi sama sekali) atau sekadar disuruh nungguin santan supaya nggak pecah?
Ada kehangatan yang nggak bisa dibeli di kafe-kafe mahal saat kita duduk bareng keluarga, nunggu adzan, sambil mandangin uap panas yang keluar dari panci kolak. Momen-momen sederhana kayak gitu yang bikin kolak nggak cuma soal rasa, tapi soal rasa memiliki. Bahkan sekarang, meski banyak brand minuman kekinian yang ngeluarin menu varian "kolak latte" atau "kolak boba", rasanya tetep beda. Ada yang kurang kalau nggak dimakan dari mangkuk ayam jago sambil dengerin suara tadarus dari pengeras suara masjid.
Fenomena "War Takjil" dan Inklusivitas Kolak
Belakangan ini media sosial lagi ramai soal fenomena "war takjil". Seru banget ngelihat gimana teman-teman non-Muslim juga semangat banget berburu takjil, bahkan sejak jam tiga sore sebelum teman-teman yang puasa turun ke jalan. Dan tebak apa yang sering habis duluan? Ya kolak! Ini membuktikan kalau kolak itu inklusif. Dia nggak mandang agama atau latar belakang sosial. Semua orang suka rasa manis, semua orang suka rasa gurih.
Kolak jadi jembatan sosial yang asyik banget. Sering kan kita lihat tetangga saling antar kolak? "Ini Bu, ada sedikit kolak buat buka," itu kalimat sakti yang bisa bikin hubungan antar tetangga yang tadinya dingin gara-gara jarang ketemu, jadi hangat lagi. Di sini kolak berfungsi sebagai alat diplomasi paling damai di muka bumi.
Kenapa Harus Tetap Ada Kolak di Meja Makanmu?
Mungkin ada yang bilang, "Duh, kolak kan kolesterol tinggi karena santannya," atau "Gulanya banyak banget, lho." Oke, secara kesehatan memang segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Tapi ya kali, cuma setahun sekali di bulan Ramadan kita nggak memanjakan diri sedikit? Kuncinya adalah moderasi. Makan secukupnya, nikmati setiap suapannya, dan syukuri momennya.
Di tengah gempuran tren makanan yang makin aneh-aneh dan cepat berganti, kolak adalah sebuah ketetapan. Dia adalah bukti kalau tradisi yang dirawat dengan cinta bakal selalu punya tempat di hati masyarakat. Jadi, sore ini, jangan lupa mampir ke lapak takjil langganan atau kalau ada waktu, coba bikin sendiri di rumah. Rasakan sendiri gimana perpaduan gula aren dan santan itu bekerja ajaib menghangatkan hati kalian yang mungkin seharian ini lagi lelah.
Karena pada akhirnya, Ramadan bukan cuma soal menahan lapar, tapi soal merayakan keberkahan dalam bentuk-bentuk yang paling sederhana. Dan bagi banyak orang di Indonesia, keberkahan itu bentuknya adalah semangkuk kolak manis yang legit. Selamat berbuka puasa, jangan lupa mulai dengan yang manis-manis, tapi yang nggak bikin janji manis palsu ya!
Next News

Di Mana Bayamnya? Menguak Rahasia di Balik Sayur Bening Pasien
4 hours ago

Mata Panda Kaum Lembur: Benarkah Eye Pad Solusi Cepat Atasi Kantung Mata?
5 hours ago

Rahasia Gurun Sahara: Eksportir Debu Terbesar ke Seluruh Dunia
5 hours ago

Chiropractic: Si Ahli "Kretek-Kretek" Tulang, Amankah?
17 hours ago

Seberapa Penting Donor Darah bagi Kesehatan?
17 hours ago

Vitamin Apa Saja yang Diperlukan Usia 40 Tahun ke Atas?
17 hours ago

Robotik Medis: Masa Depan Pelayanan Kesehatan di Indonesia
17 hours ago

Anak Jarang Main di Luar, Apa Dampaknya untuk Otak?
17 hours ago

Benarkah Diet Tinggi Protein Bisa Menurunkan Berat Badan?
17 hours ago

Telinga Berdenging Tiba-Tiba, Normal atau Bahaya?
17 hours ago




