Kenapa Laki-laki Identik dengan Biru dan Perempuan Pink?
Liaa - Monday, 25 May 2026 | 12:00 PM


Kenapa Sih Laki-laki Identik Biru dan Perempuan Pink? Ternyata Sejarahnya Plot Twist Banget!
Pernah nggak sih kamu lagi jalan-jalan di mal, terus mampir ke bagian perlengkapan bayi atau mainan anak? Pasti ada satu pemandangan yang sangat kontras: satu sisi isinya serba biru, dari mulai mobil-mobilan sampai robot, dan di sisi lain semuanya mendadak jadi serba pink, dari boneka Barbie sampai pernak-pernik masak-masakan. Seolah-olah dunia ini sudah dikotak-kotakkan sejak kita masih dalam kandungan.
Aturan tak tertulis ini kayaknya sudah mendarah daging banget. Kalau ada teman yang baru melahirkan bayi laki-laki, kita otomatis cari kado baju warna biru atau dongker. Sebaliknya, kalau bayinya perempuan, mata kita langsung terprogram mencari sesuatu yang berwarna merah muda atau pastel yang lucu-lucu. Tapi, pernah nggak kamu bertanya-tanya, siapa sih yang pertama kali bikin aturan "biru buat cowok, pink buat cewek" ini? Apakah ini hukum alam yang turun dari langit?
Jawabannya: Sama sekali bukan. Bahkan, kalau kita tarik mundur sejarah sekitar seratus tahun yang lalu, dunia ini bakal terasa sangat asing buat kita sekarang. Karena ternyata, dulu situasinya justru terbalik. Iya, kamu nggak salah baca. Dulu, pink itu warnanya cowok banget!
Zaman Dulu, Semua Bayi Pakai Gaun Putih
Mari kita terbang ke abad ke-19. Di zaman itu, orang tua nggak seribet sekarang dalam urusan warna baju anak. Mau anaknya laki-laki atau perempuan, mereka biasanya dipakaikan baju yang sama: gaun putih panjang. Kenapa? Alasannya sangat pragmatis dan jauh dari urusan gender-genderan. Pertama, anak kecil itu hobinya ngompol dan bikin kotor baju. Baju putih itu paling gampang dibersihkan pakai pemutih tanpa takut warnanya luntur. Kedua, gaun itu praktis banget kalau mau ganti popok yang saat itu masih pakai kain ribet.
Jadi, kalau kamu melihat foto-foto lama dari tahun 1800-an, jangan kaget kalau melihat anak laki-laki umur tiga tahun pakai rok atau gaun. Itu bukan berarti orang tuanya pengen anaknya jadi feminin, tapi ya memang itu standar fashion anak-anak masa itu. Simpel, ekonomis, dan nggak pusing.
Plot Twist: Pink Itu Laki-laki, Biru Itu Perempuan
Nah, baru pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1918, mulailah muncul tren membedakan warna berdasarkan jenis kelamin. Namun, menurut artikel dari jurnal perdagangan saat itu, aturannya justru kebalikan dari sekarang. Pink dianggap sebagai warna yang lebih kuat dan tegas, makanya lebih cocok buat laki-laki. Kenapa begitu? Karena pink itu "adiknya" warna merah yang identik dengan gairah, darah, dan peperangan. Pokoknya macho abis lah pada masanya.
Sementara itu, warna biru justru dianggap sebagai warna yang lembut, cantik, dan kalem, sehingga lebih pantas buat anak perempuan. Dalam tradisi seni Eropa, biru juga sering diasosiasikan dengan Bunda Maria, yang melambangkan kesucian dan kelembutan. Jadi, kalau kamu hidup di tahun 1920-an dan pakai baju biru, orang-orang bakal menganggap kamu sedang menunjukkan sisi feminin kamu. Lucu banget kan kalau dipikir-pikir sekarang?
Tangan Dingin Kapitalisme dan Strategi Marketing
Lalu, kapan semuanya berubah jadi "terbalik" seperti sekarang? Pergeseran ini mulai terjadi secara masif setelah Perang Dunia II, tepatnya sekitar tahun 1940-an. Para pemilik pabrik pakaian dan toko besar di Amerika Serikat mulai sadar kalau mereka bisa dapet untung lebih gede kalau mereka menetapkan satu warna spesifik untuk satu gender.
Bayangkan begini: kalau semua anak pakai warna netral atau baju lungsuran dari kakaknya, orang tua nggak bakal belanja banyak. Tapi kalau si kakak yang laki-laki bajunya serba biru, terus adiknya yang lahir perempuan nggak boleh pakai baju biru itu karena "nggak sesuai gender", otomatis orang tua harus beli baju baru warna pink. Taktik marketing ini sukses besar! Kita sebagai konsumen pun perlahan-lahan tercuci otaknya untuk percaya kalau ini adalah aturan baku yang nggak boleh dilanggar.
Masuk ke era 1980-an, fenomena ini makin parah gara-gara teknologi USG. Karena orang tua sudah bisa tahu jenis kelamin bayinya sejak dalam perut, mereka jadi bisa "menghias" kamar dan beli perlengkapan bayi yang spesifik gender jauh-jauh hari sebelum si bayi lahir. Industri fashion dan mainan langsung menyambar peluang ini dengan bikin kampanye besar-besaran yang memisahkan dunia anak laki-laki dan perempuan secara tajam.
Apakah Warna Punya Gender?
Sebenarnya, kalau kita mau jujur-jujuran, warna itu ya cuma spektrum cahaya yang ditangkap mata kita. Nggak ada kromosom di dalam warna pink, dan nggak ada hormon testosteron di dalam warna biru. Semuanya adalah konstruksi sosial—alias sesuatu yang kita sepakati bersama karena kebiasaan atau tekanan lingkungan.
Sekarang pun tren mulai bergeser lagi. Banyak brand pakaian anak yang mulai mengusung konsep "gender-neutral" atau warna-warna bumi (earth tone) yang bisa dipakai siapa saja. Laki-laki dewasa pakai kemeja pink sekarang malah sering dibilang keren dan berani, atau istilah kerennya "real men wear pink". Sebaliknya, perempuan pakai biru dongker atau hitam juga sudah biasa banget.
Pada akhirnya, masalah warna ini sebenarnya bukan tentang benar atau salah. Masalahnya adalah ketika kita membatasi pilihan seseorang hanya karena label warna tersebut. Kalau ada anak laki-laki yang suka warna pink karena menurut dia warnanya cerah dan bikin semangat, ya nggak masalah. Begitu juga kalau ada perempuan yang benci pink dan lebih suka biru karena terasa tenang.
Dunia ini sudah cukup rumit, nggak usah ditambah rumit lagi dengan memperdebatkan warna apa yang boleh dipakai siapa. Sejarah sudah membuktikan kalau standar "pantas" atau "nggak pantas" itu bisa berubah 180 derajat dalam waktu beberapa dekade saja. Jadi, pakailah warna yang bikin kamu nyaman dan bahagia, entah itu biru, pink, kuning langsat, atau bahkan hitam legam sekalian. Karena pada akhirnya, kepribadianmu lah yang menentukan siapa kamu, bukan kode warna di label bajumu.
Jadi, gimana? Masih mau debat soal kado bayi warna apa? Yang penting sih isinya bermanfaat, bukan warnanya yang bikin pusing kepala, kan?
Next News

Makan Telur Setiap Hari, Aman atau Berisiko? Ini Penjelasannya
in 7 hours

Benarkah Bawang Putih Bisa Hilangkan Panu? Ini Fakta Medisnya
in 7 hours

Jangan Asal Minum! Kelebihan Vitamin Ternyata Bisa Bahayakan Tubuh
in 7 hours

Gulai Nangka Kenikmatan Hakiki yang Sering Dituduh "Banyak Angin"
in 6 hours

Pesona Dilan yang Bikin Penonton Susah Move On
in 6 hours

Kenapa Suka Warna Pink? Ini Makna Psikologis di Baliknya
in 5 hours

Waspada Bahaya Konsumsi Protein Hewani Berlebih Bagi Tubuh
in 5 hours

Mengapa tato bisa nempel di kulit kita secara permanen?
in 5 hours

Mengapa air kemasan lebih mahal daripada air galon grosiran padahal kan sama-sama air?
in 5 hours

Waktu krecek jari-jari tangan itu sebenarnya suara tulang kah?
in 5 hours





