Ketika Jumlah Like Menjadi Ukuran Kebahagiaan
Laila - Monday, 20 July 2026 | 09:28 PM


Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang menggunakannya untuk berbagi foto, cerita, pencapaian, hingga berbagai aktivitas yang dilakukan. Setelah sebuah unggahan dibagikan, perhatian kemudian sering tertuju pada jumlah like dan komentar yang muncul.
Bagi sebagian orang, mendapatkan banyak like dapat memberikan rasa senang. Ada perasaan bahwa unggahan tersebut disukai, dihargai, atau mendapat perhatian dari orang lain. Namun, ketika jumlah like mulai dijadikan ukuran utama untuk menilai kebahagiaan dan harga diri, media sosial dapat memberikan tekanan tersendiri.
Seseorang mungkin merasa kecewa ketika unggahannya tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan. Padahal, sedikitnya jumlah like tidak selalu berarti konten tersebut tidak menarik atau orang lain tidak menyukainya. Algoritma media sosial, waktu unggahan, dan kebiasaan pengguna dapat memengaruhi seberapa banyak orang melihat sebuah postingan.
Masalah dapat muncul ketika seseorang mulai membandingkan dirinya dengan orang lain berdasarkan angka di media sosial. Melihat teman atau orang lain mendapatkan ratusan bahkan ribuan like dapat membuat seseorang merasa kurang populer atau kurang dihargai. Padahal, kehidupan yang terlihat di media sosial hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Kebiasaan memeriksa jumlah like berulang kali juga dapat membuat seseorang semakin bergantung pada respons dari luar dirinya. Ketika mendapatkan banyak perhatian, suasana hati menjadi lebih baik. Sebaliknya, ketika respons yang diterima sedikit, rasa percaya diri ikut menurun. Siklus seperti ini dapat membuat kebahagiaan menjadi sangat bergantung pada sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali.
Tidak jarang pula seseorang akhirnya membuat unggahan hanya demi mendapatkan respons. Pilihan foto, tempat yang dikunjungi, atau aktivitas yang dilakukan bisa berubah menjadi sesuatu yang dipikirkan berdasarkan kemungkinan mendapatkan banyak like, bukan karena benar-benar memberikan kebahagiaan bagi diri sendiri.
Padahal, kebahagiaan memiliki banyak sumber yang tidak dapat diukur dengan angka di layar. Menghabiskan waktu bersama keluarga, berbincang dengan teman, menikmati hobi, beristirahat dengan cukup, atau berhasil menyelesaikan sesuatu yang penting bagi diri sendiri juga merupakan bentuk kepuasan yang tidak selalu terlihat di media sosial.
Menggunakan media sosial secara lebih sehat dapat dimulai dengan mengubah cara pandang terhadap angka-angka tersebut. Like dan komentar sebaiknya dianggap sebagai bentuk interaksi tambahan, bukan sebagai penentu nilai diri. Seseorang tetap memiliki nilai dan pencapaian meskipun sebuah unggahan tidak mendapatkan banyak respons.
Orang tua juga dapat membantu anak dan remaja memahami hal ini sejak dini. Mereka perlu mengetahui bahwa popularitas di media sosial bukan ukuran keberhasilan seseorang. Kemampuan bersosialisasi, menghargai diri sendiri, dan membangun hubungan yang sehat jauh lebih penting daripada jumlah pengikut atau like.
Sesekali mengambil jarak dari media sosial juga dapat membantu. Mengurangi kebiasaan memeriksa notifikasi dan memberikan waktu untuk melakukan kegiatan di dunia nyata dapat membuat seseorang lebih fokus pada pengalaman yang sedang dijalani.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan cerminan utuh tentang siapa seseorang. Jumlah like mungkin memberikan kesenangan sesaat, tetapi kebahagiaan yang lebih bermakna biasanya berasal dari hubungan, pengalaman, dan rasa puas terhadap kehidupan yang dijalani.
Karena itu, tidak ada salahnya menikmati respons positif di media sosial. Namun, penting untuk mengingat bahwa jumlah like hanyalah angka, bukan ukuran nilai diri dan bukan pula penentu kebahagiaan seseorang
Next News

Foto Anak di Internet, Hal yang Sebaiknya Dipertimbangkan Orang Tua
in 6 hours

Kebiasaan Menjemur Kasur dan Tradisi Rumah Tangga yang Bertahan hingga Kini
in 6 hours

Cara Membiasakan Anak Membantu Pekerjaan Rumah Tanpa Paksaan
in 6 hours

Cara Mengajarkan Anak Meminta Maaf dengan Tulus
6 hours ago

Rumah sebagai Tempat Pertama Anak Belajar tentang Tanggung Jawab
in 6 hours

Barang Sekali Pakai yang Paling Sering Kita Gunakan Tanpa Sadar
in 6 hours

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Kita Berjalan di Bawah Sinar Matahari?
in 6 hours

Kenapa Bau Tanah Setelah Hujan Begitu Khas?
in 5 hours

Dari Kamera Ponsel hingga Kamera Analog, Mengapa Foto Jadul Kembali Diminati?
in 5 hours

Kebiasaan Mengoleksi Barang Kecil dan Alasan di Balik Kesenangan Sederhana
in 5 hours





