Sabtu, 11 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Kita Nggak Bisa Hidup Tanpa Musik Saat di Perjalanan?

Liaa - Friday, 20 March 2026 | 11:00 AM

Background
Kenapa Kita Nggak Bisa Hidup Tanpa Musik Saat di Perjalanan?

Seni Menjadi Pemeran Utama: Kenapa Kita Nggak Bisa Hidup Tanpa Musik Saat di Perjalanan

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau hidup ini tiba-tiba berubah jadi potongan adegan film indie yang estetik cuma gara-gara satu lagu? Bayangkan skenarionya begini: hujan rintik-rintik di luar jendela bus, lampu-lampu jalanan mulai nyala satu per satu, dan di telinga kalian lagi muter lagunya Nadin Amizah atau mungkin Arctic Monkeys. Tiba-tiba, kemacetan Jakarta yang biasanya bikin naik darah berubah jadi momen kontemplatif yang sangat mendalam. Di saat itulah, kita semua resmi mengidap apa yang sering disebut netizen sebagai main character syndrome.

Dengerin musik dalam perjalanan itu bukan cuma soal ngisi kesunyian. Ini adalah ritual. Begitu kita pakai earbuds atau headphone, dunia luar seakan-akan di-mute. Kita bikin gelembung privasi di tengah sesaknya gerbong KRL atau hiruk-pikuk TransJakarta. Musik adalah benteng terakhir pertahanan mental kita sebelum sampai di kantor yang penuh deadline atau kampus yang penuh tugas.

Playlist: Kurasi Emosi di Atas Aspal

Memilih lagu buat di jalan itu ada seninya. Nggak bisa sembarangan. Playlist perjalanan adalah cerminan dari kondisi psikologis kita hari itu. Kalau lagi semangat mau ngejar target, mungkin pilihannya lagu-lagu rock atau hip-hop yang beat-nya bikin jantung ikut balapan. Tapi kalau lagi Senin pagi dan nyawa belum kumpul sepenuhnya, biasanya playlist yang dipilih adalah lagu-lagu lo-fi atau indie-pop yang menenangkan, supaya transisi dari bantal ke meja kerja nggak terlalu brutal.

Masalahnya, algoritma Spotify atau YouTube Music kadang lebih tahu perasaan kita dibanding diri kita sendiri. Pas lagi melamun natap jendela kereta, tiba-tiba muncul lagu galau tahun 2000-an. Akhirnya, bukannya fokus mikirin kerjaan, kita malah kejebak memori masa lalu bareng mantan. Efek samping dengerin musik di jalan memang sekuat itu; dia bisa jadi mesin waktu yang nggak kenal kompromi.

Ada pengamatan menarik soal ini. Coba perhatikan orang-orang di sekitar kalian saat di angkutan umum. Yang pakai headphone gede biasanya adalah tipe yang bener-bener "nggak mau diganggu". Mereka menciptakan zona isolasi total. Sementara yang pakai satu earphone aja biasanya masih punya sisa-sisa kewaspadaan, mungkin takut kebablasan stasiun atau takut dipanggil abang ojeknya. Musik di sini berfungsi sebagai filter kebisingan (noise cancelling) terhadap realita yang kadang terlalu berisik buat dihadapi sendirian.



Kenapa Kita Butuh Soundtrack?

Secara sains—oke, nggak usah terlalu serius—musik memang punya kemampuan buat ngerangsang dopamin. Di tengah kemacetan yang bikin stres, dopamin ini adalah penyelamat. Musik bikin waktu terasa berjalan lebih cepat. Perjalanan dua jam dari Bekasi ke Jakarta Pusat nggak bakal kerasa terlalu menyiksa kalau ditemani album favorit dari awal sampai akhir. Tanpa musik, kita dipaksa buat dengerin suara mesin, klakson, atau obrolan orang asing di sebelah yang mungkin lagi bahas cicilan pinjol. Duh, mending dengerin playlist "Senja di Jalan" kan?

Selain itu, musik di perjalanan memberikan kita kendali. Di dunia yang makin nggak bisa dikontrol ini, setidaknya kita bisa kontrol apa yang masuk ke telinga kita. Kita bisa milih mau ngerasa sedih, mau ngerasa keren, atau mau ngerasa religius (kalau lagi muter lagu religi pas pulang telat). Ini adalah bentuk healing tipis-tipis yang paling murah dan efisien.

Etika dan Bahaya Lupa Daratan

Tapi, ada tapinya nih. Kadang saking asyiknya dengerin lagu sambil ngebayangin jadi bintang video klip, kita jadi nggak peka sama sekitar. Ada yang saking hayatinya sampai ikut nyanyi kencang-kencang di dalam angkot, padahal suaranya lebih mirip rem blong. Atau yang paling bahaya: jalan kaki sambil pakai noise cancelling aktif sampai nggak denger ada bunyi klakson motor di belakang. Tetap ingat, kita hidup di dunia nyata, bukan di Spotify Premium.

Jangan sampai juga kita jadi "polisi musik" yang ngintipin layar HP orang sebelah terus nge-judge seleranya dalam hati. "Ih, masa hari gini masih dengerin itu?" Please, biarkan semua orang menikmati pelariannya masing-masing. Di jalan raya yang keras ini, setiap orang berhak punya soundtrack-nya sendiri buat bertahan hidup.

Momen Magis yang Sederhana

Pada akhirnya, dengerin musik dalam perjalanan adalah tentang menciptakan momen magis di tengah rutinitas yang membosankan. Ada kepuasan tersendiri saat beat lagu yang kita dengerin pas banget sama ritme langkah kaki kita, atau saat lirik lagu yang diputar seolah-olah lagi ngomongin situasi hidup kita saat itu juga. Itu adalah sinkronisitas yang bikin kita ngerasa kalau hidup ini, meskipun capek, sebenarnya punya ritme yang indah.



Jadi, buat kalian yang besok pagi harus berjuang lagi menembus kemacetan atau berdesakan di transportasi umum, pastikan baterai HP penuh dan earphone sudah siap di tas. Siapkan playlist terbaik, tatap jendela dengan tatapan kosong yang paling puitis, dan nikmati peran kalian sebagai pemeran utama dalam film kehidupan masing-masing. Karena tanpa musik, perjalanan hanyalah perpindahan titik A ke titik B, tapi dengan musik, perjalanan adalah sebuah cerita.

Selamat menikmati perjalanan, dan jangan lupa recharge powerbank-nya, ya!