Sabtu, 22 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Ketika Kakak dan Adik Sering Bertengkar, Apakah Itu Tanda Tidak Akur?

Laila - Saturday, 22 August 2026 | 12:00 PM

Background
Ketika Kakak dan Adik Sering Bertengkar, Apakah Itu Tanda Tidak Akur?

Kenapa Kakak-Adik Suka Banget Gelud? Apakah Itu Berarti Mereka Nggak Akur?

Bayangkan sebuah sore yang tenang. Kamu lagi asyik rebahan sambil scroll TikTok, lalu tiba-tiba dari ruang tengah terdengar teriakan melengking yang bisa bikin kaca jendela bergetar. Pas disamperin, ternyata masalahnya sepele banget: si adik nggak sengaja menduduki remot TV yang lagi dipakai si kakak, atau si kakak kedapatan mengambil sosis goreng jatah terakhir di piring adiknya. Perang dunia ketiga pun pecah di ruang tamu.

Pemandangan seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari di banyak rumah tangga di Indonesia. Pertengkaran antara kakak dan adik, atau yang kerennya disebut sibling rivalry, sering kali bikin orang tua stres dan tetangga elus dada. Banyak yang lantas bertanya-tanya, apakah sering berantem itu tandanya mereka nggak akur? Apakah hubungan darah ini bakal berujung jadi musuh bebuyutan sampai dewasa? Yuk, kita bedah pelan-pelan sambil ngopi.

Dinamika Tom and Jerry di Dunia Nyata

Kalau kita melihat ke belakang, hubungan kakak-adik itu sebenarnya unik banget. Ibarat kartun Tom and Jerry, mereka bisa kejar-kejaran pakai sapu menit ini, tapi lima menit kemudian bisa duduk bareng nonton kartun sambil bagi-bagi kerupuk. Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi. Mengapa? Karena rumah adalah tempat paling aman bagi seseorang untuk menunjukkan emosi aslinya, termasuk emosi negatif.

Sering kali, kakak dan adik berantem bukan karena mereka saling benci. Justru karena mereka merasa sangat dekat dan nyaman satu sama lain. Kamu nggak mungkin kan tiba-tiba teriak "Woi, balikin pulpen gue!" ke teman kantor yang baru kenal? Tapi ke adik sendiri? Wah, jangankan teriak, mungkin sudah pakai urusan tarik-tarikan baju. Kedekatan inilah yang justru memicu gesekan. Semakin dekat jarak dua benda, semakin besar peluang terjadinya gesekan, begitu hukum fisikanya, kan?

Latihan Mental dan Diplomasi di Level Dasar

Percaya atau tidak, pertengkaran kecil-kecilan antara kakak dan adik itu sebenarnya adalah "laboratorium sosial" pertama kita. Di sinilah kita belajar bagaimana caranya bernegosiasi, mempertahankan hak, sampai belajar seni meminta maaf tanpa harus bilang kata "maaf" secara formal. Pernah nggak kamu habis berantem hebat sama kakakmu, terus satu jam kemudian dia nanya, "Eh, mau jajan nggak? Gue mau ke depan nih." Nah, itu adalah bahasa kalbu untuk bilang "Gue minta maaf, yuk baikan."



Lewat konflik-konflik receh ini, seorang anak belajar untuk memahami batasan orang lain. Si kakak belajar untuk tidak terlalu dominan, sementara si adik belajar untuk berani bicara. Kalau hidup isinya cuma setuju-setuju saja, mungkin nanti pas terjun ke dunia kerja kita bakal kaget kalau ketemu orang yang beda pendapat. Jadi, anggap saja teriakan-teriakan di ruang tengah itu adalah latihan debat sebelum masuk ke dunia nyata yang lebih keras.

Aturan Tak Tertulis: "Cuma Gue yang Boleh Ganggu Dia"

Satu hal yang paling menarik dari hubungan kakak-adik yang sering berantem adalah solidaritas mereka yang tersembunyi. Kamu mungkin tiap hari mengata-ngatai adikmu "bau matahari" atau "si tukang ngadu". Tapi coba bayangkan kalau ada orang lain yang berani menghina adikmu di sekolah. Wah, insting protektif seorang kakak pasti langsung menyala. Kamu bakal jadi orang pertama yang pasang badan buat dia.

Inilah bukti kalau berantem bukan berarti nggak akur. Di balik caci maki soal baju yang dipinjam tanpa izin, ada rasa sayang yang sangat dalam namun sering kali gengsi untuk diungkapkan secara manis. Bagi banyak orang Indonesia, menunjukkan rasa sayang dengan cara mem-bully saudara sendiri itu adalah love language yang paling umum. Jadi, jangan salah paham dulu kalau melihat mereka nggak pernah akur di permukaan.

Kapan Pertengkaran Ini Menjadi Lampu Kuning?

Meskipun kita bilang berantem itu normal, kita juga nggak boleh tutup mata kalau intensitasnya sudah berlebihan. Ada garis tipis antara "rivalitas sehat" dan "perundungan (bullying)". Kalau pertengkaran sudah mengarah pada kekerasan fisik yang membahayakan, serangan verbal yang merusak kepercayaan diri secara permanen, atau jika salah satu pihak merasa sangat tertekan dan takut, ini baru masalah serius.

Kuncinya ada pada penyelesaian konflik. Kalau setelah berantem mereka bisa kembali berinteraksi normal, berarti itu cuma bumbu kehidupan. Tapi kalau ada dendam yang dipendam sampai berhari-hari atau salah satu pihak selalu menjadi korban, orang tua atau lingkungan sekitar perlu turun tangan. Jangan sampai "nggak akur" yang awalnya cuma candaan malah berubah jadi trauma masa kecil yang dibawa sampai tua.



Masa Depan: Dari Lawan Jadi Kawan

Lucunya, banyak survei dan pengalaman pribadi orang-orang menunjukkan kalau kakak-adik yang hobi berantem waktu kecil justru sering kali punya hubungan yang paling solid pas sudah dewasa. Saat mereka sudah punya kehidupan masing-masing, memori soal rebutan remot TV atau rebutan paha ayam itu bakal jadi bahan tertawaan yang paling epik di acara kumpul keluarga.

Mereka bakal sadar kalau di dunia ini, jarang ada orang yang benar-benar tahu "aib" dan sifat asli kita selain saudara sendiri. Jadi, buat kamu yang sekarang lagi pusing dengerin adikmu yang rewel atau kakakmu yang otoriter, tenang saja. Itu bukan tanda kalian nggak akur. Itu cuma tanda kalau kalian sedang membangun sejarah panjang yang suatu saat nanti bakal dirindukan.

Kesimpulannya, frekuensi pertengkaran bukan indikator utama keretakan hubungan. Yang paling penting adalah bagaimana kalian tetap ada buat satu sama lain saat dunia lagi nggak baik-baik saja. Berantem boleh, tapi jangan sampai memutus tali persaudaraan hanya karena masalah sepele. Lagipula, hidup bakal sepi banget kalau nggak ada kakak atau adik yang bisa diajak "gelud" sedikit, bukan?

Tags